The formula of happiness and success is just being actually yourself, in the most vivid possible way you can.
Merryl Streep

Jangan Ada ‘Permainan’ di Antara Kita

author
Ken Terate
Sabtu, 29 Juni 2019 | 20:00 WIB
Kecanduan game | SHUTTERSTOCK

“Mak, saya mesti bagaimana lagi? Suami saya kecanduan game. Tiap ada di rumah, yang dipegang cuma hape. Anak sakit pun enggak peduli. Parahnya, dia ikut grup WA untuk para players game itu. Di situ ada juga cewek-ceweknya dan akhirnya mereka saling menggoda. Sakit hati saya, Mak. Pernah saya banting hape suami, saking emosinya. Tapi setelah itu dia mendiamkan saya dan balik ngegame lagi. Pengin cerai saja rasanya.”

Demikian curhat seorang perempuan di grup emak-emak Facebook. Itu bukan curhat satu-satunya terkait kehancuran rumah tangga karena game. Beberapa kali saya mendapati curhat mirip yang diposting oleh perempuan berbeda.

Curhat semacam ini rasanya tak mungkin kita dapatkan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Benar, waktu itu sudah ada game, namun tidak semasif dan seintens sekarang. Bermain game kini melibatkan aspek sosial dan emosional. Akhirnya merembeslah efeknya terhadap keharmonisan keluarga. Perselingkuhan via game kini menjadi cerita yang jamak.

“Anakku, sekarang hobi minta duit buat beli koin game. Kalau enggak direm, tiga ratus ribu bisa habis dalam seminggu,” keluh ibu yang lain.

Kegalauan gara-gara game juga dirasakan Risa. Lebaran lalu, Risa mudik ke rumah orang tuanya. Ia bersemangat karena saudara-saudaranya juga akan mudik dan karenanya Risa membayangkan Alvin anaknya (8 tahun) bakal bermain seru bersama sepupu-sepupunya.

“Ternyata sepupu-sepupunya cuma main game, nonton TV, dan nonton Youtube. Alvin jadi bengong melulu. Akhirnya ya sudah, aku izinkan dia main game bersama sepupunya. Selesai mudik, Alvin jadi ketagihan.” Risa harus bersusah payah menerapkan kembali larangan main game untuk Alvin diiringi rengekan dan kemarahan Alvin.

Baca juga: Cinta Redup Gara-Gara Gadget? Lakukan Langkah-langkah Berikut

Hiks, inilah tantangan pasangan kaum milenial yang mungkin tak terbayangkan oleh orang tua-orang tua generasi sebelumnya. Dulu nyaris tak ada cerita pasangan atau anak mencandu ‘permainan’.

Saya ingat di musim layang-layang, kakak saya dan teman-temannya main layang-layang tiap hari. Tetapi toh menjelang magrib permainan segera usai. Bila musim angin sudah berakhir, layang-layang dan gulungan benang ikut lenyap entah di mana, berganti dengan tren lain; entah itu kelereng atau wayang kertas.

Game eletronik tak mengenal musim. Teknologi grafis dan suara yang makin maju membuat game makin memikat. Interaksi antar pemain dan kompetisi berhadiah menjadikan permainan elektronik ini dicandu banyak orang.

Baca juga:  Hati-Hati, Gadget Bisa Mengganggu Perkembangan Bicara Anak

Gawai yang kecil mengakibatkan game bisa dibawa ke mana-mana, termasuk ke ruang tidur. Pasangan yang berbagi ranjang, tak lagi diindahkan. Apalagi game itu dijauhkan, si pemain jadi blingsatan, bingung dan marah.

 ‘Candu’ itulah yang menjadi kata kuncinya. Hobi apa pun itu selama hanya menjadi ‘hobi’ saja dan bukan ‘candu’ rasanya tetap bersifat positif atau setidaknya netral.

Kecanduan game | SHUTTERSTOCK

Merespon curhat yang saya ceritakan di atas tadi, banyak perempuan yang mengaku mereka juga main game. “Buat refreshing,” kata mereka. “Sebagai me-time,” sebut yang lain. Ada pula yang bercerita bahwa ia main game bersama suaminya.

“Jadi makin dekat kami, Mak. Mainnya pas anak-anak sudah tidur.” Tentu saja, selama kadarnya wajar dan tidak mengganggu, main game oke-oke saja, hampir sama dengan jenis rekreasi yang lain, entah itu nonton film, karaokean, atau shopping. Setiap orang punya cara buat bersenang-senang, kan?

Jadi meski tidak mudah, mari kita berusaha agar hobi tetap menjadi sekadar hobi dan bukan perusak rumah tangga apalagi perusak masa depan anak. Kalau memang sudah terlanjur kecanduan, tak ada salahnya juga meminta bantuan profesional.

 

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi