In politics, if you want anything said, ask a man; if you want anything done, ask a woman.
Margaret Thatcher

Menyapih dan Menyapih Lagi

author
Ken Terate
Sabtu, 3 Agustus 2019 | 19:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

Bulan lalu anak sulung kami (8 th) resmi punya kamar sendiri. Sudah lama sebenarnya ia minta kamar sendiri, namun karena kami belum sempat merenovasi –belum sempat uangnya haha--, jadilah keinginannya tak bisa segera kami penuhi.

Begitu kamarnya siap huni, tanpa menunda ia angkut semua barang-barangnya dari kamar kami; mulai dari mainan, buku-buku, sampai baju. Seolah-olah ia tak bakal kembali ke kamar orangtuanya lagi.

Duh, kok kami jadi baper. Suami terutama, merasa mellow dan membujuk si buyung untuk menunda pindah kamar. Ia tak siap ‘berpisah’ dari si kakak. “Rasanya kosong gitu, nggak bisa meluk mereka saat tidur.”

Waduh, ditinggal pindah kamar aja rasanya menyayat hati, gimana besok bila ia pamit kuliah di luar kota? Saya sendiri merasakan pahit manis khas orangtua galau. Di satu sisi saya senang si kakak sudah mulai menunjukkan kemandirian dan mencoba menemukan ‘dunianya’ sendiri, di sisi lain, saya sedih dan panik, “Aduh, gimana nanti kalau dia bangun di tengah malam dan ketakutan?”, “Gimana kalau dia nggak konsisten membereskan kamarnya sendiri? Tambah dong kerjaanku.” Dan seterusnya, dan sebagainya.

Baca juga: 10 Tips Memilih Dekorasi dan Furnitur Kamar Anak

Tetapi apa iya saya lebih suka dia nempel terus pada saya? Pada orangtuanya?

Saya sadar suatu saat anak-anak akan menjauh dari orangtuanya. Itulah yang seharusnya. Mereka kudu lepas dan menjadi pribadi yang berdiri sendiri. Proses ini menggairahkan, sekaligus menakutkan bagi kedua belah pihak. Meskipun anak-anak kadang tak sabar untuk masuk Taman Kanak-Kanak, pada minggu pertama, bisa jadi mereka menangis ketika orangtua tak lagi mendampingi. Orangtuanya demikian pula, kadang merasa cemas dan khawatir saat si anak tak lagi berada dalam pengawasan langsung mereka.

Sebenarnya sejak mula alam sudah mempersiapkan kita untuk proses semacam ini, terutama bagi para ibu. Si anak yang lekat dalam kandungan pada saatnya lahir akan dan berpisah dari tubuh ibunya. Syukurlah, masih ada tahap menyusui yang membuat anak lekat nyaris tanpa jarak. Tapi beberapa tahun kemudian, tiba saat penyapihan. Frekuensi menyusu perlahan berkurang lalu berhenti sama sekali. Percayalah, ini juga saat-saat emosional (eh, bagi saya begitu, sih). Tapi ini membuat saya jadi agak terlatih saat anak-anak perlahan mulai mandiri, termasuk saat minta berkamar sendiri.

Baca juga: 8 Cara Melatih Anak Menjadi Seorang Problem Solver

Selanjutnya ada tahapan ‘penyapihan’ lagi; anak-anak masuk sekolah, kemping bareng teman-temannya, kuliah di luar kota,lalu mungkin bekerja di luar negeri. Ikhlas nggak ikhlas, setiap manusia harus memenuhi misi hidupnya dan itu bisa berarti ada jarak yang terbentang.

PR yang paling utama adalah mempersiapkan kita dan anak di setiap tahap, hingga saat tahap selanjutnya tiba, kita tak lagi cemas berlebihan. Ketika anak-anak harus kuliah di luar kota, kita tak perlu khawatir ia akan terjerumus dalam pergaulan beracun. Saat sudah dewasa, kita yakin ia bisa mencari nafkah secara mandiri.  Manis sekali, kan? Bila begitu, mungkin yang kita tanggung cuma rindu. Dan bila kita membesarkan mereka dengan penuh cinta, rindu itu tak akan bertepuk sebelah tangan. Jadi, selamat menyapih dan menyapih lagi, dear parents.

PS: Si kakak ternyata masih sering kembali ke kamar kami.

 

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi