Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.
Winston Churchill

Bumil Boleh Minum Kopi namun Ketahui Dahulu Baik dan Buruknya!

author
Ruth Sinambela
Jumat, 6 Oktober 2023 | 10:00 WIB
Batasi konsumsi kopi saat hamil untuk meminimalisir dampak yang tidak diinginkan pada janin. | Shutterstock

Apakah ibu hamil boleh mengonsumsi kopi atau tidak, hingga kini masih sering dipertanyakan, karena begitu bergantungnya masyarakat pada kopi. Khususnya di zaman sekarang ini Bun, kopi tak hanya sekedar lifestyle namun mulai berubah menjadi kebutuhan.

Bunda mungkin juga merasakannya sendiri, kalau belum mengonsumsi kopi tubuh seperti belum ON dan kurang maksimal dalam memulai aktivitas. Belum lagi keluhan-keluhan seperti pusing, lemas, tidak berenergi, atau tidak fokus. Menjadi alasan semakin banyak orang yang bergantung pada minuman berkafein ini.

Hal ini pun sebenarnya wajar saja, karena kandungan kafein di dalam kopi memang terbukti dapat meningkatkan fokus dan menyegarkan tubuh. Namun, bagaimana kalau ibu hamil yang mengonsumsinya? Adakah manfaat maupun risikonya?

Manfaat Minum Kopi untuk Bumil

  • Kopi mengandung kafein yang dapat memberikan dorongan energi dan membantu mengatasi rasa kantuk yang umum selama kehamilan.
  • Kopi mengandung senyawa antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari kerusakan dan peradangan.
  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara normal dapat dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit tertentu seperti diabetes tipe 2 dan penyakit hati. Meski demikian, kopi yang dimaksud bukan kopi yang dicampur dengan pemanis atau gula.

Baca juga: Busui Minum Kopi. Boleh Nggak, sih?

Kopi | SHUTTERSTOCK

Risiko Minum Kopi bagi Bumil

  • Kopi mengandung kafein yang dapat menembus plasenta dan mencapai janin. Kafein dapat meningkatkan detak jantung janin dan mungkin saja mengganggu perkembangannya, Bun.
  • Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi kafein yang tinggi dengan peningkatan risiko keguguran dan kelahiran prematur. Meskipun bukti-buktinya masih diperdebatkan, alangkah baiknya kalau Bumil tetap mawas diri.
  • Kafein dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti asam lambung dan refluks lambung, hal ini sudah umum terjadi tak hanya pada ibu hamil. Namun risiko tersebut mungkin bertambah karena kondisi kehamilan pada masing-masing Bumil tentu akan berbeda.
  • Anemia karena kekurangan mikronutrien.
  • Bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Baca juga: Viral Seorang Ibu Memberikan Kopi Kemasan untuk Bayi Berusia 7 Bulan. Kok Bisa ya, Bun?

Batas konsumsi kafein pada Bumil

Mengingat manfaat dan risiko yang terkait dengan konsumsi kopi selama kehamilan, penting bagi wanita hamil untuk membuat pilihan yang bijak. 

Berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan:

  • Para ahli merekomendasikan agar ibu hamil membatasi asupan kafein hingga maksimal 200 mg per hari, yang setara dengan sekitar 1-2 cangkir kopi instan.
  • Pertimbangkan untuk beralih ke minuman rendah kafein yang menyegarkan, seperti teh herbal, aneka jus buah, jus sayuran, air kelapa, atau infused water.
  • Ganti kopi berkafein dengan dengan kopi non-kafein.

Jumlah umum kafein yang terkandung di dalam makanan dan minuman

  • 60-200 mg kafein dalam satu cangkir kopi seduh.
  • 140 mg kafein dalam satu cangkir kopi saring.
  • 100 mg kafein dalam satu cangkir kopi instan.
  • 40 mg kafein dalam satu botol soda.
  • 75 mg kafein dalam satu cangkir teh.
  • 25-50 mg kafein dalam 50 g cokelat

Setiap kehamilan adalah unik. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan masing-masing untuk mendapatkan saran pribadi berdasarkan kondisi kesehatan dan kehamilan, ya.

Selain itu apabila memungkinkan, alangkah baiknya kalau Bumil mulai mengurangi, menghindari, dan menghentikan sementara konsumsi kopi demi kesehatan diri sendiri serta calon buah hati yang masih berkembang di dalam rahim. Semangat, Bunda pasti bisa!

 

Referensi:

https://kidshealth.org/en/parents/preg-caffeine.html

https://www.whattoexpect.com/pregnancy/eating-well/week-4/caffeine-during-pregnancy.aspx

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ratih Sukma Pertiwi