Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu.
Dian Sastrowardoyo

Cerita Bersambung: An Instagram Wedding (6)

author
Ken Terate
Rabu, 13 Februari 2019 | 19:00 WIB
KANYA.ID |

Episode 6

 

“MIR, hai…”

“Ya…”

“Emmm…”

“Ada apa, Ver?”

Kenapa lagi si Vera  ini? Tadi pagi Vera menyapa di WA. Setelah ia balas, Vera justru tidak merespons, meski pesannya terbaca. Baru siangnya Vera nongol lagi.

“Mir, gue butuh pertolongan lo, nih. Moga-moga lo bisa nolong ya.”

“Pertolongan apa?”

Ada apa dengan Vera? Di antara mereka bertiga, Veralah yang tak punya masalah. Zaza yang serba sempurna itu pun kadang mengeluhkan anak-anaknya atau sekolah anak-anaknya atau asisten rumah tangganya atau mertuanya. Zaza juga sulit diajak ketemuan. Mira menyimpulkan Zaza pasti jungkir balik mengurus keluarganya, menghadiri acara-acara penting keluarga dan bisnis suaminya.

“Mmm, lo jangan marah ya.”

“Lah memangnya ada apa, sih?” Sok misterius banget ih.

“Gue butuh duit, nih. Nggak banyak, kok. Papa gue lagi sakit. Gue ada duit dari job gue, tapi belum dibayar. Baru cair minggu depan.”

“Ha, sakit apa Papa lo? Di sini?”

“Nggak. Di Palembang, kok. Lagi diurus kakak-kakak gue. Jantung, Mir. Dulu pernah juga. Tetapi kali ini harus masuk ICCU. Ada asuransi, sih, tetapi sistem reimburse gitu.”

“Oh.”

“Gue nggak butuh banyak, kok. Cuma 10 aja buat DP doang. Ntar diganti juga sama asuransi ini.”

Apa? Sepuluh juta? Itu uang yang gue alokasikan buat souvenir!

“Rumah sakit mana, tuh? Kok kejem banget pakai DP segala.”

“Iya emang, aduh ribet bangetlah pokoknya. Lo bisa bantu, kan? Kalau lo nggak percaya lo bisa cek, kok.”

“Gue percaya dan gue ikut bersimpati. Semoga Papa lo lekas sembuh, tetapi maaf ya gue nggak bisa…” Mira berhenti menulis. Ia punya uang itu. Tentu saja ia punya uang itu. Lima puluh juta dari bank akan cair besok dan di tabungannya ia punya barang tujuh puluh jutaan.

Tapi bagaimana bila papa Vera sakit parah atau malah meninggal?

Tapi sepuluh juta itu banyak dan ia butuh setiap sen uang saat ini.

Tapi Vera sahabatnya.

Tapi Vera pasti ngerti dong, saat ini ia lagi butuh banyak uang untuk pernikahannya. 

Tapi Vera berjanji akan mengembalikan uang itu secepatnya. Minggu depan. Aku toh belum akan membutuhkan uang itu hingga sebulan dua bulan lagi.

“Tapi beneran ya Ver uangnya kembali minggu depan. Aku udah harus kasih DP buat WO nih.”

“Ya ampun, Mir, kapan sih gue bohong?”

Beberapa kali sebenarnya. Vera paling plin plan di antara mereka bertiga. Dia paling sering datang terlambat. Dia punya utang kecil-kecil yang oleh Mira dan Zaza ‘dilupakan’. Secangkir kopi atau sebatang lipstick. “Bayarin dulu, besok gue ganti. Gue nggak bawa uang cash, nih.” Tapi tak pernah diganti.

“Oke deh. Ntar gue transfer.”

“You’re the best, Mir! Papa dan keluarga gue berterima kasih. Umm, Tuhan yang bales, yak.”

“Gue nggak butuh balesan Tuhan, kok. Butuh lo kembaliin aja secepatnya hehe….” Mira menghapusnya.

“Sama-sama, Ver. Semoga papamu lekas pulih.”

 

Edan juga, pikir Mira setelah ia mentransfer uang itu. Ia sedang butuh duit tetapi malah meminjamkan duit ke orang lain. Ah, hanya seminggu. Mira menelan Panadol untuk mengusir pusingnya. Jam dua siang. Baru jam dua? Apakah entah bagaimana jam di laptopnya rusak? Ugh, segala macam urusan ini benar-benar membuat konsentrasinya kacau. Setumpuk laporan yang harus ia audit tak tersentuh dari tadi. Bila begini terus, ia bakal terpaksa lembur.

Yah, mungkin seharusnya ia tak perlu terlalu memikirkannya. Papa bilang akan membiayai pestanya. Masalahnya Mira tak tega membebani orangtuanya. Setahun lagi Papa pensiun – tambah satu lagi alasan kuat untuk membuat pesta yang meriah — jadi kalau ada uang, Papa harus menyimpannya buat bekal pensiun. Mira juga tahu papanya tak punya uang sebanyak itu. Benar, ia hanya anak satu-satunya, tetapi papa masih punya kewajiban lain. Sejak dulu papa punya banyak kewajiban membiayai adik-adiknya, lalu ponakan-ponakannya. Rumah mereka di pinggiran Jakarta tumbuh sebata demi sebata dan akhirnya menjadi cukup layak. Ini pun harus direnovasi untuk pernikahan Mira agar pantas untuk menerima tamu. Mobil mereka baru berganti satu kali. Mobil pertama mereka Toyota Corolla seken – yang dengan tolol pernah ia tabrakkan ke tiang listrik saat mahasiswa —, diganti dengan Ayla. Itu saja.

Sebenarnya orangtua Mira ingin Mira dan Rendy tinggal di rumah itu setelah menikah, tetapi Rendy menolak mentah-mentah. Alasan pertama rumah itu terlalu jauh dari tempat kerja. Alasan kedua – ini yang lebih kuat— Rendy ingin mandiri. Dengan kata lain, Rendy tak mau tinggal bersama mertua. Padahal kalau dia mau, mereka bisa lebih hemat. Tak perlu beli perabotan. Tak perlu sewa apartemen. Ada masalah transportasi, tetapi pulang pergi berdua toh tetap hemat. Mereka juga bisa naik KRL.

“Coba pahami dari sisi Rendy, Mir,” kata Zaza membalas curhatan Mira. Zaza selalu enak diajak diskusi. Ia tak pernah menghakimi. Selain itu dijamin nggak bocor ke mana-mana. Curhatan teman diperlakukan seperti curhatan klien. Rahasia.

“Tentu tak mudah tinggal bersama ‘orang asing’. Lagipula meski ortumu asyik, Rendy pasti tetap merasa nggak bebas. Rumah kalian pasti punya aturan dan irama, yang belum tentu cocok dengan kebiasaan Rendy.”

Hm, benar juga. Aduuuh, Mira mengutuk diri sendiri. Ayo fokus, kerjakan laporan! Baru sepuluh menit Mira bekerja, handphonenya berbunyi. Dari Rendy. Ada apa? Rendy bukan tipe romantis yang menelepon hanya untuk mengatakan I love you. Tidak seperti Faisal suami Zaza.

“Hai, Ren.”

“Astaga, Mir, kamu belum batalin foto prewed-nya?”

“Aku pindahin ke Jogja, Ren. Biar lebih murah. Sehari juga cukup. Maaf belum bilang, tetapi…”

Bagaimana Rendy bisa tahu? Ia belum memberi tahunya, masih menunggu saat yang tepat.

“Fotografer meneleponku dan aku kayak orang bodoh karena nggak tahu apa-apa soal itu!”

Kenapa fotografer itu bisa menelepon Rendy? Apakah entah bagaimana, di saat-saat yang paling ribet dalam hidupnya, aku memberikan nomor Rendy kepada si fotografer?

“Mir, apa aku kurang jelas ngomong? Aku pikir kita nggak perlu prewed segala.”

“Tapi nanti… nanti… apa yang mau dipajang di ruang resepsi?”

“Gambar Garuda Pancasila dan foto presiden! Astaga, kita punya banyak stok foto yang bagus. Pilih saja. Di IG-mu banyak sekali! What’s wrong with you. Tanya papa mamamu, apa mereka majang foto pas resepsi? Nggak. Mereka majang kelapa muda dan pisang setandan! Dan mereka baik-baik saja!”

“Ren, kamu kenapa, sih? Kenapa sih kamu nggak suka prewed?”

“Aku bukannya nggak suka. Aku hanya merasa itu pemborosan.”

“Yah, aku mindahin lokasi prewed ke Jogja biar lebih hemat.”

“Nanggung amat, sih? Kita bisa prewed di studio atau di museum Fatahillah. Nggak perlu ngejar gengsi.”

“Tapi...” Tapi ini momen sekali seumur hidup. Tapi pasti beda dong auranya kalau prewednya di tempat-tempat eksotis dan mereka bisa sekalian jalan-jalan. Tapi bagaimana komentar Vera? Bagaimana dengan komen-komen di IG? Yah, nggak akan ada yang membully, tapi nggak bakal ada yang tercengang.

“Mir, yang penting itu kita dapat apartemen bulan depan. Aku udah bilang mau cabut dari kontrakan. Yang penting kita punya lemari dan tempat tidur. Kita fokus pada yang penting-penting aja.”

Astaga, kenapa Rendy ngajak ribut, sih! Mira bergegas bangkit meninggalkan mejanya. “Oke, kalau begitu kamu saja yang mikir menu katering, ngurusin cincin, pesan bunga, dan ha, jangan lupa cari mas kawin! Kemas yang bagus!”

Teman-teman kerja Mira saling menyikut dan melirik saat melihat melihatnya berderap ke luar dengan raut tegang. Salah seorang bahkan berhenti untuk bertanya, “Hei, ada apa, Mir?” Tapi Mira mengibaskan tangan dan terus berjalan. Ia dorong pintu kaca dengan kasar, setengah berlari menyusuri lorong. Ia butuh udara segar! Dan tempat menangis yang layak. 

“Plis, kamu nggak perlu salah paham gitu.”

“Ren, kenapa sih kamu perhitungan banget?”

“Bukan aku yang perhitungan. Kamu yang ribet!”

“Aku ribet?” Suara Mira menggema di lorong. Ia berbelok menuju tangga sambil terus menempelkan handphone ke telinga. “Itu karena aku mengurusi pernikahan kita! Nggak kayak kamu yang ongkang-ongkang dan main kritik pada tiap keputusanku. Enak-enak aja main game sementara aku pontang-panting cari kain. Jawab aku, Ren, pernikahan ini penting nggak sih buat lo?”

Mira merasakan napasnya sesak, matanya memanas, dan tanpa bisa ditahan air matanya tumpah ruah sebelum ia mencapai anak tangga terakhir.

***

 

“Cik, gue udah transfer.” Vera mengetik. Send.

“Cuma segitu? Lo salah pencet atau pikun?”

“Dua bulan dulu, Cik. Secepatnya gue transfer kekurangannya.”

“Awas kalau nggak.”

Huh, Vera memaki dalam hati. Yah, dia bisa saja melunasi tunggakan tiga bulan dengan uang pinjaman dari Mira, tetapi ia sengaja tak membayar penuh karena ia masih butuh uang untuk.. yah jelas lah, semua orang butuh uang, kan?  Kenapa kemarin gua nggak minta uang lima belas juta sekalian? Vera menyesal. Mira jelas percaya dan temannya itu tidak menawar, tidak mengatakan, “Tapi aku cuma punya uang lima juta.”

“Ver, you’re next!” Jerry, si fotografer memanggil. Vera merapikan kostumnya. Beginilah pemotretan katalog. Ganti baju, touch up, berpose, ganti baju, touch up. Tiga orang model berpose berganti-ganti di depan backdrop putih. Vera sudah berganti baju sepuluh kali, mulai bosan dan capek. Tapi ia harus bertahan. Masih ada kira-kira sepuluh atau lima belas baju lagi yang harus ia pakai. Ia berharap tak kebagian baju hamil dan terpaksa silicon perut. Ini benar-benar kerja rodi. Semuanya harus serba cepat agar tak ada waktu terbuang antara stylist, MUA, dan fotografer. Untung saja kebanyakan produknya t-shirt. Kalau gaun malam, selesai sudah. Meski ia tak keberatan juga mengenakan gaun malam karena hasilnya bakal luar biasa bila diposting di IG.

Suara ribut-ribut terdengar dari luar saat Vera tengah berpose. Semua orang kecuali Jerry celingak-celinguk penasaran. Vera juga, tetapi ia harus terus berpose. “Tengok kiri dikit, say. Kebanyakan. Nah, segitu, good, cakep. Mendongak dikit. Kesan songong. Oke. Sip. Sekarang hadap depan. Senyum. Sip.”

“Jangan masuk, sedang ada pemotretan!” Tiba-tiba terdengar lengkingan sewot si resepsionis. “Tunggu di sini!”

“Nggak bisa!”

“Ck! Ada apa ini?” Jerry mendecak kesal. “Nelly, Melly, lo, siapa nama lo tadi, next!”

Tiga perempuan modis menerobos masuk meski dihalangi oleh si resepsionis. Masing-masing membawa clutch atau handbag branded. Semuanya memakai kacamata hitam dengan lensa sebesar piring dan baju desainer yang terlalu mencolok untuk siang hari, memberi kesan mereka adalah topan badai yang tak bisa dihalangi bahkan oleh tembok besi.

“Oh, shit, siapa mereka?” Jerry bergumam kesal. Tetapi Vera memucat dan insting pertamanya adalah: kabur! Tetapi mau kabur ke mana?

 

TIGA perempuan itu berjalan maju seolah dengan irama. Semuanya mendongak dan membusung. Satu orang memimpin di depan dan dua yang lain mengekor, persis dalam adegan film-film mafia, hanya saja yang ini mafia khusus perempuan.

“Don’t worry kami nggak ada urusan dengan lo. Kami cuma mau have a little talk dengan kuntilanak ini,” si pemimpin melepas kacamatanya.

“Ya ampun, kalian girls. Apa kabar?” Jangan panik, jangan panik. Vera berusaha tersenyum dan mencodongkan tubuh untuk cipika-cipiki.

“Nggak usah akting!” Jari telunjuknya yang berkuku panjang merah menyala mendorong dada Vera, seolah-olah ia begitu jijik dan tak rela menyentuh Vera. “Balikin duit kami.”

“Duit? Girls, rileks. Ini cuma salah paham.”

“Hah! Lo yang salah dan kami semua paham. Lo bilang punya koneksi di Paris buat dapetin Kelly. Lo bawa uang kami tapi lo nggak bawa Kelly dan uang kami nggak kembali. Di mana salah pahamnya?”

“Ada kok,” Vera menelan ludah. “Yah ada sedikit permasalahan sama bea cukai, jadi tasnya ketahan di sana dan…”

“Kami nggak tolol.” Cewek lain yang rambutnya sejingga wortel mencengkeram kerah Vera.

Jerry melotot. Semua terpana melihat drama gratisan yang tersaji begitu saja di depan mereka. Tapi kamera-kamera handphone tak lalai untuk beraksi.

“Stop!” Jerry berseru. “Ada apa ini?”

 

Bergantian tiga cewek modis bertampang judes itu berteriak dan memaki. Benang ceritanya mulai terurai. Mereka teman-teman Vera – dulunya. Vera membual akan ke Paris (gue nggak membual, bantah Vera). Salah satu dari mereka menitip tas branded dan Vera berjanji akan membelikannya. Dua yang lain ikut-ikutan. Mereka sudah menyetor uang, penuh.  Tapi tas itu tak pernah ada.

 

Dua bulan berlalu.  Tiap kali ditagih Vera selalu ngeles. Pesan-pesan WA mereka diabaikan. Vera tak pernah bisa ditemui.

“Ini cuma kesalahpahaman aja, Jer,” kata Vera. “Tasnya ada, kok, cuma ketahan di bea cukai. Gue udah jelaskan ke mereka, tapi mereka nggak mau ngerti.”

“Ver, apa pun urusan lo, gue nggak mau tahu. Tapi pemotretan ini harus selesai. Entah gimana caranya. Udah setengah jam kebuang gara-gara elo. Gini deh, sekarang kalian bertiga maunya apa?”

“Bawa dia ke kantor polisi lah,” si rambut wortel berkata.

“Kalian nggak punya bukti!” Vera berkata sengit.

Si kuku merah menaikkan alis, “Tapi kami punya duit.”

Vera gemetar.

“Tuhanku!” Jerry menghela napas.

“Jer, tolongin gue,” Vera menghiba. Air matanya berlinang kini.

“Bagaimana gue bisa nolong elo, Ver? Elo menjebloskan diri lo sendiri ke lubang tai.”

***

 

Tiga orang itu duduk berimpit di sofa dan menunduk semua. Mereka sudah ditahan oleh satpam kluster, tetapi tak mau mundur dan bahkan memohon-mohon agar boleh masuk. “Kami cuma mau ketemu sama Bu Faisal. Itu aja.” Satpam menelepon Zaskia yang memutuskan menemui mereka lebih karena penasaran.

“Maaf, bapak ibu sekalian siapa?” tanya Zaza. Ia pandangi ketiga tamunya dengan alis mengkerut.

“Saya Doni, dan ini kakak saya Ririn, lalu yang ini ponakan saya Hana. Hana ini anaknya Ririn. Uhmm… sebenarnya saya hanya mewakili bapaknya Hana. Bapaknya Hana, kan jadi TKI di Malaysia…”

Zaza tak dapat menduga apa urusan orang-orang ini dengannya.

“Terus, apa tujuan kalian datang ke mari?”

“Begini…” Doni menelan ludah.

Zaza meneliti penampilan mereka. Doni memakai kemeja dan celana kain biasa. Giginya agak tonggos kekuningan dan kumisnya yang jarang-jarang tak tercukur rapi. Ririn mengenakan baju batik dan celana gelap yang tidak serasi. Lipstiknya mencolok, tak serasi. Zaza dengan cepat bisa memetakan kelas sosial mereka. Mungkin mereka menghuni kampung-kampung kecil di balik apartemen Cikini, semacam itu.

Zaza tahu mereka sudah berusaha maksimal untuk tampil bersih dalam pakaian terbaik, tetapi tetap saja kesulitan hidup tergambar jelas di raut wajah mereka. Mereka tidak melarat. Mereka tak kekurangan makan. Mungkin mereka punya motor, smartphone, dan rumah sangat sederhana, tetapi itu saja. Mereka tak berani masuk mal-mal yang kinclong, belum pernah naik pesawat, dan nyaris tak pernah makan di restoran.

Namun demikian, si ponakan yang mungkin masih SMA memiliki kecantikan yang tidak biasa. Bajunya terlihat trendi, sederhana namun menarik. Kaus pinknya dilapisi cardigan putih dan dipadankan dengan celana denim biru muda. Rambutnya tergerai halus dan wajah belianya tersapu make-up tipis.

“Ponakan saya ini hamil…”

Apa? Zaza menjengit. Gadis semuda itu? Tapi apa urusannya denganku? Zaza langsung memerhatikan perut si remaja. Memang agak buncit. Mungkin usia kandungannya lima bulan.

“Yang menghamili Pak Faisal.”

Blaaarrrrrr!!!

Langit runtuh, bumi terbelah. Ini tidak mungkin. Faisal bukan laki-laki sempurna Zaza tahu. Ia kadang pergi ke bar dengan teman-temannya, berbagi lelucon jorok dan menggoda waitress, tetapi ia tak pernah selingkuh.

“Nggak mungkin, Pak. Bagaimana bisa? Maksud saya mungkin Faisal yang lain. Mungkin orang lain dan bukan Faisal. Suami saya tidak mungkin...” Otak Zaza kacau mendadak. Tarik napas. Tenang. Tarik napas. Mungkin ini semua salah paham. Pasti ada penjelasan. Ayo otak, mendinginlah.

Si ibu menjawil anaknya, “Benar, kan, Pak Faisal, kan? Ayo bilang.”

Remaja itu mengangguk. Sama sekali tidak terlihat takut atau ragu.

“Bagaimana kamu bisa bilang begitu? Di mana kamu mengenal suami saya?”  Zaza gemetar.

“Saya magang di kantor Pak Faisal.”

“PKL bu, tugas dari sekolah,” kata Doni.

“Terus Pak Faisal suka manggil saya ke kantornya. Minta saya ngedit video.”

“Dia jurusan multimedia, Mbak,” timpal Doni lagi.

“Tapi banyak videonya yang porno.”

Video! Porno!

“Saya disuruh nonton aja awalnya, tetapi lama-lama Pak Faisal…”

Kepala Zaza terasa ringan. Bumi berputar lebih kencang. Pandangannya mengabur. Ia pingsan di kursi.

***

 

Mira dan Rendy resmi bertengkar. Sudah tiga hari ini mereka tak saling berhubungan. Perasaan Mira berubah-ubah antara panas dan membeku. Rendy sudah menyebut-nyebut soal membatalkan pernikahan. Mira tak tahu harus berkata apa. Kejengkelan dan sakit kepala mendesaknya untuk berkata ‘ya, batalkan saja. Apa yang kamu dapat setelah tiga bulan bertunangan selain pening kepala?’

Tapi bagaimana ia harus mengatakan ini semua pada orangtuanya? Pada teman-temannya? Pada follower Instagramnya? Foto-foto lamaran yang dulu tak akan dilanjutkan dengan foto pernikahan. Mungkin sebaiknya ia take down foto-foto itu sekarang.

Tapi apakah pernikahan itu benar-benar akan batal dan ia akan kehilangan Rendy? Cowok yang tahu rasa es krim favoritnya? (green tea dengan taburan kacang). Yang mengiriminya makanan via Gofood saat ia kelaparan di malam hari berhujan (Rendy tak bilang apa-apa. Tahu-tahu ada martabak datang ke rumah)? Yang ikut repot ke sana ke mari saat mama mendapat kecelakaan diserempet sepeda motor?

Di percakapan mereka yang terakhir Rendy cuma bilang, “Kita butuh break, Mir. Maksudku jeda! Take your break dan aku nggak bakal gangguin kamu. Telepon aku kalau kamu udah waras.”

Aku nggak akan meneleponnya! Dia yang salah, bukan aku! Selama ini aku yang harus duluan beberes bila ada konflik. Aku sudah capek.

Tapi aku kangen. Uf.

Ingat, kangen itu emosi, bukan rasio.

Ding, pesan WA masuk. “Mbak mohon konfirmasi untuk desain undangan. Apakah sudah oke? Mohon dicek semua teksnya. Apakah sudah benar? Kami butuh konfirmasi segera soalnya harus antre di percetakan.”

Mira memejamkan mata. Ia klik gambar gambar yang disertakan. Gambar undangan bernuansa putih-biru muda terpampang di sana dan air matanya mulai merebak. Jangan menangis. Beberapa hari ini air matanya sering sekali tumpah sampai ia heran mengapa belum habis juga.

Perkenanlah kami berbagi kebahagiaan….

Pernikahan putra-putri kami…

Miranti Yuliana Dewi

Muhammad Rendy Utama

Betapa indahnya. Betapa serasinya. Bahkan nama mereka pun begitu… cocok. Oke, mungkin orang lain tidak melihat di mana cocoknya, tetapi di mata Mira, nama itu seolah ditakdirkan untuk bersanding.

Tapi sudah terlambat sekarang. Nama mereka mungkin hanya akan bersanding di draft undangan.

 

|BERSAMBUNG

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi