There is no such thing as a perfect parent. So just be a real one.
Sue Atkins

Menstrual Hygiene Day 2026, AHF Indonesia Buka Ruang Diskusi dan Dorong Fasilitas Menstruasi untuk Remaja

author
Dewi Shinta N
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:33 WIB
Menstrual Hygiene Day |

Menstruasi adalah hal alami yang dialami hampir setiap perempuan. Namun sayangnya, sampai sekarang masih banyak remaja perempuan yang merasa malu membicarakannya, kesulitan mendapatkan produk menstruasi yang layak, atau bahkan minim informasi tentang cara menjaga kesehatan menstruasi.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Menstruasi yang diperingati setiap 28 Mei, AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia mengajak masyarakat untuk lebih terbuka membahas menstruasi sekaligus mendorong akses terhadap fasilitas yang aman, bersih, dan produk sanitasi yang terjangkau bagi semua perempuan yang membutuhkan.

Sebagai bagian dari kampanye ini, AHF Indonesia bersama Kementerian Sosial menggelar kegiatan edukasi di Sekolah Rakyat Sentra Handayani dan Sentra Mulya Jaya Jakarta pada 25 Mei 2026. Acara yang ditujukan untuk siswa SMP dan SMA ini dikemas dengan lebih dekat ke dunia remaja, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi, hiburan, kuis interaktif, hingga hadiah menarik.

Memperingati Hari Kesehatan Menstruasi |

Bagi banyak orang tua, khususnya ibu, menstruasi bukan hanya soal siklus bulanan. Ini juga menjadi momen penting untuk mulai membuka ruang diskusi yang sehat dengan anak tentang tubuh, kebersihan diri, hingga kesehatan reproduksi.

“Di banyak wilayah Asia, stigma dan sikap bungkam seputar menstruasi masih terus membatasi akses terhadap produk menstruasi maupun informasi kesehatan yang sangat penting,” ujar Dr. Chhim Sarath, Kepala Biro Asia AHF.

Ia menjelaskan, ketika seseorang tidak dapat mengelola menstruasi dengan aman, dampaknya bukan hanya rasa tidak nyaman. Kondisi ini juga bisa meningkatkan kerentanan terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk infeksi menular seksual (IMS) dan HIV karena terbatasnya akses informasi maupun layanan kesehatan.

Sulitnya Akses Fasilitas Menstruasi

Secara global, hampir 2 miliar orang mengalami menstruasi. Namun sekitar 500 juta di antaranya masih menghadapi kemiskinan menstruasi, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan mendapatkan produk menstruasi yang memadai, fasilitas sanitasi layak, atau lingkungan yang mendukung.

Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Remaja perempuan bisa lebih sering absen sekolah, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami hambatan dalam aktivitas sehari-hari.

Karena itu, edukasi menstruasi tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Keluarga, terutama ibu sebagai orang terdekat anak, punya peran besar dalam membangun kebiasaan diskusi yang sehat sejak dini.

Anna Puspasari, Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dan ODHIV Kementerian Sosial RI, menilai bahwa literasi kesehatan yang baik dapat membantu remaja memiliki kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih sehat.

“Remaja yang cerdas, paham akan kesehatan tubuhnya, dan memiliki literasi informasi yang baik, akan memiliki harga diri (self-esteem) yang kuat,” ujarnya.

Menghapus Tabu, Membangun Ruang Diskusi yang Aman

Selain keterbatasan akses, stigma dan budaya bungkam tentang menstruasi juga masih menjadi tantangan besar. Di banyak lingkungan, menstruasi masih dianggap topik sensitif sehingga remaja sering merasa malu bertanya atau mencari bantuan saat mengalami masalah.

Padahal, semakin terbuka pembicaraan soal menstruasi, semakin mudah pula perempuan mendapatkan informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang tepat.

Melalui peringatan Hari Kesehatan Menstruasi, AHF Indonesia mengajak masyarakat untuk melihat menstruasi sebagai bagian normal dari kesehatan, bukan hal yang perlu disembunyikan. Dengan akses yang lebih baik, edukasi yang tepat, dan lingkungan yang suportif, setiap perempuan dapat menjalani menstruasi dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan bagi perempuan muda dan remaja putri, AHF juga menjalankan program pemberdayaan Girls Act yang hadir di Indonesia untuk membantu meningkatkan pengetahuan, kepemimpinan, dan kepercayaan diri perempuan muda. Kunjungi GirlsAct.org untuk informasi lebih lanjut.

Penulis Dewi Shinta N
Editor Dewi Shinta N