I finally realized that being grateful to my body was key to giving more love to myself.
Oprah Winfrey

Memberi Hadiah pada Anak juga Ada Triknya, Bun!

author
Ruth Sinambela
Kamis, 30 September 2021 | 12:04 WIB
Pilih momen dan jenis hadiah yang tepat untuk anak | Shutterstock

Semua anak pasti senang mendapatkan hadiah. Dan pastinya, orang tua suka membuat anaknya senang. Tapi, Bunda perlu berhati-hati, untuk tidak membuat anak jadi ketergantungan dengan hadiah. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

 

Memberi motivasi supaya anak mau melakukan atau mencapai sesuatu sebenarnya sah-sah saja. Di usia anak yang sedang belajar mengenal berbagai karakter serta sifat, dan keingintahuannya yang besar, membuat Bunda terkadang kewalahan memberi tahu anak untuk melakukan atau menyelesaikan sesuatu.

Misalnya saja saat anak belum menyelesaikan makan siangnya, namun segera berlari ke kebun belakang rumah karena mendengar suara pesawat. Tentu Bunda akan memintanya kembali ke meja makan, namun anak masih penasaran dengan suara yang ia dengar tapi terlanjur hilang. Kemudian Bunda menjelaskan, bahwa suara barusan adalah pesawat terbang yang sudah menjauh. Anak tidak serta merta percaya dan terus mencari-cari sumber suara. Setelah beberapa menit berlalu dan terus menerus diabaikan saat Bunda memintanya kembali ke meja makan, akhirnya salah satu cara yang kerap dilakukan orang tua untuk membuat anak menurut adalah dengan iming-iming hadiah.

Habisin makanannya kak, nanti Bunda beliin es krim” – akrab dengan kalimat semacam ini?

Ilustrasi di atas hanyalah satu contoh kecil dimana pemberian hadiah tidak tepat. Yaitu memberi hadiah untuk hal normal yang memang sudah seharusnya anak lakukan. Apresiasi memang dibutuhkan, namun harus dengan pedoman yang tepat ya, Bun.

Baca juga: Momen Tumbuh Kembang Anak, Sering Berlalu Tanpa Kita Sadari

 

Hadiah terbaik adalah yang dapat membuat anak jadi semangat tanpa jadi kompetitif berlebihan | Shutterstock

Kapan dan apa jenis hadiah yang tepat diberikan?

Jawabannya tentu saja tidak hanya saat ulang tahun. Naik kelas, meski tidak mendapat peringkat tertinggi juga satu pencapaian yang pantas diapresiasi dengan hadiah. Atau, untuk anak yang usianya lebih kecil, misalnya saat mereka sudah berhenti ngompol dan tidak pakai popok lagi, atau saat sudah berani tidur sendiri – merupakan momen dimana anak perlu mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang baik dan hebat.

Sebaliknya, memberi hadiah hanya jika anak meraih peringkat 1 misalnya, dapat membuat anak merasa tertekan atau justru jadi sangat kompetitif. Pada kadar tertentu, dua sifat ini bisa memberi dampak kurang baik bagi anak. Anak yang tertekan akan mudah menyerah serta menganggap dirinya tidak cukup baik. Sebaliknya jika anak jadi terlalu kompetitif, Bunda perlu memerhatikan apakah sifat ini sudah berlebihan, karena dapat menurunkan empati anak di saat bersamaan.

Baca juga: 9 Momen Tumbuh Kembang Si Batita

Berilah hadiah sewajarnya pada anak, buat pemahaman bahwa hadiah yang diberikan adalah bentuk apresiasi dan kasih sayang, bukan sebagai satu-satunya tujuan anak melakukan atau mencapai sesuatu.

Selain itu, Bunda juga perlu mengubah jenis hadiah dari waktu ke waktu. Misalnya, jangan terus menerus menjadikan makanan sebagai hadiah karena dapat membuat anak punya masalah makan di kemudian hari. 

Hadiah mainan mewah serta materi (uang tunai – misalnya sebagai uang saku tambahan) juga perlu dibatasi supaya anak tidak ketergantungan dan menuntut hadiah itu terus menerus. 

Variasi hadiah non fisik yang bisa jadi pilihan misalnya jalan-jalan ke taman hiburan, kesempatan menonton film di gadget untuk kurun waktu terbatas, dan atau sebatas “piagam penghargaan” buatan sendiri yang bisa dipajang atau disimpan anak sebagai kenang-kenangan.

Dengan momen pemberian serta jenis hadiah yang tepat, anak akan merasa diapresiasi, dan disayangi. Mereka akan makin semangat untuk terus memberi yang terbaik, dan terhindar dari sikap kompetitif yang berisiko menurunkan empati.

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ruth Sinambela