Kekecewaan itu harus kita salurkan dengan bekerja lebih baik lagi dan bekerja keras untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Sri Mulyani

Cerita Bersambung: Mertua Untuk Lalan (part 4)

author
Ken Terate
Senin, 13 Mei 2019 | 17:00 WIB
| kanya.id

Lalan

“Ndaru kamu bawa apa itu?”

“Laundry,” Ndaru menjawab pertanyaan ibunya dan Lalan menangkap ketidaksukaan di dalamnya.

Ow, ini dia. Batin Lalan nelangsa. Sudah tiga minggu mereka tinggal di rumah ini dan keadaan yang semula baik-baik saja—cenderung menyenangkan—perlahan-lahan mulai panas. Lalan sibuk sekali. Selain menyelesaikan lukisan dan bertemu dengan para klien, ia juga harus mengawasi renovasi apartemennya. Bukan renovasi berat, tetapi harus diawasi. Beberapa hari ini puncaknya. Lalan selalu pulang dalam keadaan capek dan tak sempat melakukan pekerjaan apa pun, apalagi mencuci. Biasanya Ndaru yang mengambil alih pekerjaan itu, tetapi koreksi ujian menguras waktu dan energinya.

“Kenapa harus ke laundry? Lalan seharusnya bisa mengerjakan itu. Toh gampang. Tinggal masukin ke mesin cuci.”

“Maaf, Bu, saya sedang tak sempat. Tak mengapa ke laundry kadang-kadang,” Lalan menjawab lemah. Kemarin ibu mertuanya menyindirnya gara-gara jajan tempe penyet. “Aduh, kenapa beli sih? Berapa harganya tuh? Kalau bikin sendiri kan lebih hemat.” Ibu mertuanya mengatakan itu dengan tersenyum, tapi perasaan Lalan tertusuk. Ia mendengar nada lain di baliknya, tetapi berusaha berpikir positif. Mungkin karena ia sedang lelah.

“Tapi boros, kan? Dan hasilnya nggak bersih juga. Setrikaannya sering ngawur.”

“Aku nggak keberatan,” Ndaru mengecup pipi Lalan sekilas, menyambar tas dan berkata cepat, “Sampai nanti, sayang. Kabari aja butuh dijemput di mana.”

Laki-laki itu melesat, menggendong buntalan berisi baju kotor dan dalam sekejap mobilnya sudah menderu.

“Kamu tidak mengantarnya sampai pintu?”

Kepala Lalan berdenyut. Matanya terasa berat. Ia hanya tidur tiga jam tadi malam. Setelah ini ia harus mandi, berburu cat untuk dinding apartemen, membeli suplai alat lukis, bertemu dengan dealer, lalu menghadiri workshop. Lukisan yang seharusnya sudah jadi masih jauh dari sempurna. Ia khawatir tak bisa memenuhi tenggat, tetapi moodnya kacau sekali beberapa hari terakhir.

Ibu mertuanya sama sekali tak menolong. Apa pun yang ditorehkannya selalu dikomentari. Komentar konyol sayangnya. “Kenapa itu tangannya bengkok? Kenapa warna rambutnya biru? Kenapa rumahnya terlalu kecil. Tidak sebanding dengan pohonnya. Masak pohon dan rumah sama. Dosenmu tidak pernah memebetulkan gambarmu?”

Lalan tak mungkin menjelaskan segala macam teori seni rupa. Ibu mertuanya jelas tak mengerti apa-apa soal seni rupa. Itu hal biasa. Banyak orang tak mengerti soal lukisan atau tidak menyukai lukisannya, tetapi setidaknya mereka tidak pernah mengkritik atau mempertanyakan.

“Jadi yang dipajang di kamar itu lukisanmu, toh? Aku heran kenapa kamu nggak menggambar pemandangan saja? Itu cantik dan cocok dipajang di mana pun. Tetapi gambar anak-anak dengan bibir lebar kayak gitu bukannya… mengerikan?”

Lalan harus berkali-kali menahan napas, mengingatkan diri sendiri bahwa ibu mertuanya memang tak mengerti, bukannya mau nyinyir. Ia membalas dengan kalimat-kalimat singkat dan sederhana. Ia berusaha tetap ramah dan tersenyum, tetapi ketika sedang capek dan entah gimana berkali-kali goresan yang ia torehkan tak sesuai dengan keinginannya, Lalan jadi frustrasi, ingin menjerit. Bila sudah begitu tak ada cara lain kecuali menyudahi kegiatannya dan pergi.

Apakah ini yang dikhawatirkan Ndaru selama ini? Ibu mertuanya tak terang-terangan menentangnya, tetapi dengan caranya sendiri yang halus dan tak kentara ia menggiring Lalan pada gagasan ‘perempuan ideal’ yang sungguh sangat ketinggalan zaman dan tak bakal sudi Lalan turuti.

Teras belakang yang dulu ia pikir tenang untuk melukis, menjadi terlalu berisik dan panas. Kadang Lalan sengaja melukis di larut malam, saat ibu mertuanya sudah tidur. Tetapi perempuan itu selalu terbangun, menghampirinya dan berkata, “Kenapa masih menggambar selarut ini? Bukankah seharusnya kamu… hmm… melayani suami?”

Melayani?

“Bagaimana kalian akan punya anak bila kamu kerja saat Ndaru ada di rumah?”

Anak?

“Kami akan punya anak bila sudah siap.”

Mertuanya akan mendesah dan berkata, “Ah, kalian anak sekarang. Umurmu tak akan lebih muda. Ingat itu.”

 

Tak bisa disangkal, Lalan mengalami semacam ‘gegar budaya’. Iya tahu banyak keluarga masih memegang nilai-nilai konvensional dalam pembagian tugas. Keluarganya sendiri masih begitu. Ayah ibunya tergambar sempurna dari iklan sabun cuci; ayah berangkat ke kantor, ibu mencuci baju dengan deterjen wangi. Tetapi Ndaru tidak begitu. Ibunya mungkin begitu, tetapi sungguh deh, seharusnya ia tak campur tangga anaknya. Aneh bila ibu mertuanya sewot saat Ndaru mengurusi baju kotor saat Ndaru sendiri sama sekali tak keberatan.  Termasuk dalam urusan teh!

 “Ndaru sebentar lagi pulang. Kamu nggak menyediakan teh?”

Menyediakan teh?

“Ndaru bisa membuat sendiri, Bu,” Lalan menjawab sambil tersenyum.

“Terus apa gunanya dia menikah kalau begitu?”

Tunggu, memangnya Ndaru menikah agar punya pembantu? Lalan ingin menjerit.

Lalu urusan memasak.

“Kamu nggak masak? Suami harus dimanjakan perutnya! Kalau tidak dia bakal keluyuran untuk mencari makana dan akhirnya ketemu perempuan lain”

Tetapi giliran Lalan measak, komentarnya lain lagi, “Kenapa kamu masak kayak gini? Sayuran mentah. Mana Ndaru doyan.” Sia-sia saja menjelaskan bahwa selama ini Ndaru makan apa saja yang ia hidangkan.

Tenggat pekerjaan dan renovasi apartemen yang ternyata tak berjalan mulus membuat Lalan uring-uringan. Semua campur tangan ibu mertuanya terasa tertahankan. Memangya kenapa bila ia pergi ke Indomaret memakai celana pendek tanpa bedakan?

Lalan berusaha menyabarkan diri sebisanya. Ndaru juga tengah berkutat dengan proposal untuk kuliah S3. Ia tak ingin menambah beban suaminya meski ia tahu benar hanya dengan sekali mengeluh, Ndaru akan menyelesaikan semuanya. Beberapa kali Ndaru bilang, “Kalau ibuku membuatmu susah, membuatmu menangis, bilang padaku. Kita akan meninggalkan rumah ini saat itu juga.”

           

 

Yayuk

Matanya membelalak lalu meredup menyaksikan Ndaru melipat baju-baju itu. Di ruang tamu dengan santai anaknya itu menonton TV sambil melipat handuk, kaus, rok, lalu bra berenda!  Yayuk yang melihat saja risih.

Yayuk duduk di samping Ndaru, dan tangannya otomatis terulur mengambil selembar kaos.

“Kamu nggak bisa melipat dengan rapi. Bukankah dulu aku sudah mengajarimu?”

Yayuk memang mengajari Ndaru dan Praba ketrampilan-ketrampilan praktis. Semata-mata agar mereka tak kesulitan bila jauh dari rumah. Tetapi ia bisa melihat ketrampilan itu tak dikuasai Ndaru dengan baik. Yayuk mendesah, ia kecewa sekaligus jengkel. Ndaru sangat jarang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yayuk selalu membereskan segala hal itu untuknya. Tapi sekarang ia punya istri! Demi Tuhan, pantaskah seorang dosen melipat… apa itu….? Apakah itu celana dalam? Astaga, kenapa hanya terdiri dari tali dan sedikit kain. Adih!  Yayuk memejamkan mata seolah pemandangan itu menusuk matanya.

“Ke mana istrimu?” tanya Yayuk sambil membuka satu lipatan yang tak rapi.

“Ke galeri. Ada temannya yang pameran.”

“Apa harus dia sering keluar seperti itu?”

“Kalau dia berangkat berarti itu harus.”

“Tapi itu artinya dia menelantarkanmu!”

“Terlantar?” Ndaru tertawa. “Aku ada di rumah, kenyang, nonton TV. Aku nggak tahu di mana terlantarnya!”

Ndaru mengeraskan volume TV dan Yayuk hanya bisa memendam kesal sambil terus melipat baju.

 

Yayuk tak pernah menyangka ia masih harus melipat baju Ndaru setelah anaknya itu menikah. Tak hanya melipat baju Ndaru, tetapi juga baju istrinya yang terus terang menurut Yayuk menjijikkan. Ia terbiasa dengan celana dalam dan bra polos, dengan model paling konvensional. Tetapi menantunya ini seperti seorang model porno saja.

Tapi ketika ia menggumamkan hal ini, Ndaru menyahut, “Ibu nggak perlu melipat baju ini kalau nggak mau. Nggak ada yang minta juga.”

Yayuk mengumpat dalam hati. Mana tahan ia melihat baju yang dilipat asal-asalan? Kenapa istri Ndaru enteng sekali mengabaikan pekerjaannya?

Hah, enak sekali perempuan itu, batin Yayuk gemas. Dihidupi oleh Ndaru dari kepala sampai kaki (tempo hari Ndaru membelikannya kalung yang Yayuk tahu pasti sangat mahal), tetapi bisa dengan seenaknya bangun pagi, masak seadanya (tak jauh-jauh dari salad tanpa rasa dan nasi goreng. Lalan bahkan menolak masak tongseng dengan resep andalan Yayuk!), Menantunya itu juga ngeluyur ke sana ke mari sampai malam dan Ndaru membiarkannya. Bahkan kadang dilihatnya Ndaru memijat dan membuatkannya kopi. Lalan cerewet sekali soal kopinya (harus yang jenis ini, tanpa gula, disajikan begitu begini) dan Ndaru dengan sabar meladeninya.

Ini tidak benar, batin Yayuk gemas. Harus ada yang meluruskan mereka. Ada apa dengan perempuan-perempuan zaman sekarang yang katanya pandai ini? Bagaimana mereka bisa seenaknya bangun siang dan membiarkan suaminya membuat jus sawi, nanas, dan entah-apa? Kalau ini terjadi pada zaman ia menjadi pengantin baru, pasti Lalan sudah dikembalikan pada orangtuanya atau minimal dipermalukan di depan umum.

Dulu Yayuk selalu bangun paling pagi di rumah besar mertuanya dan tidur paling akhir. Pekerjaan rumah tangga tak ada habisnya. Sesakit dan secapek apa, ia harus siap untuk melayani suami dan mertuanya, entah yang menginginkan rokok di tengah malam atau memperbaiki kancing baju yang mendadak copot dan akan segera dipakai.

Mertuanya begitu cerewet dan galak. Dadanya masih sering berdebar bila teringat kata-katanya yang pedas. Agak aneh karena mertuanya itu bahkan sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu. Toh sekarang ia mensyukurinya. Berkat ketegasan mertuanya ia jadi pandai memasak berbagai hidangan, menjahit baju, dan menyanggul rambut.

Ia bertekad tak akan meneruskan kejudesan mertua. Ia berniat memperbaiki Lalan sehalus mungkin.  Masalahnya, menantunya itu tak sedikit pun berubah. Sudah hampir enam minggu mereka tinggal di rumah ini dan Yayuk merasa kelakuannya makin parah. Padahal Yayuk sudah sangat, sangat menahan diri. Terutama karena mengingat ancaman anaknya.

Tetapi kali ini ia tak bisa menahan lagi. Ketegangan merambat cepat ke ubun-ubunnya. Sprei tak lurus dan kendor, baju kotor menumpuk di keranjang, lantai terasa berdebu di telapak kaki. Kamar macam apa ini? Kamar itu memang tidak berantakan, tetapi jelas tidak memenuhi standar. Huh, dasar menantu kumratu-ratu, batinnya senewen.

Yayuk meringsek masuk kamar yang memang tak pernah dikunci bila anak dan menantunya tak ada di rumah. Ia mengedarkan pandangan geram, membayangkan apa yang harus ia lakukan untuk membuat menantunya sadar! Ia melangkah mondar-mandir, meluruskan korden, menyingkirkan kertas. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu di atas meja. Ada tumpukan buku. Hm, buku apa itu? Ia penasaran. Bentuknya kecil, seperti buku harian. Apakah menantunya itu menulis buku harian?

Yayuk mengambil satu, membuka-bukanya dan kecewa karena isinya hanya sketsa-sketsa. Tak ada yang menarik, tetapi…. selembar kertas jatuh melayang. Yayuk memungutnya. Bon restoran. Astaga lihat itu kopi seharga lima puluh ribu, sepiring pasta tujuh puluh lima ribu! Mata Yayuk nyaris keluar melihat angka di akhir bon; sejuta sekian! Badai mengamuk di dada Yayuk. Menantunya menghambur-hamburkan uang Ndaru untuk berpesta dengan teman-temannya! Apakah Ndaru tahu kelakuan istrinya? Kesabaran yang sudah tipis makin tipis, bagai balon siap meletus.

 

 

BERSAMBUNG|

 

Niken Terate

kenterate@gmail.com

Memulai debut sebagai penulis profesional sejak bangku kuliah. Telah menghasilkan belasan novel, cerpen, dan artikel. Baginya hidup terasa sempurna bila bisa menikmati teh hangat sambil ngobrol seru dengan orang-orang dekat.

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi