I think the girl who is able to earn her own living and pay her own way should be as happy as anybody on earth. The sense of independence and security is very sweet.
Susan B. Anthony

Yuk, Diet Plastik!

author
Ken Terate
Sabtu, 27 April 2019 | 20:00 WIB
diet plastik | shutterstock

 

Minggu ini untuk memperingati hari Kartini Kanya.id mengangkat tema “Perempuan Diet Plastik”. Bravo! Tema ini sangat pas mengingat perempuan punya peran besar dalam menyelamatkan lingkungan dari timbunan plastik. Kok bisa? Karena di kebanyakan rumah tangga, perempuanlah yang memutuskan produk-produk yang dikonsumsi keluarga; mulai dari baju sampai makanan. Mau pilih tempe dibungkus daun atau dibungkus plastik? Biasanya, ibu –perempuan—yang menentukan. 

Sejak  bertahun-tahun lalu, sebelum kampanye lingkungan bergema keras, saya sudah menyadari bahaya plastik dan berusaha mengurangi penggunaannya.  Saya nyaris selalu bawa tas belanja sendiri. Keluarga kami memisah sampah dan mengolah sampah organik sendiri. Ke mana-mana kami bawa botol minum isi ulang. Kini syukurlah sampah anorganik bisa kami setor ke bank sampah.Kami juga bisa mendapatkan beberapa tangkai sedotan logam yang bisa dipakai ulang.

Tapi sampai detik ini, saya masih kadang malu pada diri sendiri dan merasa bersalah pada bumi karena usaha saya belum cukup maksimal. Haduh, maaf ya bumi. Ini daftar dosa-dosa saya empat hari ini: 

Jumat:

Hari ini menu keluarga adalah ayam lada hitam. Saya bawa kotak untuk beli ayam di pasar. Saya juga bawa tas-tas kain untuk mewadahi buncis, wortel, dan bawang merah. Score! Tanpa dosa nih. Tapi sorenya saya sekeluarga main ke water park. Sialnya, saya lupa bawa sampo dan sabun. Walhasil, saya beli sampo sachetan, hiks. Kami juga memesan tempe mendoan di sana dan alih-alih ditata di atas piring, tempe mendoan itu disajikan dalam kantong plastik. Double hiks.

Baca juga: Perjalanan Kantong Plastik Perusak Bumi

Sabtu:

Karena masih ada beberapa lauk di kulkas, saya tidak memasak. Si buyung latihan di klub seni dan harus membawa potluck. Saya membeli bolang-baling dengan membawa besek sendiri. Saya juga beli salak dengan tas kain sendiri. Hore, relatif sedikit nih dosanya. Malamnya ada teman datang. Kami ramai-ramai beli nasi goreng, mi goreng, dan dim sum untuk di makan di rumah.  Saya bawa wadah untuk tiga menu itu. Tapi tetep dong, acar bakmi dan sambal dim sumnya dibungkus plastik. Yah, untungnya plastiknya cuma kecil gitu (menghibur diri).

Yuk, diet plastik | shutterstock

Minggu:

Huaaa. Diet plastiknya hancur lebur nih. Ini jadwal saya belanja mingguan di supermarket. Susah banget diet plastik di sini. Oke, saya bawa tas belanja dan wadah telur sendiri. Saya beli semangka utuh yang tidak disajikan dalam stereofoam. Tapi tetap saja, saya beli minyak goreng kemasan (meski saya beli kemasan besar), sabun cuci piring (refill sih, tapi ya tetap plastik), gula (dalam kemasan plastik), kopi (saya pilih kemasan besar, tapi sialnya karena mengandung aluminum foil, kemasan semacam ini bakal ditolak oleh bank sampah), biscuit (karena anak saya minta, dan oh, ini juga beraluminum foil), es krim, nata de coco (lagi diskon) dan… sudahlah, saya tak mampu lagi menuliskannya.

Baca juga: 7 Fakta Sampah Plastik

Senin

Nyaris sukses. Nyaris. Semua belanjaan masuk ke kantong dan kotak makan yang dibawa dari rumah, kecuali satu: puding. Si buyung merengek-rengek minta puding. Hiks-nya puding ini sudah terkemas dalam cup plastik! Pudingnya bakal habis dalam lima menit tapi plastiknya mungkin saja mencemari lingkungan hingga puluhan tahun mendatang (meski saya setor ke bank sampah, bisa saja kan dia tercecer atau tak terdaur?).

Hadeh ternyata diet plastik tidak gampang. Saya belum membicarakan mainan anak, wadah kosmetik, hingga gawa yang saya gunakan yang semuanya mengandung plastik. Tetapi saya tak akan menyerah. Kalau belum bisa zero waste minimal saya mengurangi! Dan sebenarnya saat kita mengurangi plastik, tak hanya bumi yang tambah sehat, kita pun juga karena kita bakal menjauhi produk kemasan yang rata-rata nggak sehat buat tubuh kita. Lebih hemat pula, kan? Meski saya belum berhasil mencapai zero waste (dan masih jauh banget rasanya), saya tak bakal berhenti berusaha.

Selamat berdiet plastik kartini-kartini Indonesia.

 

 

Niken Terate

kenterate@gmail.com

Memulai debut sebagai penulis profesional sejak bangku kuliah. Telah menghasilkan belasan novel, cerpen, dan artikel. Baginya hidup terasa sempurna bila bisa menikmati teh hangat sambil ngobrol seru dengan orang-orang dekat.

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi