Kekecewaan itu harus kita salurkan dengan bekerja lebih baik lagi dan bekerja keras untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Sri Mulyani

Kenapa Terlalu Optimis Tak Baik Bagi Bisnis?

author
Hasto Prianggoro
Selasa, 15 Januari 2019 | 14:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

“Bisnis itu harus optimis,” begitu saran yang biasa muncul ketika seseorang memulai bisnis. Tetapi, terlalu optimis ternyata tak baik, lo.

Hampir separuh bisnis baru ternyata gagal di lima tahun pertama. Itu sebab, pengusaha baru khususnya, harus bersikap optimis menghadapi jatuh bangun bisnis. Berpikir positif juga membantu pemilik bisnis untuk tetap memastikan bisnis atau perusahaan mereka masih on the right track atau tidak. Bayangkan seandainya pengusaha panik ketika di tahun pertama omzet tak pernah bergerak positif.

Akan tetapi, hasil riset terbaru justru memberikan fakta bahwa terlalu positif atau optimis ternyata juga tidak bagus bagi perkembangan usaha. Studi itu menunjukkan, pengusaha yang terlalu optimis malah mendulang laba 30% lebih sedikit ketimbang pengusaha yang cenderung tidak optimis berlebihan.

| SHUTTERSTOCK

Studi yang dilakukan peneliti dari UK’s University of Bath, London School of Economics and Political Science, dan Cardiff University yang diterbitkan European Economic Review mengambil data perjalanan seorang pengusaha sejak ia masih menjadi karyawan hingga membangun bisnis.

Hasilnya, seperti dikutip entrepreneur.com, menunjukkan bahwa mereka yang terlalu optimis lebih besar kemungkinan membangun bisnis yang “sudah gagal sejak awal.” Justru, sedikit bersikap pesimis akan menjaga orang atau pengusaha dari membangun bisnis yang tidak potensial. Riset di masa lalu juga memperlihatkan bahwa pesimisme dan kecemasan justru membuat seseorang menjadi berhati-hati sehingga terhindar dari puas berlebihan.

Baca juga: 6 Alasan Seorang Enterpreneur Harus Mengikuti Tren

Kate Sweeney, profesor psikologi dari University of California, mengamini pendapat tersebut. “Rasa khawatir tidak selalu bersifat merusak. Malah, kadang bersikap pesimis bisa menjadi motivasi dan semacam benteng secara emosional,” katanya.

Rasa khawatir ternyata juga membantu meningkatkan ingatan. Riset yang dilakukan terhadap 80 mahasiswa S1 Canada’s University of Waterloo menemukan bahwa kecemasan yang dikelola dengan baik akan membantu memandu mengingat detail kejadian-kejadian tertentu.

Tentu, bersikap terlalu pesimis dan terlalu cemas juga tak baik. Perhitungan cermat, kalkulasi akurat, ditambah sedikit hoki bisa jadi merupakan komposisi ideal untuk membangun bisnis. 

 

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro