A woman is like a tea bag. You never know how strong it is until it’s in hot water.
Eleanor Roosevelt

Cerita Bersambung: Kartu Pos Wini (part 1)

author
Ruwi Meita
Senin, 25 Februari 2019 | 19:00 WIB
kanya.id |

 

Sejak kecil Ruth ingin menjadi tukang pos meski orang-orang di sekitarnya selalu menertawakannya. Sayangnya, cita-cita Ruth hanya nyaris kesampaian. Ketika besar, dia bekerja di kantor pos meski di belakang meja, tidak keliling dengan sepeda mengantar surat.

Suatu hari seorang anak kecil bernama Wini mengirimkan sebuah kartu pos untuk Tuhan. Bu Rosiana, ibu Wini, menyuruh Ruth untuk berpura-pura berkata kepada Wini jika kartu pos itu bisa dikirim demi melegakan anaknya. Ruth akhirnya melakukannya, namun ia bingung mau diapakan kartu pos itu.

Dewi, rekan kerjanya mengajaknya ke sebuah loker yang katanya sudah ada sejak kepala pos terdahulu. Nama loker itu “Kotak Pos Tuhan” dan di dalamnya terdapat 377 surat dan 2 buah kartu pos untuk Tuhan. Ruth kaget dan menceritakan semua itu pada sahabat penanya sejak kecil yang saat ini tinggal dan bekerja di Belanda bernama Reza Asa Permana. Reza adalah seorang ahli onkologi.

Kepala kantor pos baru, Pak Syamsuri menemukan “Kotak Pos Tuhan” dan menyuruh Ruth mengembalikan surat-surat itu kepada pengirimnya. Ruth nekat membawa pulang 377 surat dan 2 kartu pos untuk Tuhan itu, lalu menggantungnya di langit-langit kamar kosnya.

 

Episode 1

 

SEJAK kecil aku selalu ingin menjadi tukang pos meskipun mereka selalu menertawakanku setiap aku mengatakannya. Teman-temanku berkata,”Hei, kamu kan perempuan. Tak ada perempuan yang naik sepeda onthel lalu berteriak ‘Pos! Pos!’ Kamu bakalan terlihat konyol.” Aku memprotes mereka dengan keras,”Hei perempuan sudah jadi pilot. Lalu apa ada yang salah jika perempuan jadi tukang pos.” Lagi-lagi mereka menjawab sambil tertawa-tawa,”Pilot perempuan, kan keren. Tukang pos perempuan? Itu baru aneh.”

Aneh. Stempel itu melekat padaku di masa-masa kecilku hanya karena aku ingin jadi tukang pos. Lalu bagaimana pendapat mereka jika sekarang perempuan pun jadi tukang becak, tukang parkir, tukang batu, bahkan kuli bangunan? Apa ada kata yang lebih fenomenal selain kata aneh? Bagaimana jika perjuangan, nasib, atau takdir?

Lalu bagaimana dengan orangtuaku? Apakah mereka tersenyum saat aku mengatakannya dengan menggebu-gebu? Mereka tidak pernah melarangku namun melakukan hal yang lebih parah lagi. Mereka mengabaikan cita-citaku. Seakan aku tak pernah mengucapkan keinginan itu.  Orangtuaku selalu menghindar setiap aku berseru,”Ayah! Ibu! Aku ingin jadi tukang pos!” Biasanya mereka hanya diam atau mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.

Pernah suatu hari aku berpura-pura jadi tukang pos. Aku mengendarai sepeda miniku dan semua temanku kukirimi surat termasuk ibuku. Saat aku membawa surat untuk ibu, aku berkata, “Pos! Ada surat untuk Ibu.” Ibuku menghela napas panjang dan menatapku dengan lesu. Dia bergumam, “Oh Ruth, suatu hari kamu akan mengerti saat kamu menerima tagihan bank.” Dia bahkan tak menerima suratku sebab dia sibuk membaca surat dari bank.

Keesokan harinya ibuku membawakanku mainan dokter-dokteran. Stetoskop, suntikan, infus, dan  botol-botol obat dari plastik ditata rapi di hadapanku. Lalu ibuku berkata, “Ruth, sepertinya Boni tidak enak badan. Maukah kamu memeriksanya? Dia bilang pada ibu kalau kepalanya sakit.” Boni adalah boneka kelinciku dan ibu menyodorkannya padaku. Aku berkata pada ibu, “Bu, Boni tidak bicara, bagaimana Ibu bisa tahu apa yang dia bilang?” Dan pembicaraan kami segera berakhir sebab Ibu segera berlalu setelah berkata,”Oh Ibu harus masak dulu. Selamat jadi dokter ya.”

Keinginanku ini tentu saja ada pemicunya. Aku mengagumi Pak Bejo. Dia tukang pos yang biasa lewat di depan rumahku. Beberapa kali dalam seminggu dia selalu lewat dengan membunyikan bel sepeda onthelnya. Kantung kulit yang tersampir di boncengannya selalu terlihat gemuk penuh dengan surat dan paket. Dia selalu tersenyum padaku saat menyerahkan beberapa surat dari bank untuk ayahku. “Selamat siang, Ruth. Kamu terlihat cantik hari ini. Ibumu ada?” tanya Pak Bejo. Tak lupa senyumnya yang khas itu. Aku menyukai keramahannya. Aku menyukai keriput-keriput pendek di samping matanya.

Aku juga suka suasana setiap dia datang. Bapak tua itu selalu membawa keajaiban. Sepertinya awan-awan segera membentuk polkadot warna pelangi, angin berdesir lebih lembut, dan kuncup melati tak sabar ingin mekar. Jika hari hujan, suasananya lebih indah lagi. Aku sangat suka membaca surat ketika hari hujan. Rasanya seperti berjalan di tengah hujan tapi tidak basah. Rasanya seperti mengemut lolipop dan lidah masih terasa manis meski lolipopnya telah habis.

Setiap dia membunyikan bel sepedanya, wajah-wajah tetanggaku akan melongok dari jendela atau pintu. Mbak Ratri yang dulu ngekos di depan rumahku bahkan segera berlari ke halaman kosnya. Dia selalu menunggu surat dari kekasihnya yang seorang pelaut. Matanya akan meredup ketika Pak Bejo menggeleng dan bersinar saat Pak Bejo mengacungkan jempolnya. Tatapan mereka seperti menunggu suatu harapan.

Semua orang pasti antusias jika ada surat datang, tak peduli nantinya senyum mereka akan hilang setelah mengetahui surat yang mereka terima adalah tagihan bank, berita duka dari saudara di seberang pulau, atau keluh kesah dari sang anak yang pergi merantau. Pada dasarnya semua orang selalu menunggu harapan setiap hari meski mereka membantahnya atau justru mengharap-harapkannya dengan sungguh-sungguh. Seperti surat.

Sewaktu SD aku suka menulis surat untuk sahabat penaku yang kukenal dari sebuah majalah anak-anak paling populer semasa aku kecil. Namanya Reza Asa Permana, lebih tua tiga tahun dariku. Dia tinggal di Ambon, kedua orangtuanya asli Jawa namun bekerja di sana. Dia satu-satunya yang tidak menganggapku aneh saat aku menulis padanya jika aku ingin menjadi tukang pos. Aku masih ingat kata-katanya dalam surat balasannya. Jika kamu jadi tukang pos maka aku bisa menjadi perangkai bunga, tukang masak, atau penari balet. Apa ada yang salah dengan itu? Kupikir tidak.

Seminggu sekali Pak Bejo pasti datang membawa surat balasan. Dua kali rasa senang. Aku senang melihat Pak Bejo sekaligus senang Reza membalas suratku. Sampai sekarang aku bahkan masih berhubungan dengan Reza meski kami lebih suka menulis kabar lewat email atau bercakap-cakap lewat facebook. Zaman sudah berubah dan aku tak bisa mengelaknya meski sampai sekarang aku selalu antusias dengan surat yang datang lewat pos. Kadang Reza mengirimiku kartu pos bergambar tulip, kincir angin, ataupun perempuan-perempuan berpakaian daerah seperti pada gambar sebuah merk susu kaleng. Reza bekerja di Belanda. Dia menghabiskan separuh umurnya di Belanda. Saat dia masuk SMA, orangtuanya pindah ke Belanda. Sejak saat itu dia sekolah, kuliah, dan bekerja di sana. Dia seorang ahli onkologi yang suka merangkai bunga.

Orangtuaku selalu menganggap cita-citaku ini akan memudar seiring pertambahan usia. Sayangnya mereka salah. Ketika SMP, aku pernah menangis semalaman gara-gara Pak Bejo tak lagi mengantar surat buatku. Tugasnya sudah digantikan oleh Mas Dewanto yang tak naik onthel tetapi sepeda motor warna oranye dengan klakson yang nyaring. Aku terus bertanya ke mana Pak Bejo? Apa dia sudah bosan mengirimkan surat-surat dari Reza untukku? Ibuku justru memarahiku karena menangisi Pak Bejo yang sebetulnya sudah pensiun. Semua orang yang sudah tua butuh istirahat, kata ibuku.

Aku tidak menyukai Mas Dewanto. Dia tak pernah membawa suasana seperti yang Pak Bejo bawa. Dia selalu terburu-buru, membunyikan klakson dengan tak sabar, dan mukanya selalu muram. Sejak saat itu aku semakin ingin menjadi tukang pos. Aku ingin seperti Pak Bejo.

***

Sekarang umurku 27 tahun dan aku baru saja memberikan dua kekecewaan pada ibuku. Pertama karena aku bukan seorang dokter dan kedua aku harus pindah ke Yogya untuk ditempatkan di sebuah kantor pos di sana. Apa aku berhasil menjadi seperti Pak Bejo? Berkeliling setiap hari dengan sepeda onthel sambil berteiak “Pos! Pos!”? Sayangnya tidak. Aku bukan tukang pos seperti Pak Bejo. Aku bekerja di belakang meja, melayani orang-orang yang ingin mengirimkan sesuatu untuk orang lain. Kebanyakan mereka mengirimkan paket, dokumen, atau surat penting lainnya. Jarang orang mengirimkan surat biasa dan tak ada yang mengirimkan kartu pos. Email, Facebook, ataupun Twitter sudah menggantikan semua itu.

Baru enam bulan aku bekerja di sini. Semula aku menyukai tempat ini. Aku juga menyukai kepalaku, Pak Dwiki. Kadangkala senyumnya mengingatkanku akan senyum Pak Bejo. Dia orang yang baik, Semua orang menghormatinya. Sayang, orang baik selalu pergi lebih cepat. Dia pensiun dua minggu yang lalu. Posisinya digantikan oleh Pak Syamsuri, seseorang yang mereka kirim dari Jakarta. Dia orang yang tegas namun kaku. Cara dia menatap dan berbicara selalu membuatku sesak napas.

Sejak dia datang hari-hariku menjadi hari-hari biasa tanpa kesan dan nuansa. Semacam rutinitas seperti matahari yang terbit dan tenggelam namun tak meninggalkan warna indah pada langit. Segalanya menjadi tak bernuansa lagi. Aku menjadi cepat bosan. Lalu aku menemukan pagi yang lain.

Matahari bersembunyi di balik awan abu-abu dan pengendara sepeda membunyikan bel sepedanya saat lewat di depan kantor pos. Aku mengalami déjà vu dan aku menyukainya. Pada saat itulah dia datang. Dia menghampiri loketku. Seorang wanita berkepala empat menggandeng tangannya. Mataku tak percaya saat sepasang tangan yang mungil menyodorkan sebuah kartu pos di loketku. Betapa senangnya aku sebab masih ada orang yang mengirim kartupos. Ini kartu pos pertama yang kulayani selama enam bulan bekerja di sini. Aku tak bisa melihat wajahnya karena loketku terlalu tinggi untuknya, maka aku berdiri.

“Halo adik manis. Ada yang bisa Mbak bantu?” sapaku ramah.

“Aku ingin mengirim kartu pos.” Aku tersenyum padanya dan kuterima kartu pos itu. Gadis kecil itu mungkin baru berusia sekitar delapan tahun. Badannya kurus dan kulitnya pucat. Bintik-bintik merah cukup banyak di lengannya dan memar biru di punggung tangannya. Dia memakai topi yang menutupi seluruh kepalanya. Matanya cerah namun lemah.

“Aku membuat sendiri kartu posnya,” lanjutnya.

“Indah sekali,” kataku. Lalu aku menatap kartu pos di tanganku. Warnanya merah jambu dengan gambar seorang gadis cilik dengan sayap di punggungnya. Namun dahiku segera mengerut saat membaca alamat tujuan kartu pos itu. Aku menatap wanita yang bersamanya, meminta kejelasan. Aku yakin dia ibu gadis cilik itu. Dia lalu berbicara pada anaknya.

“Wini, duduklah di bangku sana. Ibu ingin bicara dulu dengan…” Wanita itu membaca tanda pengenal di dadaku.” Dengan Mbak Ruth,” lanjutnya. Gadis bernama Wini itu mengangguk dan berjalan menuju bangku. Dia duduk tenang di sana sambil beberapa kali membetulkan topinya yang mengingatkanku dengan kupluknya mbah Surip.

“Maaf Mbak, kami tidak bermaksud mempermainkan Mbak. Saya hanya mohon bantuan sama Mbak Ruth. Kita berpura-pura saja kartu pos ini dikirim. Saya tidak mau membuat anak saya kecewa dan menghancurkan seluruh harapannya. Saya mohon.”

“Tapi kami tak bisa mengirimnya.”

“Saya paham.”

“Lalu kartu pos ini mau saya apakan Bu?”

“Simpanlah.”

“Tapi…”

“Saya mohon,” kata ibu itu dengan wajah mengiba. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.

“Baiklah,” kataku menyerah. Ibu itu langsung tersenyum. Dia mengelap airmata di sudut matanya dengan tisu lalu berbalik.  Dia melambai ke arah anaknya. Wini berdiri dan berjalan ke arah kami.

“Wini, kartu pos ini akan segera terkirim. Benar, kan Mbak?” kata ibu itu. Suaranya sudah berubah. Lebih tegar dan tenang. Sangat berbeda saat dia bicara padaku tadi.

“Ya, betul,” jawabku sedikit gugup.

“Berapa saya harus membayarnya?” tanya ibu itu. Aku terkejut tak siap dengan pertanyaan itu.

“Uhm…khusus untuk alamat ini gratis, Bu.”

“Benarkah?” tanya ibu itu. Dia sudah menyiapkan dompetnya dan aku menjadi tak enak.

“Begini, bulan ini kami ada program khusus yaitu setiap surat yang dikirim ke alamat ini gratis,” kataku. Aku berbohong.

“Terima kasih,” kata ibu itu. “Ayo Wini kita pulang. Kamu senang, kan?” Wini mengangguk dan tersenyum padaku. Gigi depannya tanggal satu.

“Terima kasih Mbak Ruth,” katanya.

“Kembali,” jawabku dengan suara serak. Mereka berdua berlalu dan aku masih berdiri dengan kebingungan. Aku membalik kartu pos itu dan membaca tulisannya.

Tuhan apa aku akan mati? Jika aku mati nanti apa aku akan menjadi malaikat? Aku ingin menjadi malaikat supaya bisa melihat ibuku. Aku tak ingin dia sendiri.

P.S Bisakah Engkau menyuruh pak dokter untuk tidak memberikan obat sebanyak itu?

Kartu pos ini dialamatkan kepada Tuhan di surga. Mataku menjadi panas. Aku terharu. Tapi akan kuapakan kartu pos ini?

“Ruth, kerja kok melamun?” tegur Mbak Dewi yang berada di loket sebelahku. “Maaf Mbak. Saya hanya bingung kartu pos ini mau saya apakan?”

“Lho kok bingung?”

“Coba Mbak Dewi baca sendiri.” Aku mengangsurkan kartu pos itu. Kupikir Mbak Dewi akan terkejut atau bingung sepertiku tapi dia tersenyum dan berkata, ”Kupikir aku tahu di mana kamu harus menyimpan surat ini.”

 

| BERSAMBUNG

 

Ruwi Meita, penulis novel kelahiran Yogyakarta yang telah mengadaptasi 11 skenario layar lebar ke dalam novel. Selain novel adaptasi, Ruwi Meita juga menulis 9 novel mandiri antara lain Rumah Lebah: Rahasia Wajah-Wajah Asing, The Sex On Chatting, The Apuila’s Child, Cruise Chronicle, dan lainnya. Novelnya Misteri Patung Garam telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu di Malaysia.

Ruwi juga dikenal sebagai penulis cerpen di berbagai media seperti HAI, GADIS, KAWANKU, FEMINA, dan koran Tempo. Cerpennya Pulung Gantung berhasil menang juara satu Kompetisi Tulis Nusantara. Sementara Pemutar Aroma dan Menghidu Warna menyabet Juara 3 Sayembara Femina 2014 dan 2016.

Sejak 2013 Ruwi Meita mulai melirik dunia skenario dan menulis skenario animasi Diva Series, Uwa and Friends, dan film pendek Through Her Eyes. Film pendek Sasi Takon yang diangkat dari cerpen Ketika Sasi Bertanya karyanya diputar di Jogja Asian Film Festival 2015 dan dipanggungkan dalam pementasan Bertiga Bukan Dara di IFI Yogyakarta 7-8 Maret 2016. Impiannya adalah menulis skenario layar lebar dan menonton karyanya sendiri di bioskop sambil ngemil popcorn.  

 

 

 

 

Penulis Ruwi Meita
Editor Ratih Sukma Pertiwi