If you have never been hated by your child, you have never been a parent.
Bette Davis

Anak Takut Pada Sesuatu, Normalkah?

author
Hasto Prianggoro
Sabtu, 9 Maret 2019 | 19:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

Rasa takut merupakan emosi yang membantu anak agar waspada. Hal-hal baru, sesuatu yang besar, suara berisik dan hal-hal lain bisa membuat anak takut. Bagaimana orangtua bisa membantu mengatasi ketakutan anak?

 

Apa yang ditakuti anak berubah seiring tumbuh kembang mereka. Misalnya bayi menangis karena takut pada orang baru, anak batita takut ditinggal sendiri, sementara anak balita takut pada apa yang ada di bayangan mereka. Contohnya, mereka takut monster yang ada di bayangan mereka benar-benar nyata, takut ada makhluk menyeramkan di kolong tempat tidur, atau takut pada kegelapan dan tidur di kamar sendiri.

Bagaimana dengan anak yang lebih besar? Ketakutan anak-anak usia sekolah bukan lagi monster atau makhluk di bawah kolong tempat tidur. Mereka sudah memahami bahwa monster atau makhluk-makhluk itu tidak nyata. Beberapa anak di usia ini mulai takut sesuatu akan terjadi atau bakal mereka alami di kehidupan sehari-hari. Misalnya mereka takut ada orang jahat masuk ke dalam rumah, takut bencana alam bakal melanda tempat tinggal mereka, takut kehilangan orang-orag yang mereka cintai, atau murid sekolah takut menghadapi ulangan, takut nilainya jelek atau takut masuk ke lingkungan teman sekolah baru.

Kapan Anak Boleh Ditinggal Sendirian Di Rumah?

Apa yang harus dilakukan orangtua ketika anak takut? Pada bayi dan anak batita, orangtua bisa katakan, “Tidak apa-apa, Nak, kamu tak perlu takut. Kan, Bunda ada di sini..” Beritahu anak bahwa orangtua ada di samping mereka untuk menjaganya. Peluk dan hibur anak dengan kalimat lembut agar anak tenang.

Seiring perkembangan anak, bicara dan dengarkan curhatan anak. Bantu anak untuk mengungkapkan perasaannya dan mencoba hal-hal baru agar rasa takutnya teralihkan. Gunakan kalimat yang menenangkan dan membuat anak merasa aman.

Jika anak takut pada gelap, buat jadwal tidur yang rutin. Dampingi anak sampai ia merasa aman dan nyaman sebelum berangkat tidur.

| SHUTTERSTOCK
Bantu anak menghadapi rasa takutnya, tetapi jangan terburu-buru. Misalnya jika anak takut pada makhluk jahat di bawah tempat tidur, ajak dan dampingi anak untuk mengecek sendiri kolong tempat tidur. Biarkan ia melihat sendiri bahwa tak ada makhluk menyeramkan seperti yang ia takutkan.

Jika anak takut menghadapi ujian sekolah, bantu ia menyiapkan diri menghadapi tantangan dengan belajar lebih giat. Katakan bahwa jika ia menyiapkan diri dengan baik, tak ada yang perlu ditakutkan. Pastikan anak mengerti bahwa orangtua percaya padanya sepenuh hati.

Orangtua sebaiknya membawa anak ke dokter jika rasa takut membuat anak rewel atau tantrum berlebihan bagi anak seusianya, rasa takut membuat anak enggan melakukan aktivitas sehari-hari, atau menyebabkan gejala-gejala fisik seperti sakit perut, sakit kepala, berdebar-debar, dan sebagainya.

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro