When I get up and work out, I’m working out just as much for my girls as I am for me, because I want them to see a mother who loves them dearly, who invests in them, but who also invests in herself. It’s just as much about letting them know as young women that it is OK to put yourself a little higher on your priority list.
Michelle Obama

Yang Perlu Diketahui Tentang Tongue Tie Pada Bayi

author
Isna Triyono
Senin, 8 Juli 2019 | 10:00 WIB
SHUTTERSTOCK |

Tongue tie dapat mempengaruhi bagaimana bayi menyusui hingga kenaikan berat badan bayi.

Tongue tie adalah kondisi di mana frenulum atau potongan jaringan yang menghubungkan bibir ke gusi atau lidah ke dasar mulut sangat tebal, kencang, dan atau pendek. Sehingga membuat gerakan lidah terbatas dan mengalami masalah saat menyusu.

Pada kondisi normal, bayi akan membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima puting susu hingga sebagian besar areola masuk ke dalam mulut. Lidah kemudian bergerak ke atas dan ke bawah untuk menghisap payudara.

Sementara pada bayi yang mengalami tongue tie, ia akan kesulitan melekatkan mulutnya pada payudara. Gerakan lidah yang terbatas juga membuat bayi tidak maksimal dalam menghisap susu.

Baca juga: Luar Biasa, Ini 7 Manfaat Avokad Untuk Bayi

SHUTTERSTOCK |

Kamu bisa melihat gejala bayi mengalami tongue tie dengan ciri-ciri berikut ini.

Gejala yang dialami ibu:

- Trauma puting karena kelekatan yang buruk antara mulut bayi dan payudara.
- Saluran-saluran ASI tersumbat karena payudara tidak sepenuhnya dikeringkan (terkuras habis) saat menyusui.
- Mastitis berulang
- Produksi ASI rendah karena demand tidak maksimal.

Gejala yang dialami bayi:

- Saat menyusui mengeluarkan suara berisik seperti menge-cap
- Frekuensi minta menyusu tinggi namun bayi tidak terlihat kenyang
- Berat badan tidak mengalami penambahan karena bayi tidak bisa maksimal menyusui
- Sering mengalami kolik karena menelan banyak udara saat menyusui

Baca juga: 7 Kesalahan Umum Orangtua yang Mengganggu Tidur Bayi

Jika merasa kamu dan bayi mengalami beberapa gejala di atas sebaiknya langsung konsultasikan pada dokter laktasi untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Penulis Isna Triyono
Editor Isna Triyono