For me, motherhood is learning about the strengths I didn’t know I had, and dealing with the fears I didn’t know existed.
Halle Berry

Benarkah Anemia pada Ibu Hamil Dapat Menyebabkan Anemia pada Bayi?

author
Ratih Sukma Pertiwi
Kamis, 28 Desember 2023 | 10:00 WIB
Anemia pada ibu hamil dapat berpengaruh pada kesehatan ibu dan janin. | Shutterstock

Ibu hamil sering merasa kelelahan, kulit terlihat pucat, sering pusing, dan detak jantung cepat? Bisa jadi itu adalah tanda-tanda bumil mengalami anemia. Selain berdampak negatif pada ibu hamil, anemia ternyata juga bisa “menular” ke bayi, lho.

Anemia adalah suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin (Hb) berada di bawah batas yang ditentukan. Akibatnya, aliran oksigen berkurang ke seluruh organ tubuh.

Pada ibu hamil kadar normal Hb adalah 11 g/dL. Pada kasus anemia ringan Hb berkisar 10,00 – 10,9 g/dL, anemia sedang 7,0 – 99,9 dL, dan anemia berat < 7,0 dL.

Gejala umum anemia pada ibu hamil, antara lain sering merasa kelelahan tanpa sebab, kulit dan mata pucat, sering merasa pusing, dan detak jantung cepat.

Baca juga: Waspada, 4 Bahaya Anemia Saat Kehamilan

Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan

Di Indonesia lebih dari 50% kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi atau disebut anemia defisiensi besi (ADB).   

Zat besi penting selama kehamilan, salah satunya untuk mendukung pembentukan sel dan jaringan baru, termasuk jaringan otak janin.

Mengapa ibu hamil rentan mengalami ADB?

1.Kurang asupan makanan sumber zat besi, terutama dari lauk hewani, seperti daging merah, daging unggas, hati, dan telur.

2.Kebutuhan zat besi yang sangat meningkat selama kehamilan, terutama trimester 2 dan 3, untuk mendukung proses perkembangan janin yang pesat.

3.Terdapat komplikasi kehamilan seperti diabetes melitus tak terkontrol, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, infeksi, plasenta tidak berkembang sempurna, kelahiran prematur.

Baca juga: Waspada! Anemia Defisiensi Besi (ADB) Dapat Mengganggu Perkembangan Kecerdasan Anak

Konsumsi makanan kaya zat besi untuk menghindari risiko anemia defisiensi besi. | Shutterstock

Berapa kebutuhan zat besi pada ibu hamil normal?

-Prakehamilan: 18 mg per hari

-Kehamilan: trimester 1: 18 mg per hari, trimester 2: 27 mg per hari, dan trimester 3: 27 mg per hari.

Gejala umum ADB pada ibu hamil mirip dengan gejala anemia umum, yaitu:

-Kulit pucat atau kekuningan

-Lelah dan lemas yang tidak terjelaskan

-Napas pendek atau nyeri dada saat beraktivitas

-Detak jantung cepat

-Sakit kepala terusaat beraktivitas

-Kuku rapuh dan rambut rontok

-Sulit berkonsentrasi

-Tekanan darah rendah

Baca juga: Rekomendasi Dosis Suplemen Zat Besi untuk Anak Menurut IDAI

Bayi Berisiko Anemia hingga Stunting

Jika dibiarkan berlarut-larut, ADB besi dapat berdampak pada ibu hamil, antara lain adalah:

- Kelelahan kronis

- Fungsi imun melemah

- Meningkatnya risiko infeksi

- Meningkatnya risiko pendarahan saat/sesudah melahirkan

- Meningkatkan risiko gagal jantung/kematian ibu

Anemia pada masa kehamilan ternyata juga dapat menyebabkan anemia pada bayi. Hal ini terjadi karena selama dalam kandungan dan saat lahir, bayi mendapatkan cadangan zat besi yang berasal dari ibu. Maka ketika ibu mengalami anemia, bayi pun berisiko demikian.

Untuk mencegah dampak buruk anemia, beberapa hal ini wajib dilakukan para ibu hamil (terutama yang menunjukkan gejala-gejala ADB):

1.Melakukan pemeriksaan rutin pada:

  • Trimester 1 (< 12 minggu) 1 kali pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter.
  • Trimester 2 (12-24 minggu) 2 kali pemeriksaan oleh dokter/bidan.
  • Trimester 3 (24-40 minggu) 3 kali pemeriksaan, salah satunya oleh dokter.

2.Mengonsumsi makanan lengkap dan bergizi seimbang, termasuk mengonsumsi sumber makanan kaya zat besi sesuai kebutuhan harian.

Salah satu makanan kaya zat besi adalah daging sapi. Bunda bisa mengolah daging sapi menjadi beragam olahan yang menggugah selera. Agar hasil masakan daging sapi semakin lezat dan dagingnya pun empuk, perhatikan juga pemilihan Jenis Bagian Daging Sapi dan Masakan yang Cocok.

Daging merah merupakan salah satu makanan kaya zat besi yang baik untuk pertumbuhan otak janin dan mencegah anemia defisiensi besi pada ibu hamil. | Shutterstock

3.Konsumsi sumber makanan kaya zat besi dengan vitamin C untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi. Misalnya setelah makan daging dan sayuran, minum air jeruk.

4.Mengonsumsi bahan makanan yang difortifikasi zat besi.

5.Atas petunjuk dokter, mengonsumsi suplemen tablet tambah darah.

 

 

Referensi:

https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/anemia-during-pregnancy/art-20114455

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 28, Angka Kecukupan Gizi Yang dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia, 2019.

Iqbal S, Ekmekcioglu C.Maternal and neonatal outcomes related to iron supplementation or iron status: a summary of meta-analyses.  The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine 2019. 32(9):1528-40.

Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil, Kementerian Kesehatan RI, 2020.

Teucher 8, Olivares M, Cori H. Enhancers of iron absorption: ascorbic acid and other organic acids, Int J Vitam Nutr Res. 2004;74(6):403-19.

Penulis Ratih Sukma Pertiwi
Editor Ratih Sukma Pertiwi