Try to be a rainbow in someone else’s cloud.
Maya Angelou

Tak Suka Sayuran? Bisa Jadi Karena Faktor Genetik

author
Hasto Prianggoro
Selasa, 12 November 2019 | 14:10 WIB
| SHUTTERSTOCK

Sebagian orang sangat sulit untuk makan sayuran. Salah satu alasannya karena pahit. Ternyata, ini berkaitan dengan faktor genetik juga, lho.

 

Peneliti dari University of Kentucky, AS, percaya bahwa gen tertentu membuat beberapa senyawa pada sayuran terasa lebih pahit bagi sebagian orang. Itu yang mendorong mereka jadi tak suka makan sayuran sehat seperti brokoli dan kol, misalnya.

“Orang-orang ini kemungkinan juga memiliki sensitivitas terhadap cokelat hitam dan kopi,” kata Jennifer L. Smith, salah seorang peneliti. Studi ini didasarkan pada beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa genotipe tertentu ternyata memiliki kaitan dengan beberapa jenis sayuran.

Manusia dilahirkan dengan membawa 2 gen rasa yang disebut TAS2R38. Mereka yang mewarisi sepasang gen yang disebut AVI tidak akan sensitif terhadap rasa pahit dari senyawa-senyawa pada sayuran atau makanan. Sementara mereka yang masing-masing mewarisi satu gen AVI dan satu gen PAV akan lebih sensitif terhadap makanan-makanan tersebut, khususnya rasa pahit.

Baca juga: Kalsium dan Vitamin D Bagi Perempuan 20 Tahunan

Studi ini juga meneliti kemungkinan adanya kaitan antara gen rasa dan enggan makan sayur pada mereka yang memiliki 2 atau lebih faktor resiko penyakit kardiovaskuler. Selama 3 tahun, para peneliti melakukan analisa sekunder menggunakan sampel dari studi sebelumnya yang meneliti interaksi gen pada orang yang memiliki resiko penyakit kardiovaskuler.

Rata-rata responden berusia 52, lebih dari 70% di antaranya perempuan. Studi ini bisa mengubah pendekatan medis terhadap mereka yang disarankan untuk mengubah diet agar memiliki sistem kardiovaskuler yang lebih sehat. Meski begitu, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menemukan cara terbaik mendorong orang untuk mau makan sayur.

Di sisi lain, kita harus ingat bahwa persepsi rasa pada manusia merupakan sebuah proses kompleks yang dipengaruhi berbagai variabel. “Penting bagi kita untuk mengetahui preferensi rasa kita masing-masing dan ketika menemukan ada yang tak sehat, gunakan fungsi kognitif untuk melakukan antisipasi,” kata Tonia Reinhard, dosen senior di Wayne State University di Detroit, AS.

Dengan kata lain, mestinya kita tak harus ‘dipaksa’ untuk makan sayur karena sayur terbukti sangat baik bagi kesehatan.

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro