When I come home, my daughter will run to the door and give me a big hug, and everything that’s happened that day just melts away.
Hugh Jackman

Terjebak di Bawah Kursi

author
Sundari Hana Respati
Rabu, 27 Februari 2019 | 20:00 WIB
SHUTTERSTOCK |

Beberapa waktu lalu kakakku mengirimkan video pendek via whatsapp. Video keponakanku yang waktu itu baru lancar merangkak sampai akhirnya terjebak di bawah kursi plastik kecil untuk anak-anak. Ia pun kebingungan dan menangis sejadi-jadinya, sang Ayah yang sedang mengawasi malah akhirnya merekam kejadian itu. Saat aku melihatnya aku tertawa, bahkan dilihat berkali-kali pun lucunya tetap sama.

Tapi lama kelamaan aku jadi kepikiran sesuatu. Mungkin itu gambaran ketika kita diterpa masalah ya. Masalah besar dalam level kehidupan masing-masing. Rasanya masalah yang saat itu sedang kita hadapi, dari sudut pandang kita, adalah masalah yang sangat besar, sangat berat. Karena langsung ada di depan mata, sehingga mempersempit pandangan, membatasi ruang gerak. Rasanya campur aduk, panik, ketakutan, tak jarang dihiasi air mata.

Baca juga: Cerita Bersambung: Kartu Pos Wini (part 1)

Tak jarang pula, di tengah derai tangis karena masalah yang kta hadapi akan ada saja orang yang menertawakan bahkan meremehkan, karena yang mereka lihat “hanya begitu saja.” Karena mungkin mereka sudah melewati atau pernah merasakan hal yang lebih berat dari apa yang kita rasakan, menurut mereka.

Tapi tak apa. Itu semua bentuk perhatian.

Mungkin nanti kita yang akan menertawakan diri sendiri karena sudah menangis atas masalah yang ‘hanya begitu saja’.

Baca juga: Lajang atau Menikah, yang Penting Happy!

SHUTTERSTOCK |

Teringat ketika aku menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa mengerjakan soal ujian, atau ketika merasa kesulitan melewati masa skripsi, atau ketika tidak diterima bekerja di perusahaan yang saat itu sangat aku impikan, atau bahkan ketika menangis karena tidak bisa menggoreng pisang seperti yang dijual di abang-abang penjual gorengan. Banyak lagi hal-hal yang ‘halah, gitu doang’, hal-hal sepele yang kadang terasa sangat besar dan bahkan bisa jadi beban.

Baca juga:  Seberapa Sehat Pernikahan Kamu? Cek Dengan 10 Pertanyaan Ini

Nah, makanya kita perlu mengelilingi diri sendiri dengan teman-teman yang biar bisa saling menguatkan dan saling mengingatkan.

Menangis itu wajar, meminta pertolongan juga tak mengapa. Karena dengan begitu orang sekitar tahu bahwa kita butuh pertolongan. Mungkin pada saat itu kemampuan kita terbatas, kekuatan kita tak seberapa, sehingga membutuhkan tangan-tangan yang lain.

Dan yakinlah akan datang pertolongan setiap kali kita meminta, apalagi memintanya kepada yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

Penulis Sundari Hana Respati
Editor Ratih Sukma Pertiwi