When I come home, my daughter will run to the door and give me a big hug, and everything that’s happened that day just melts away.
Hugh Jackman

Hindari Toxic Positivity: Bahagia Penting, Tapi Ada Emosi Lain Yang Harus diPerhatikan

author
Marti
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:29 WIB
|

Di era digital di mana media sosial menjadi salah satu ruang utama berbagi cerita, kita sering melihat hidup orang lain tampak selalu bahagia. Feed dipenuhi momen terbaik: prestasi, perjalanan seru, atau senyum tanpa cela. 

Tampilan ini bisa menciptakan kesan bahwa semua orang sedang baik-baik saja dan seolah kita juga perlu selalu tampil positif. Fenomena inilah yang sering disebut sebagai positivity overload yaitu dorongan untuk menunjukkan sisi terbaik, bahkan ketika diri sedang lelah atau tidak baik-baik saja. 

Padahal, kenyataan hidup tidak selalu penuh warna yang cerah. Kita punya hari-hari penuh semangat, juga hari-hari ketika energi terasa menurun. Kedua sisi ini sama pentingnya. Di tengah budaya yang mengutamakan ‘good vibes only’, penting untuk mengenali bahwa perasaan negatif pun merupakan bagian dari pengalaman manusia yang seimbang dalam upaya menjaga kesehatan mental.

Ketika ruang untuk merasa lelah, sedih, atau kecewa justru makin menyempit, sikap positif yang awalnya terasa menyemangati bisa berubah menjadi tekanan tersendiri. Dari sinilah muncul sebuah pola yang kerap tidak disadari, yaitu kecenderungan untuk menutup emosi tidak nyaman demi terlihat selalu baik-baik saja, biasa disebut toxic positivity.

Baca juga: Belajar Peka: Ini Tips Membangun Empati ala Gen-Z

Apa itu Toxic Positivity?

Menurut situs kesehatan mental Verywell Mind, toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang secara berlebihan memaksakan diri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif. Dorongan ini membuat emosi yang tidak nyaman, seperti sedih, marah, atau kecewa, ditolak, diabaikan, atau dianggap tidak perlu dibicarakan. Padahal, emosi-emosi tersebut merupakan bagian alami dari pengalaman manusia.

Sering kali, sikap ini muncul dari niat yang baik, seperti ingin terlihat kuat, menjaga suasana tetap ringan, atau tidak ingin membebani orang sekitar. Namun jika terus dilakukan, toxic positivity justru dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional karena perasaannya tidak pernah benar-benar diakui.

Ketika dilakukan berulang-ulang, kebiasaan ini menciptakan tantangan yaitu membuat kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi dalam diri.

--

Contoh yang sederhana: memaksa diri tersenyum padahal pikiran sedang penuh tekanan, menepikan rasa sedih dengan bilang ‘nggak apa-apa’padahal dada terasa sesak, atau menghindari cerita jujur karena takut dianggap lemah. 

Beberapa kalimat seperti ‘harus tetap positif’ atau ‘yang penting bersyukur’ bisa terdengar positif, tetapi menjadi kurang membantu ketika disampaikan tanpa memberi ruang bagi emosi yang lebih berat.

Toxic positivity tidak berarti seseorang buruk atau salah. Banyak dari kita melakukannya tanpa sadar, karena budaya sekitar memang sering menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dipahami adalah bagaimana cara mendampingi emosi negatif tersebut, bukan menolaknya mentah-mentah.

Baca juga5 Fakta Rumah yang Terasa Kirei Bisa Buat Hidup Lebih Tenang dan Rileks

Apa Dampak Toxic Positivity bagi Kesehatan Emosional?

Ketika terbiasa memendam emosi, tubuh dan pikiran kehilangan kesempatan untuk memprosesnya. Emosi yang tidak tersalurkan/terlepas tidak hilang begitu saja; berubah menjadi kelelahan, iritabilitas, atau merasa tidak mengenali diri sendiri.

Ketika emosi terus dipendam dan tidak diproses, dampaknya bukan hanya ke tubuh dan pikiran, tapi juga ke cara kita memperlakukan diri sendiri. Menolak emosi negatif perlahan mengurangi empati kita pada diri sendiri. Kita jadi lebih keras pada kelemahan sendiri, atau merasa ‘seharusnya aku bisa lebih kuat’, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang kita rasakan.

Padahal, menjaga keseimbangan emosi bukan berarti terus memaksakan pikiran positif, melainkan memberi ruang untuk bersikap jujur dan realistis terhadap perasaan yang ada.

Sebelum masuk ke langkah-langkah praktis, penting untuk mengingat bahwa merawat emosi itu mirip dengan menjaga ruang pribadi agar tetap Kirei—rapi, bersih, sehat, dan pikiran yang tenang. 

Baca jugaSmall Wins, Cara Simpel Buat Hidup Lebih Positif

Tips Menghindari Toxic Positivity

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Akui & Rasakan Emosimu

Mulailah dengan menyebutkan emosi yang sedang muncul tanpa menilai. Misalnya: “Aku sedang capek”, atau “Hari ini banyak yang menyita energi”. Pengakuan sederhana seperti ini membantu tubuh merasa valid dan tidak diabaikan.

2. Ubah Cara Bicara ke Diri Sendiri agar Lebih Suportif

Alih-alih menekan emosi dengan kata-kata seperti ‘harus tetap ceria, coba gunakan kalimat yang lebih lembut dan realistis, seperti ‘Aku sedang tidak baik-baik saja, tapi aku ingin pelan-pelan memperbaikinya’ atau ‘Wajar merasa sulit. Aku bisa istirahat sebentar sebelum memulai lagi.’ Kalimat-kalimat ini tidak menolak kenyataan, tetapi tetap menawarkan harapan.

3. Lakukan Teknik Mindfulness Singkat

Saat berlatih mindfulness, bayangkan kamu sedang membuat ruang batin menjadi lebih Kirei.

Artikel ini sudah dimuat di www.kaolifeacademy.com, baca artikel "Hindari Toxic Positivity: Bahagia Penting, Tapi Ada Emosi Lain Yang Harus diPerhatikan" selanjutnya, di sini

Penulis Marti
Editor Dewi Shinta N