Girls, kamu pernah mendengar istilah Borderline Personality Disorder (BPD)? BPDatau gangguan kepribadian ambang merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan orang lain.
Penderita gangguan kepribadian memiliki pola pikir, cara pandang, dan perasaan yang berbeda dibandingkan orang pada umumnya. Kondisi ini sering kali menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hubungan penderita dengan orang lain.
Apa Penyebab BPD ?
Penyebab Borderline Personality Disorder belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPD antara lain:
- Genetik
Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan kepribadian ambang lebih berisiko mengalami kondisi ini.
- Peristiwa traumatis
Pengalaman traumatis, seperti pelecehan, kekerasan, atau penelantaran pada masa kanak-kanak, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPD. Selain itu, komunikasi yang buruk dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya BPD.
- Kelainan pada otak
Mengutip informasi dari NHS, banyak orang dengan Borderline Personality Disorder (BPD) diduga mengalami gangguan pada kerja neurotransmiter di otak, terutama serotonin.
Neurotransmiter sendiri adalah zat kimia yang berfungsi sebagai “pembawa pesan” di otak. Zat ini membantu mengirimkan sinyal antar sel saraf agar otak dapat mengatur emosi, perilaku, dan respons tubuh dengan baik.
Ketidakseimbangan kadar serotonin diketahui meningkatkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti depresi, perilaku agresif, serta kesulitan mengendalikan dorongan atau impuls yang merugikan diri sendiri.
Baca juga: Gerah Saat Menstruasi di Cuaca Panas? Ini 5 Cara Biar Tetap Fresh dan Anti Bad Mood!
Apa Gejala BPD yang Sering Dialami Seseorang?
BPD dapat memengaruhi emosi seseorang. Berikut beberapa gejala BPD yang berkaitan dengan kondisi emosional penderitanya.:
1. Mood tidak stabil
Orang dengan BPD sering mengalami perubahan suasana hati yang drastis, baik terhadap diri sendiri, maupun orang di sekitarnya. Perubahan ini kerap terjadi tanpa pemicu yang jelas. Saat berada dalam kondisi emosi negatif, penderita dapat merasakan kemarahan, kesedihan mendalam, rasa hampa, tidak berharga, malu, cemas, takut, hingga kesepian.
Artikel ini sudah dimuat di www.kaolifeacademy.com, baca artikel "Apakah Borderline Personality Disorder (BPD) Berhubungan dengan Menstruasi?" selanjutnya, di sini.