Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu.
Dian Sastrowardoyo

Serba-serbi Episiotomi Pada Persalinan Normal

author
Ratih Sukma Pertiwi
Kamis, 30 Januari 2020 | 15:34 WIB
Prosedur episiotomi tidak selalu terjadi pada persalinan normal. | SHUTTERSTOCK

Prosedur episiotomi dalam persalinan normal kerap bikin bumil khawatir. Membayangkan vagina digunting lalu dijahit, duh, ngeri banget. Tapi ketimbang khawatir, ketahui lebih lengkap tentang episiotomi dan bagaimana pemulihannya.

Episiotomi adalah sayatan pada area perenium saat proses persalinan normal. Jaringan perenium terletak di antara lubang vagina (jalan lahir bayi) dan anus. Prosedur episiotomi dilakukan oleh dokter atau bidan dengan pembiusan lokal. 

Tujuannya utamanya untuk memperbesar jalan lahir bayi, mencegah trauma pada kepala bayi karena jalan lahirnya terlalu sempit, serta mencegah robekan spontan dan terlalu besar pada perenium, terutama bila otot perenium sangat kaku.

Apakah setiap persalinan normal memerlukan prosedur episiotomi? Ternyata tidak selalu. Episiotomi hanya dilakukan pada kondisi-kondisi yang membutuhkan, seperti:

  • Ukuran Bayi Terlalu Besar

Episiotomi bertujuan memperbesar jalan lahir agar persalinan tidak terlalu sulit.

  • Bahu Bayi Tersangkut

Dikhawatirkan jika tidak segera dilakukan episiotomi akan menghambat persalinan.

  • Penggunaan Alat Bantu Persalinan

Persalinan yang membutuhkan alat bantu persalinan, seperti vakum atau forsep.

  • Kondisi Ibu Kelelahan

Persalinan yang terlalu lama membuat ibu kelelahan. Untuk itu diperlukan prosedur episiotomi untuk membantu memperbesar jalan lahir.

  • Fetal Distress

Bayi harus segera dikeluarkan karena kondisi kesehatannya menurun, misalnya kekurangan oksigen atau detak jantung bayi tidak normal.

Baca juga: Bisa Mempengaruhi Cara Persalinan, Ini Posisi Janin Dalam Kandungan

 

Sebetulnya kemungkinan  episiotomi ataupun robekan spontan pada perenium saat bersalin normal bisa diperkecil. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan bumil, yaitu:

1.Latihan pernapasan agar lebih tenang saat menjalani persalinan dan bisa mengejan dengan tepat.

2.Lakukan pijatan perenium agar otot-ototnya lebih elastis. Caranya, tekan area perenium perlahan. Lakukan 1-2 kali seminggu setelah usia kehamilan 35-36 minggu agar tidak memicu kontraksi dini.

3.Pada trimester 3 bumil bisa melakukan senam kegel agar otot-otot sekitar vagina dan panggul lebih elastis.

4.Kompres area perenium dengan air hangat agar otot-otot tidak kaku.

Latihan pernapasan berguna untuk melancarkan persalinan dan teknik mengejan yang tepat. | SHUTTERSTOCK

 

Bekas luka dan jahitan episiotomi biasanya akan terasa nyeri selama 3-6 minggu. Kadang bisa sampai mengganggu aktivitas bumil, misalnya ketika duduk, berjalan, jongkok dan buang air.

Jika sampai terjadi sembelit berhari-hari, pembengkakan, atau perdarahan yang disertai rasa nyeri hebat atau demam segeralah cek ke dokter.

Baca juga: Agar Cepat Pulih Dari Persalinan Normal, Lakukan 7 Tips Ini

Untuk meredakan rasa nyeri episiotomi Bunda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Kompres bagian luka episiotomi dengan air dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri.
  • Konsumsi obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui, misalnya paracetamol.
  • Basuh vagina dengan air hangat selesai buang air dan keringkan perlahan dengan kain lembut.
  • Ganjal dengan bantal saat duduk.
  • Gunakan celana dalam berbahan nyaman dan tidak ketat.
  • Konsumsi cukup serat dan air putih agar tidak sembelit.

 

Nah, sekarang Bunda tak perlu khawatir lagi dengan episiotomi, kan?

 

 

 



 

 

Penulis Ratih Sukma Pertiwi
Editor Ratih Sukma Pertiwi