Women, like men, should try to do the impossible. And when they fail, their failure should be a challenge to others.
Amelia Earhart

Menikmati Perubahan

author
Sundari Hana Respati
Minggu, 12 Mei 2019 | 20:00 WIB
|

 

“Kamu berubah, kamu sudah tidak seperti dulu lagi.”

Kalau aku membaca kalimat itu dulu, mungkin aku akan mengkaitkannya pada sepasang remaja yang mulai bosan dalam hubungan yang disebut pacaran. Kalimat yang ujung-ujungnya perpisahan.

Tapi, sekarang, kalimat itu tak selalu berkaitan dengan rasa sakit hati. Karena nyatanya, tak akan ada yang tak tersentuh perubahan. Jalanan yang kau lewati tiap hari, pudarnya cat tembok luar rumahmu tanpa kau sadari, senyum ayah ibumu yang menua meski sama teduhnya, banyak lagi.

Kita semua mengalami perubahan.

Semenjak menikah, perubahan sangat amat terasa. Orang-orang baru, suasana baru, status baru, banyak hal baru. Aku merasa hidupku seperti diburu-buru. Perkenalan yang singkat, menikah, meninggalkan Jogja, berkenalan dengan Gresik, pindah ke Manado, kemudian sekarang menjalani hubungan pernikahan jarak jauh karena persiapan melahirkan di Jogja sedangkan suami tetap harus bekerja di Manado, dan sebentar lagi insyaAllah aku akan menjadi seorang Ibu.

Baca juga: Perempuan (Harus) Antihoaks

Pernah suatu malam aku menangis ketakukan. Merasa tidak siap dengan keadaan. Merasa semua seakan tergesa-gesa. Tapi ternyata yang membuat hati sempit adalah rasa syukur yang sedikit. Kalau kata ibu mertuaku, “Nyawang ngisor, ojo nyawang ndukur.” Lihat ke bawah, jangan lihat ke atas. Ada banyak orang yang berdoa dan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang aku punya sekarang.

Agaknya peringatan untuk bersyukur ini tak cukup sekali.

| SHUTTERSTOCK

Kalau kata seorang teman, tidak ada kata nyaman dalam awal perubahan. Semua butuh adaptasi, penyesuaian diri, meski pun perubahan yang kita alami adalah perubahan yang baik atau ke arah yang lebih baik.

Banyak pelajaran di tengah perubahan. Perjalanan masih panjang, perubahan akan terus berdatangan. Perubahan selalu membuat kita keluar dari zona nyaman. Tapi, tak apa. Kata bapakku, “Buatlah zona nyaman di banyak situasi. Ketika kita bertemu dengan perubahan, berarti saatnya kita memperluas zona nyaman.”

Dan yang lebih penting lagi, menerima perubahan menjadi teman. Sehingga kita bisa menikmati perubahan.

 

 

Sundari Hana Respati

IG @sundarihana

Blogger kelahiran Duri, 6 September 1992 yang menikmati kehidupan sebagai ibu rumah tangga baru. Selain aktif menulis di blog dan media sosial, lulusan S1 Gizi Kesehatan UGM ini sangat hobi nonton drama Korea.

 

Penulis Sundari Hana Respati
Editor Ratih Sukma Pertiwi