Try to be a rainbow in someone else’s cloud.
Maya Angelou

Humor Juga Penting Bagi Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orangtua

author
Hasto Prianggoro
Rabu, 3 April 2019 | 12:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

 

Kita pasti pernah melihat bayi atau anak tertawa terpingkal-pingkal melihat sesuatu, bukan? Ya, anak juga butuh humor atau lelucon. Fakta menunjukkan bahwa anak-anak yang suka humor lebih mudah bersosialisasi dan lebih sehat.

 

Tahukah Bunda, anak-anak yang berkembang dengan selera humor yang bagus ternyata akan menjadi anak-anak yang bahagia dan lebih optimis? Ya, humor ternyata bukan monopoli orang dewasa. Anak-anak pun butuh humor atau lelucon karena bisa membuat mereka lebih percaya diri dan berkomunikasi dengan orang lain. Coba perhatikan, anak-anak yang humoris dan melempar lelucon pasti lebih disukai teman-temannya, baik di sekolah maupun lingkungan rumah.

Humor tak hanya membantu anak secara emosional dan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang banyak tertawa akan lebih bahagia sehingga lebih kecil kemungkinan mengalami stres. Mereka juga lebih sehat, lebih tahan sakit, dan fungsi kekebalan tubuhnya meningkat.

Baca juga: Anak Harus Berhenti Mengempeng Sebelum 2 Tahun

Di usia setahun, anak sudah cukup memahami kehidupan di sekitarnya dan bisa merespons humor yang dilontarkan, misalnya ketika orangtua memakai topi bebek dan menirukan bunyi bebek, anak kemudian tertawa karena lucu. 

Semakin bertambah usia (2-3 tahun), anak mampu memberi respons terhadap humor fisik atau slapstik, khususnya yang memiliki elemen kejutan. Misalnya cilukba atau ketika tubuhnya digelitik. Ketika kemampuan berbahasa mereka semakin baik, anak akan merespons lelucon dari bunyi-bunyian yang keluar dari mulut. 

Di usia ini anak juga mulai berusaha membuat orangtua atau orang di sekeliling mereka tertawa. Misalnya, ketika ditanya, “Mana hidungnya?” Mereka menunjuk ke arah mata atau telinga, atau menyembunyikan barang-barang di sekitar rumah. 

| SHUTTERSTOCK
Ketika memasuki usia prasekolah, anak lebih tertarik pada lelucon tentang sesuatu yang aneh. Misalnya melihat gambar kucing memakai kacamata, mobil beroda kotak, dan sebagainya. Ketidaksinkronan antara gambar dan suara juga menarik saraf humor mereka untuk aktif, misalnya ketika melihat gambar kuda tetapi bersuara seperti sapi, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana orangtua bisa membantu mengembangkan sense of humor anak? Tak ada kata terlambat untuk ini. Tanpa disadari, orangtua sebenarnya sudah mulai melakukannya sejak anak masih bayi. Contohnya menggelitik tubuh bayi, menggerak-gerakkan muka, dan sebagainya. 

Orangtua juga harus menjadi role model. Buatlah joke atau cerita lucu, lalu tertawa lepas. Ketika anak yang membuat lelucon, beri respons positif seperti tertawa dan beri pujian. Tunjukkan bahwa humor atau lelucon bisa menjadi sarana komunikasi yang efektif dengan teman atau keluarga. 

Selera humor anak juga bisa dikembangkan dengan menyediakan bahan-bahan lelucon seperti buku, komik, program TV, web, dan sebagainya. Bantu mereka memilih mana buku atau tayangan yang tepat bagi usia mereka.  

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro