Love as powerful as your mother’s for you leaves its own mark to have been loved so deeply .. will give us some protection forever.
J.K. Rowling

Pentingnya Skrining Hipotiroid Kongenital pada Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Gangguan Perkembangan Otak

author
Ruth Sinambela
Kamis, 23 Juni 2022 | 15:00 WIB
Skrining hipotiroid kongenital merupakan salah satu pemeriksaan yang wajib dilakukan pada bayi baru lahir | Shutterstock

Tahukah Bunda kalau skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada bayi baru lahir sangat diperlukan untuk mengetahui kemungkinan bayi baru lahir mengalami  gangguan pertumbuhan serta kemampuan intelektual di kemudian hari?

Menurut data yang dikumpulkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari hasil pemeriksaan SHK tahun 2000-2014 di beberapa lokasi terpilih di Indonesia, ditemukan kasus positif dengan proporsi sebesar 0,4 per 1,000 bayi baru lahir, Bun. Selain itu, melalui penelitian yang dilakukan oleh dr. Aman B. Pulungan dalam Kelompok Kerja Nasional Skrining Bayi Baru Lahir juga didapatkan angka kejadian hipotiroid kongenital sebanyak 1:2916. Yang artinya pada setiap 2000 bayi yang lahir, ternyata ditemukan 1 bayi yang mengalami hipotiroid kongenital ini.

Baca Juga: Waspadai Penyakit Hipertensi pada Anak

Definisi hipotiroid kongenital

Hipotiroidisme adalah kondisi rendahnya hormon tiroid dalam tubuh, sedangkan kongenital berarti penyakit sejak lahir atau bawaan. Sehingga hipotiroid kongenital dapat diartikan sebagai kondisi kekurangan hormon tiroid pada bayi karena bawaan lahir, Bun.

Kelenjar tiroid adalah bagian penting dalam tubuh berbentuk kupu-kupu dan terdapat di leher bagian bawah, yang berfungsi untuk menghasilkan hormon tiroid. Hormon tiroid sendiri nantinya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak, juga metabolisme tubuh.

Sehingga apabila si kecil kekurangan hormon tiroid sejak lahir dan tidak mendapatkan perawatan sedini mungkin, maka dapat menyebabkan tubuh pendek, retardasi mental atau disabilitas intelektual, mengganggu sistem pernapasan, kerja organ jantung, kerja sistem saraf, hingga sulit bicara.

Skrining hipotiroid kongenital harus dilakukan sedini mungkin, yaitu saat bayi berumur 2-3 hari atau sebelum bayi pulang dari rumah sakit | Shutterstock

SHK dapat diobati apabila terdeteksi sedini mungkin

Skrining hipotiroid kongenital merupakan salah satu pemeriksaan yang wajib dilakukan saat baru lahir, yaitu saat bayi berumur 2-3 hari atau sebelum bayi pulang dari rumah sakit, Bun. Apabila SHK dilakukan dan ditemukan kondisi hipotiroid pada bayi, maka dokter akan memberikan penanganan yang tepat dan diperlukan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan maupun tumbuh kembang bayi.

Baca Juga: Posisi Bayi Sungsang, Bisakah Bunda Melahirkan Normal?

Kabar baiknya, pemeriksaan SHK dapat Bunda dapatkan secara gratis di Puskesmas sesuai dengan wilayah Bunda tinggal, apabila Bunda dan si kecil melakukan kontrol pertama setelah melahirkan di Puskesmas. 

Kebijakan ini telah menjadi standar pelayanan bagi semua bayi baru lahir yang tertuang dalam Permenkes No. 25 Tahun 2014 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Anak dan Permenkes No. 78 Tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital. 

Gejala dan penanganan

Gejala hipotiroid kongenital:

  • Wajah terlihat sembap atau bengkak
  • Lidah tebal dan besar
  • Kulit dan mata menguning
  • Kesulitan saat makan
  • Perut membengkak dan terkadang pusar tampak menonjol
  • Otot lesu dan lemah
  • Rambut kering dan rapuh
  • Lengan dan tungkai pendek
  • Refleks lambat
  • Terlambat belajar duduk dan belajar berdiri
  • Suara terdengar kasar dan terlambat bicara

Pemeriksaan SHK bisa dapatkan secara gratis di Puskesmas, saat Bunda dan si kecil melakukan kontrol pertama | Shutterstock

Penanganan terbaik bagi si kecil dengan hipotiroid kongenital merupakan perawatan yang dilakukan sedini mungkin, yaitu saat bayi baru lahir atau berusia 2-3 hari, Bun. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan pengobatan, antara lain:

  • Pengobatan berupa tiroid dalam bentuk cair maupun tablet.
  • Obat tiroid dianjurkan untuk diminum sekali dalam sehari.
  • Tak perlu khawatir meski ada dosis yang sesekali terlewatkan karena tidak akan mengakibatkan masalah secara langsung.
  • Rutin memberikan obat untuk mengatasi hipotiroid kongenital pada bayi dan anak guna menjaga kadar tiroksin dalam darahnya tetap stabil.
  • Dokter akan rutin melakukan tes darah pada beberapa tahun pertama untuk mengecek kadar tiroksin anak.
  • Setelah berusia dua hingga tiga tahun, frekuensi tes darah rutin akan lebih sedikit, dimana pemeriksaan atau tes ini akan ditentukan sesuai dengan tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Program Hamil Belum Berhasil? Mungkin Bunda dan Ayah Harus Kontrol ke Dokter Gigi Dulu!

Mengingat betapa pentingnya pemeriksaan atau Skrining Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir, namun di sisi lain masih banyak orang tua yang belum paham benar mengenai hal ini. Yuk, sebarkan dan bagikan informasi ini ke keluarga, teman ,maupun kerabat Bunda yang membutuhkan,  agar seluruh anak-anak Indonesia bisa mendapatkan haknya untuk hidup sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik, yaitu salah satunya dengan mendapatkan SHK sedini mungkin ya, Bunda dan Ayah hebat!

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ruth Sinambela