It needs to be said and heard: it’s OK to be who you are.
Hailee Steinfeld

Cerita Bersambung: Kartu Pos Wini (Part 4)

author
Ruwi Meita
Jumat, 15 Maret 2019 | 19:00 WIB
kanya.id |

Kegalauan ini memengaruhi hubunganku dengan Reza. Aku jadi lebih sering menyalahkannya karena dia berada jauh di sana. Seharusnya dia pulang dan membantu anak-anak seperti Wini. Di Belanda semuanya mungkin jauh lebih mudah bagi penderita kanker, tapi di sini? Kenapa Reza begitu gelap hati untuk tak kembali dan mengabdi di negerinya sendiri.

Aku berulangkali bilang padanya, “Reza, tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Seharusnya kamu memahaminya. Kamu boleh muak dengan sistem di sini tapi itu hanya akan membuatmu berhenti untuk membantu orang-orang seperti Wini. Jika dokter-dokter sepertimu mulai muak dan pindah dari sini, apa anak-anak seperti Wini punya harapan?” Dan seperti biasa dia akan marah dan berkata, “Ruthie, aku nggak hanya diam saja di sini. Aku bekerja, aku mengabdikan seluruh hidupku untuk penderita kanker.”

“Apakah kamu pernah berkata sekali saja dalam hatimu ke manakah sejatinya panggilan hidupmu?” Reza hanya diam dan mulai berkata, “Aku nggak mau bertengkar denganmu Ruthie, bisakah kita membicarakan hal lain?”

Reza cukup bersyukur malam ini karena aku tidak mengajaknya bertengkar. Aku tak punya tenaga untuk itu, pikiranku masih kalut. Bayangan Wini yang tadi sore mengaduh kesakitan karena perutnya sakit masih menghantuiku.

“Limfanya membengkak, itulah kenapa dia sering mengeluh sakit perut,” kata Reza. Aku mengetuk-etukkan jariku di meja memandang gelas jus stroberi yang tadi kubeli di depan SMP 1. Malam-malam begini selalu penuh dengan orang yang berjualan makanan di sana. “Kamu kelihatan lesu Ruthie.” Aku menoleh ke  arah layar laptopku. Reza ada di sana. Tak lagi memakai sweater. Hanya kaos berwarna abu-abu dan celana panjang komprang. Katanya pemanas di rumahnya sudah tidak ngadat lagi. “Kamu masih memikirkan Wini?”

“Ya, dia selalu di pikiranku. Lihatlah kartu pos di belakangku tak banyak bertambah. Wini sering kelelahan dan tak sanggup menyelesaikan kartu posnya.”

Baca juga: Cerita Bersambung: Kartu Pos Wini (Part 3)

Reza memandangku, lalu dia menoleh ke belakang, “Sebentar ada telepon, aku menantikan telepon ini sejak tadi.” Dia berdiri dan menghilang. Hanya ada kamarnya yang berwarna abu-abu. Siapa yang menelponnya? Kenapa dia menunggunya sejak tadi? Apa ada seseorang yang dia tunggu? Aku menepuk pipiku. Ruthie, apa yang kamu pikirkan?

Tak lama kemudian Reza datang dengan membaca cangkir yang kelihatannya mengepul. Pasti secangkir cokelat panas, kesukaannya. “Maaf kamu harus menunggu. Telepon tadi penting sekali dan aku ingin mengatakanmu soal itu.”

Soal apa?

“Anna menelponku,” katanya. Reza berhenti sebentar sebab tak sabar hendak menyeruput cokelat panasnya. Anna? Siapa dia? Dia tak pernah menyebut nama perempuan sebelumnya. Aku menunggu dengan gelisah.

“Anna adalah salah satu temanku di AMC[1]. Dia baru saja bilang kalau ada satu tempat untuk penderita kanker di AMC untuk bisa dibiayai gratis asal ada penanggung jawab dari Belanda.”

“Benarkah? Tapi aku tidak kenal siapapun orang Belanda yang mau jadi penanggung jawab.”

“Tak harus orang Belanda. Aku bisa jadi penanggung jawab sebab aku bekerja di AMC.”

Aku hampir terjengkang karena senang.” Kamu?”

“Ya. Bisakah kamu menghubungi keluarga Wini dan menyiapkan semuanya. Nanti aku akan email apa saja yang harus diurus di Indonesia. Setelah semua selesai aku akan pulang ke Indonesia untuk menjemput Wini.”

“Kamu akan datang ke sini?” Aku lupa menutup mulutku karena antusias. “Jadi ada kemungkinan kita akan bertemu?”

“Ya Ruthie, apa kamu tidak ingin bertemu denganku?”

Delapan belas tahun aku menunggu. Tentu saja aku ingin bertemu dengannya. Aku selalu menunggu saat-saat seperti ini.

“Jika kamu ingin bertemu, aku tidak keberatan untuk bertemu denganmu,” kataku. Jawabanku memang sedikit berputar-putar. Dia mengernyitkan dahinya lalu tersenyum.

“Tapi kenapa kamu mau melakukan semua ini?” tanyaku.

“Sebab aku suka kartu pos Wini. Aku suka cara kamu membacakannya untukku.”

“Hanya itu?”

“Sebenarnya aku selalu teringat kata-katamu. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku ingin membantu Wini.”

Aku tersenyum lebar lalu mengacungkan gelas jus stroberiku. “Kalau begitu ayo bersulang. Untuk kesehatan Wini!” Reza mengacungkan cangkir cokelat panasnya. “Untuk setiap kartu pos yang kamu bacakan untukku!”

Kami tertawa. Terima kasih Reza, kamu mengembalikan semangatku. Reza melihat ke arah kameranya. Dia seakan menatapku. “Jadi adakah kartu pos yang akan kamu bacakan untukku?”

Aku mengangguk cepat dan mengambil sebuah kartu pos yang telah kusiapkan di mejaku. Kartu pos itu bergambar ribuan bintang di langit.

“Tuhan, aku rasa aku melihatMu berkedip semalam. Apakah itu artinya Kamu akan mengirimkan malaikat untukku?”

***

 

Saat aku memberitahu kabar itu pada Bu Rosiana dia menangis dan tak dapat kuhentikan. Setiap aku mencoba menenangkannya dia malah semakin terisak. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya sampai dia berhenti menangis.

“Mbak Ruth, saya tidak tahu bagaimana saya membalas kebaikan Mbak Ruth.”

“Jangan berterima kasih pada saya tapi pada Wini yang tak berhenti berharap lewat kartu posnya. Saya rasa Tuhan sudah menerima semua kartu posnya dan Tuhan sedang bekerja untuk Wini, Bu.”

Bu Ros mengangguk, saya menyentuh punggung tangannya, “Yang penting sekarang kita harus menyiapkan segala sesuatunya. Banyak hal yang harus kita urus.”

“Ya mbak Ruth, kami akan menyiapkan semua secepatnya.”

“Bolehkah saya bertemu Wini?”

“Ya, dia ada di kamarnya. Sedang menggambar.” Aku berdiri dan masuk ke kamar Wini. Gadis cilik itu tersenyum saat melihatku. Dia tak memakai penutup kepala. Aku bisa melihat kepalanya yang plontos.

“Hai Wini, Mbak ada sesuatu nih buat kamu.” Aku menyerahkan sebuah penutup kepala dengan hiasan bunga matahari di sampingnya. Aku membelinya lewat online dan baru saja dikirim pagi tadi. Wini tersenyum lalu menerimanya. “Wow, cantik sekali.”

“Kamu bisa memakainya kalau kita jalan-jalan lagi.”

“Hmmm…aku tidak memakai penutup kepala lagi kalau keluar. Aku harus jadi anak yang berani. Mbak Ruth tidak malu, kan jalan-jalan sama aku meski aku tidak memakai penutup kepala?” Aku mengangguk. Mataku berkaca-kaca, “Untuk apa Mbak malu. Mbak justru bangga sama kamu Wini.”

“Terima kasih sudah mau jadi temanku, Mbak. Aku tidak punya teman, kalaupun ada, mereka tak mau lebih dekat denganku. Mereka takut denganku. Mereka takut kalau aku mati tiba-tiba.” Diam-diam aku meneteskan air mata namun kupalingkan wajahku dan kuusap dengan cepat.

“Mbak Ruth punya teman karib?”

Aku teringat dengan Reza, “Ya, aku punya. Aku mengenalnya sejak aku SD. Sampai sekarang kami masih berteman baik. Namanya Reza.”

“Cowok ya?” Aku mengangguk.

“Sekarang jadi pacar mbak Ruth?” tanya Wini polos sambil menggoreskan crayon warna merah di kartunya. Aku tertawa kecil, “Ah, pacar apa? Mbak Ruth malah belum pernah ketemu sama Reza.”

Wini terdiam lalu menoleh padaku, ”Kok Bisa?”

“Reza itu sahabat penaku. Kami hanya bersurat-suratan saja, Kalau sekarang kami Facebook-an. Rumahnya jauh, di Belanda. Dia seorang dokter. Dan tahu nggak? Dia ingin membantumu. Kalau kamu mau, dia bisa membawamu ke Belanda untuk berobat. Dia akan menjemputmu kemari.”

“Benarkah? Apakah dia malaikat yang Tuhan kirimkan untukku?”

“Boleh dibilang seperti itu.”

“Dia tak hanya malaikatku, tapi malaikat mbak Ruth juga. Jika dia menjemputku berarti mbak Ruth akan ketemu dengannya kan?”

“Ya, tentu saja.”

“Kalau begitu aku mau ke Belanda.”

“Benarkah?”

Wini mengangguk. Aku memeluknya dan Wini berbisik, “Tuhan bilang kanker tidak akan bisa membunuhku.” Dadaku terguncang dan tangisku tak dapat kutahan. Airmataku berderai. Wini mendekapku lebih erat. Tangannya yang mungil menepuk-nepuk punggungku, berusaha menenangkanku.

***

 

“Seneng banget sih hari ini. Meski bos kita ngomel-ngomel kamu tetep aja tersenyum. Kesambet ya?” tanya Mbak Dewi. Tadi pagi Pak Syamsuri memang marah-marah. Entahlah dia marah pada apa. Sepertinya seluruh jiwanya memang berisi kemarahan.

“Iya Mbak, urusan kami sudah hampir selesai. Sebentar lagi Wini bisa dibawa ke Belanda.” Aku memang sering menceritakannya sama Mbak Dewi dan teman-teman kantor lain. Mereka ikut bersimpati. Kadang mereka sering menitipkan sesuatu untuk Wini kepadaku. Entah itu boneka, makanan, atau buku bacaan.

“Syukurlah. Berarti si ehem itu jadi datang dong. Senangnya dobel deh.”

Aku tersipu malu. Mbak Dewi sudah kuanggap kakak, umurnya lima belas tahun lebih tua dariku. “Ah biasa aja kok.”

“Biasa apaan? Pipimu sudah merah menyala seperti itu. Nggak ada yang biasa untuk harapan yang sudah kamu tunggu selama delapan belas tahun.”

Aku ingin memprotesnya tapi ponselku keburu berdering. Dari nomer Bu Ros.

“Halo, ada apa Bu?”

Aku tak mendengar suara Bu Ros. Hanya suara kemresek dan keributan di belakangnya. Hatiku berubah tak enak.

“Bu Ros?”

“Mbak Ruth ini saya, Santi, sesuatu terjadi sama Wini. Bisakah mbak kemari?” Santi adalah keponakan Bu Ros.

“Ada apa San?”

Telepon ditutup. “San…Santi?!” kataku. Aku termangu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa Ruth?” tanya Mbak Dewi. Aku tergeragap. Suara Mbak Dewi menyadarkanku bahwa aku harus segera bergegas.

“Mbak, aku harus pergi. Tolong gantikan loketku kalau ada orang datang. Ini penting banget. Sesuatu terjadi sama Wini.”

Mbak Dewi mengangguk. Aku segera berlari menuju motor yang kuparkir. Saat memasuki jalan di rumah Wini aku melihat kerumunan orang di rumah Wini. Tubuhku melemas. Berulang kali aku mengucap doa, semoga apa yang kulihat tidak seperti yang kuduga.

Orang-orang menatapku saat aku memarkir motor. Aku semakin gelisah. Kerumunan itu membuka jalan untukku. Aku berjalan dengan tergesa. Saat sampai di pintu Bu Ros menubrukku, ”Mbak Ruth, maafkan Ibu. Ini salah Ibu. Maafkan Ibu.”

Aku bingung. Badanku terguncang-guncang karena Bu Ros yang histeris. Beberapa sanak saudaranya berusaha menenangkan Bu Ros. Pandanganku lurus ke dalam rumah. Beberapa ibu-ibu sedang meronce melati. Tiba-tiba aku paham sekaligus juga terpuruk. Aku jatuh terduduk.

“Mbak Ruth!”

Aku menoleh ke arah mereka yang meneriakkan namaku tapi aku tak bisa melihat mereka. Mataku menggelap.

Hatiku menjerit, ”Tuhan, kenapa?”

 

|BERSAMBUNG

 

[1] Academisch Medisch Centrum

 

 

 

Ruwi Meita, penulis novel kelahiran Yogyakarta yang telah mengadaptasi 11 skenario layar lebar ke dalam novel. Selain novel adaptasi, Ruwi Meita juga menulis 9 novel mandiri antara lain Rumah Lebah: Rahasia Wajah-Wajah Asing, The Sex On Chatting, The Apuila’s Child, Cruise Chronicle, dan lainnya. Novelnya Misteri Patung Garam telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu di Malaysia.

Ruwi juga dikenal sebagai penulis cerpen di berbagai media seperti HAI, GADIS, KAWANKU, FEMINA, dan koran Tempo. Cerpennya Pulung Gantung berhasil menang juara satu Kompetisi Tulis Nusantara. Sementara Pemutar Aroma dan Menghidu Warna menyabet Juara 3 Sayembara Femina 2014 dan 2016.

Sejak 2013 Ruwi Meita mulai melirik dunia skenario dan menulis skenario animasi Diva Series, Uwa and Friends, dan film pendek Through Her Eyes. Film pendek Sasi Takon yang diangkat dari cerpen Ketika Sasi Bertanya karyanya diputar di Jogja Asian Film Festival 2015 dan dipanggungkan dalam pementasan Bertiga Bukan Dara di IFI Yogyakarta 7-8 Maret 2016. Impiannya adalah menulis skenario layar lebar dan menonton karyanya sendiri di bioskop sambil ngemil popcorn.  

Penulis Ruwi Meita
Editor Ratih Sukma Pertiwi