In politics, if you want anything said, ask a man; if you want anything done, ask a woman.
Margaret Thatcher

Jadi Peri Gigi itu Berat. Cukup Saya Saja.

author
Ken Terate
Sabtu, 2 Maret 2019 | 20:00 WIB
SHUTTERSTOCK |

Gigi susu anak sulung saya, Ang, mulai berganti sejak usianya menjelang enam tahun. Sebelum gigi pertamanya tanggal, kebetulan ia pernah mendengar dongeng peri gigi. “Apakah kalau gigiku tanggal peri gigi juga akan datang?” Ia bertanya dengan mata berbinar.

“Tentu saja!” Jawab saya mantap. Saya suka dunia khayal dan imajinasi. Seru banget kan bila anak percaya pada keajaiban sebelum akhirnya mereka sadar realita tak selalu seindah pilem Disney.

Gigi pertamanya goyah dan saya bersemangat untuk menjalani peran saya sebagai peri gigi baru. Seharusnya gampang saja, kan? Saat gigi anak goyah, siapkan hadiah. Pas gigi anak tanggal, minta ia sembunyikan giginya di bawah bantal. Setelah dia tidur ambil giginya, tukar dengan hadiah yang disiapkan. Yah, teorinya begitu sih.

Siang itu gigi Ang tanggal. Tenang, saya sudah menyiapkan madu kurma merek X yang ia dambakan gara-gara lihat iklan. Saya simpan madu itu di lemari kaca dapur bagian atas. Dia belum bisa menjangkau lemari atas, jadi amanlah.

“Bu, itu ada madu X. Aku mau!”

Glek! Entah dapat inspirasi apa dia iseng banget naik kursi dan akhirnya mengacaukan rahasia peri gigi!

“Errr…. Itu sebenarnya hadiah dari peri gigi.”

“Ha, kok ibuk tahu? Memangnya ibuk kenal dengan peri gigi?”

“Ngg…nggak, sih.” Yah, gimana lagi, daripada dia minta dikenalin. “Ya sudah, madu itu boleh untukmu.”

“Asyiiik.”

Ugh! Saya harus mencari hadiah lain. Catatan: lain kali simpan lebih rapat!

Misi kedua beberapa bulan kemudian cukup lancar. Ang mendapat hadiah dompet yang membuatnya berkomentar, “Wah, kok peri gigi tahu aku butuh dompet buat nyimpen uang Lebaran.” Ya, giginya patah tiga hari sebelum lebaran.

Baca juga: 7 Tips Sebelum Pergi ke Big Bad Wolf 2019

Yang ketiga juga lancar. Peri gigi memberinya hadiah pensil warna.

Nah, yang keempat gawat! Giginya lepas saat kami menginap di rumah neneknya di desa. Malam-malam pula. Haduh. Kali ini peri gigi benar-benar nggak siap.

“Ibu, aku simpan gigiku di bawah bantal ya.”

“Hmmm, begini, sebenarnya peri gigi nggak tahu kalau kamu menginap di rumah nenek malam ini. Daripada nggak dapat hadiah, kita tunggu sampai kita pulang ya.”

Meski agak kecewa karena peri giginya nggak begitu canggih, si buyung menurut. Dalam perjalanan pulang dari rumah nenek, sementara suami dan anak-anak makan di warung bakso, saya nyebrang ke warung terdekat dan beli gasing berlampu (adanya itu).

“Ang, sebenarnya peri gigi itu nggak ada. Yang kasih kamu hadiah itu ibumu!”  Suatu hari teman Ang mengatakan itu dengan santai saat mereka ngobrol.

Saya melirik Ang. Ang melirik saya. Wajahnya penuh tanya, “Bu, apakah itu benar?”

“Eh… begini saja, percayailah kata hatimu.”

“Menurutku, yah… aku nggak tahu. Tetapi mungkin dia benar-benar ada.”

Dia menantikan tanggal gigi selanjutnya dan dengan gembira membuka bantal di pagi hari. Ada surat-surat manis yang selalu menyertai hadiah, seperti “Hei, kok bisa sih senyummu tetap manis meskipun ompong? Jangan lupa makan sayur, gosok gigi, dan bermain setiap hari.”

“Buk, gigiku goyang lagi nih. Hm, kira-kira apa ya hadiah dari peri gigi kali ini?” Eh buset, kenapa sih gigimu gemar banget goyah? Dalam setahun lima gigi rontok. Peri gigi kehabisan ide hadiah (saking putus asanya ia kasih Kinderjoy untuk hadiah kelima).

“Ibu nggak tahu. Yah, kamu harus menunggu.”

“Hm, aku sih ingin lampu senter. Ah, atau puzzle besar. Bukan, bukan kamera saja!”

Hedeh!

Baca juga: 5 Tips Merawat Gigi Susu Bayi Tanpa Pasta Gigi

Hari-hari berikutnya ia sibuk membuat daftar, “Mungkin satu set Hotwheels saja deh.”

Wokeee deh. Peri giginya dikerjain.

Tapi rasanya nggak ada yang lebih epic dibanding epipode ke tujuh.

Sudah berminggu-minggu gigi Ang goyah. Berhubung peri giginya sibuk (dan bokek) dia menunda-nunda beli hadiah.

Lalu suatu malam, pas si bujang makan malam, “Bwah, buk, gigiku copot.”

Glek. Kok cepet banget sih? Menurut perhitungan peri gigi, seharusnya gigi itu copot dua atau tiga hari lagi.

Tapi peri gigi harus banyak akal bukan?

“Nak, ibu mau ke Alfamart sebentar. Cuma mau beli tisu sama minyak goreng. Bentar kok. Kamu di rumah saja ya?”

Dia tersenyum manis. “Ya, bu.” Sama sekali nggak minta ikut. Problem solved! Saya sangka begitu.

Keesokannya saya kaget dan heran merasakan si bujang mendesak-desak posisi tidur saya, menarik bantal yang saya tiduri. Azan subuh baru saja berkumandang. Kenapa anak ini sudah bangun? Biasanya dia bangun agak siang.

Sial! Hadiah peri gigi belum diselipkan di bawah bantal!

Dengan mata setengah terpejam, saya buru-buru bangkit dan berkata, “Tunggu. Kamu tidur lagi sebentar, oke?”

Dia patuh. Tidur miring sambil… senyum!

“Jangan melek, oke?”

Saya berjingkat-jingkat mengambil mainan yang sudah saya siapkan dan menyelipkan di bawah bantalnya. Senyumnya makin lebar. Duh, adakah peri gigi seceroboh ini?

Si bujang tetap memejamkan mata hingga dua tiga menit lalu berkata, “Buk, aku sudah nggak ngantuk. Boleh aku bangun?”

“Ya.”

“Horeeee. Aku dapat gelembung sabun dan kartu Uno.”

Tak ada surat dari peri gigi. Surat-surat itu sudah absen beberapa kali dan ia tak keberatan. Ia sibuk meniup-niup gelembung sabun saat hari belum terang benar.

“Buk, buk…”

“Ya?”

“Kayaknya aku pernah lihat gelembung sabun dan kartu Uno kayak gini di Alfamart.”

Ya deeeeeh…..

 

 

Niken Terate

kenterate@gmail.com

Memulai debut sebagai penulis profesional sejak bangku kuliah. Telah menghasilkan belasan novel, cerpen, dan artikel. Baginya hidup terasa sempurna bila bisa menikmati teh hangat sambil ngobrol seru dengan orang-orang dekat.

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi