I think the girl who is able to earn her own living and pay her own way should be as happy as anybody on earth. The sense of independence and security is very sweet.
Susan B. Anthony

Bayi ASI Eksklusif Lebih Jarang Pup, Apa Sebabnya?

author
Ratih Sukma Pertiwi
Kamis, 25 Juni 2020 | 17:16 WIB
| SHUTTERSTOCK

 

Buang air besar menjadi salah satu indikator kesehatan pencernaan bayi. Namun bagaimana jika bayi selama diberi ASI eksklusif malah jarang pup? 

Bunda mungkin pernah atau sedang mengalaminya, si bayi yang masih mendapat ASI eksklusif tidak pup atau buang air besar (BAB) hingga 3 hari, bahkan bisa lebih.

Tentu saja Bunda khawatir ada yang salah dengan sistem pencernaan bayi, misalnya apakah bayi mengalami konstipasi. Orang dewasa saja tak nyaman jika tidak rutin BAB, apalagi bayi yang tubuhnya masih rentan.

Namun ternyata frekuensi pup pada bayi memang berbeda dari anak yang lebih besar ataupun orang dewasa, Bunda.

 

Baca juga: Warna Pup Bayi dan Deteksi Kesehatannya

 

Pada bayi berusia 0-6 bulan yang masih mendapatkan ASI eksklusif, frekuensi pup pun berbeda-beda. Di minggu-minggu awal kelahiran, bayi bisa pup hingga 10 kali sehari. Lalu seiring waktu, frekuensi pup akan berkurang bahkan bisa hanya seminggu 1-2 kali.

Mengapa bayi ASI eksklusif lebih jarang pup? Ternyata hal ini disebabkan karena komposisi ASI mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi, sehingga hampir semuanya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Jadi, bayi ASI eksklusif jarang pup adalah kondisi yang normal, Bunda. Namun bukan berarti Bunda tidak waspada karena kondisi ini bisa saja mengarah pada gejala konstipasi atau sembelit.

Peralihan dari ASI ke MPASI juga bisa menyebabkan sembelit pada bayi. | SHUTTERSTOCK

 

Baca juga: Pup Bayi Berbusa dan Cara Mengatasinya

 

Segeralah periksakan ke dokter jika kesulitan pup berlangsung sudah sebulan lebih dan disertai dengan keluhan sebagai berikut:

1.Berat badan bayi tidak mengalami peningkatan atau malah menurun.

2.Bayi seringkali rewel.

3.Perubahan warna, tekstur, serta bau yang tidak biasa. Misalnya, ada bercak darah, lendir, atau teksturnya sangat keras.

4.Bayi sering terlihat kesakitan saat pup.

5.Frekuensi pup sangat jarang, bisa hanya 1 minggu sekali.

6.Tidak mau menyusu.

7.Perut kembung atau keras ketika disentuh.

 

Jika bayi Bunda mengalami tanda-tanda sembelit, cobalah beberapa tips yang bisa dilakukan di rumah ini Ini 6 Cara Aman Mengatasi Sembelit Pada Bayi

Jangan lupa juga untuk menjaga asupan Bunda karena apa yang Bunda konsumsi akan diserap anak melalui ASI. Sebaiknya jauhi makanan-makanan yang bisa menyebabkan perut kurang nyaman, misalnya sayuran yang mengandung gas, makanan yang terlalu asam atau pedas. 

 

Penulis Ratih Sukma Pertiwi
Editor Ratih Sukma Pertiwi