We’re here for a reason. I believe that reason is to throw little torches out to lead people through the dark.
Whoopi Goldberg

“Kehadiran Si Kecil Thomas Membangkitkan Semangat Hidup Kami..”

author
Hasto Prianggoro
Jumat, 8 Maret 2019 | 16:00 WIB
| Tom dan Kate bersama Alfie Evans | EvansFamily

 

Hampir setahun lalu, pasangan ini kehilangan putra pertamanya, Alfie, setelah pengadilan memutuskan RS boleh mencabut ventilator yang mendukung kehidupan Alfie. Pasangan ini kini dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 7 bulan. “Ia sangat mirip Alfie,” kata sang ayah. 

 

Semangat hidup Tom Evans kembali menyala. Kehadiran si kecil Thomas sedikit mengobati perih hatinya setelah ditinggal putra pertamanya, Alfie Evans, 28 April 2018 lalu. Alfie meninggal di usia 23 bulan, seminggu setelah ventilator yang membantu kehidupannya dicabut berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Inggris.

Alfie lahir Mei 2016 dalam keadaan sehat. Bulan Desember di tahun yang sama, ia dibawa ke Rumah Sakit Anak Alder Hey di Liverpool dan tak pernah meninggalkan RS lagi. Menurut pihak RS, hasil scan terhadap Alfie menunjukkan jaringan saraf otak Alfie mengalami penurunan fungsi parah. Kondisi ini disebut GABA-transaminase deficiency, dan data menunjukkan hanya ada 10 anak yang mengalami kasus serupa, setengahnya meninggal. 

| Tom dan Kate | Andy Stenning_Daily Mirror

Orangtua Alfie, Tom Evans dan Kate James, yang tinggal di Merseyside berniat membawa Alfie berobat ke rumah sakit di Itali, tetapi dokter RS Adler Hey keberatan. Menurut pihak RS, penanganan lanjutan tak hanya sia-sia tetapi juga tidak manusiawi.

Tom, sang ayah, mengkritik keras kebijakan RS dan mengatakan putranya ibarat tahanan di RS akibat kesalahan diagnosa. Kasus ini pun maju ke persidangan hingga tingkat banding di Mahkamah Agung Inggris dan juga European Court of Human Rights (ECHR). Namun, upaya Tom, yang juga mendapat dukungan dari Paus Francis, tak berhasil. 

Persidangan yang berlangsung hingga hampir 4 bulan lamanya ini berakhir dengan keputusan RS bisa mencabut ventilator yang membantu kehidupan Alfie selama setahun lebih. Sementara di luar RS Adler Hey, ratusan pendukung Alfie, yang biasa disebut Alfie’s Army, berkumpul menuntut manajemen RS untuk mempertahankan hidup Alfie. 

| Tom dan Kate bersama si kecil Thomas | SHUTTERSTOCK

Kini, setahun lebih setelah kepergian Alfie. Meski kesedihan masih dirasakan Tom dan Kate, namun keduanya lebih bisa menerima. Apalagi, Agustus 2018 lalu keduanya dikaruniai seorang bayi laki-laki. Mereka harus menunggu 4 hari untuk sebelum bisa bertemu si kecil Thomas yang harus diobservasi, apakah ia mengalami nasib seperti kakaknya. 

Kate mengaku mulai berpikir untuk memiliki anak lagi ketika persidangan kasus Alfie tengah digelar. “Awalnya, sih takut. Selain takut bayinya bernasib sama seperti Alfie, kami juga takut tak bisa menerimanya karena masih terus terbayang Alfie,” lanjutnya. 

Apalagi, Tom memiliki kenangan yang sangat dalam dengan Alfie. Tom tak henti memberikan napas buatan mulut ke mulut bagi Alfie setelah selang ventilator dicabut. “Aku selalu ingat itu. Aku bisa mendengar napasnya yang lirih. Kate berupaya menghentikan upayaku tapi aku tak mau berhenti meski akhirnya aku tahu dia sudah pergi,” kata Tom mengenang. Setelah ventilator dicabut, pihak medis memperkirakan usia Alfie tak lama lagi. “Ternyata Alfie mampu bertahan 5 hari. Kami memangkunya dan bernyanyi untuknya.” 

| Kate dan si kecil Thomas di makam Alfie | Tom Evans

Kekhawatiran Tom dan Kate ternyata memang tak beralasan. Si kecil Thomas lahir dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit seperti Alfie. “Kehadiran Thomas menyembuhkan luka dan membangkitkan semangat hidup kami. Ia persis kakaknya. Ia seperti kembaran Alfie,” kata Kate. 

“Kami tak mungkin bisa melupakan Alfie. Kami bahagia Alfie punya saudara, tapi kami tak ingin Thomas melihat kami sedih terus. Thomas butuh lingkungan yang bahagia,” kata Tom yang berniat menyumbangkan donasi yang ia terima dari Alfie’s Army untuk membantu pasien anak-anak yang menderita penyakit parah seperti Alfie dan anak-anak penyandang disabilitas.  

 

 

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro