There is no such thing as a perfect parent. So just be a real one.
Sue Atkins

Silaturahmi Asyik Tanpa Terganggu Nyinyir

author
Ken Terate
Sabtu, 25 Mei 2019 | 20:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

“Hai, masih datang sendirian aja. Kapan bawa gandengan nih?”

“Wah, masih gandengan aja nih. Kapan bawa gendongan?”

Sudah mulai tertekan membayangkan bakal diserang pertanyaan kepo bin nyinyir saat silaturahmi Idul Fitri? Kekepoan meski menyebalkan mungkin masih bisa ditahan, tetapi kalau kenyinyiran, wah udah level berat, tuh. Kapan punya gandengan bisa disambung dengan “Elo sih pilih-pilih.” Atau “Buruan, ntar ketuaan.” Atau “Sebenarnya elo nih normal enggak, sih?” Bikin pengin nggampar, kan, kan? Silaturahmi yang awalnya asyik jadi bikin semromong.

Faktanya, memang ada orang-orang yang hiburannya adalah ‘merecoki orang lain’ dan kebahagiaannya mewujud saat ‘melihat orang lain lebih sial’. Lebih sial menurutnya tentu saja. Bisa jadi ia menganggap cewek yang enggak pakai perhiasan itu menyedihkan banget, padahal si cewek tenang-tenang aja tampil polos.

Baca juga: Cari Baju & Hijab Lebaran? Cek 5 Brand Modest Wear Lokal Ini

 Ada pula yang merasa berhak mencampuri kehidupan orang lain hanya karena ia lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. Nyebelin? Emang. Tetapi masa sih, hanya gara-gara segelintir manusia menyebalkan kayak gitu kita jadi mangkir silaturahmi? Yakin deh manusia berjiwa dementor itu cuma segelintir. Jumlahnya kalah jauh dibanding orang-orang yang asyik. Serius. Kalau di lingkaran pergaulan Anda lebih banyak orang reseknya… nah, coba deh introspeksi.

Balik lagi, alangkah ruginya kalau gara-gara mereka, kita kehilangan kesempatan menikmati ketupat opor lezat buatan nenek. Atau gagal nyanyi-nyanyi bareng ponakan imut. Atau enggak jadi ketemu dengan si dia yang prospektif kita gebet.

We can’t change how people treat you or what they say about you. All you can change is how you react to it, kata Mahatma Gandhi. Kita enggak bisa mengubah orang kepo agar enggak melempar pertanyaan-pertanyaan resek, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menyikapinya.

Baca juga: Cara Jawab Pertanyaan ‘Kapan Kawin’ Menurut Zodiak

“Kapan kalian nikah? Serius enggak sih tunangan lo itu?” Mungkin begitu tanya si kepo.

Kita bisa pilih reaksi-reaksi di bawah ini:

“Terserah kami dong! Ngapain sih elo resek banget? Mau ikut mbayarin sewa gedung?” Atau

“Doakan saja ya, semoga semuanya lancar.” Atau

“Bulan depan. Eh, kabarnya suami lo selingkuh ya? Dia serius nggak sih kawin sama elo?” Atau

(Ngemil kacang mete), “Ini henak hanget. Krauk-krauk.”

Baca juga: Kesal Ditanya ‘Kapan Nikah’, Ini 5 Jurus Jitu Menjawabnya

If words hurt, it’s because you let them, kata Marcus Aurelius. Semua orang tahu kata-kata yang enggak nyata wujudnya itu benar-benar bisa melukai. Tetapi ternyata itu bisa terjadi kalau kita mengizinkan!

| SHUTTERSTOCK

Untuk hal ini bolehlah kita mencontoh Pak Jokowi dan keluarganya. Berapa ribu cacian dan fitnah yang menyerangnya? Ada yang mencela fisik beliau, bahasa Inggris beliau, hingga menyebar kabar bohong soal garis keturunannya. Kira-kira kalau kita yang digituin gimana? Minimal kuping memerah, kan ya? Tetapi sepertinya beliau enggak terpengaruh. Mungkin karena beliau sibuk mengurusi perkara-perkara lain yang jauh lebih penting. Tetapi mungkin juga karena pada dasarnya dia memang enggak pernah masukin semua itu ke dalam hati.

Baca juga: Siap-Siap Lebaran Dengan Bikin Sago Cheese Cookies Ini, Yuk!

Kalau kita woles atau sibuk ngurusin yang penting-penting, kemungkinan besar kita enggak sempat memikirkan orang. Ibarat bejana kita sudah penuh (dengan kebaikan, semoga) sehingga hal-hal buruk tak bisa masuk.

“Lo gemukan ya?”

“Yoi, syukur nih bro, banyak yang nraktir gue. Lo juga boleh lho nraktir gue hehe.”

“Kapan nih si kakak dikasih adik? Masak mau sendirian aja, nanti jadi anak egois lho.”

“Doakan yang terbaik saja ya. Boleh ya anakku main bareng anakmu biar dia bisa belajar berbagi.”

Kalau bersikap woles masih susah, enggak papa juga. Toh kita tetap bisa mengubah fokus pada hal-hal yang menyenangkan, seperti nastar, emping melinjo, manisan buah, dan rendang.

Jadi, hayuk silaturahmi dengan gembira.

 

 

Niken Terate

kenterate@gmail.com

Memulai debut sebagai penulis profesional sejak bangku kuliah. Telah menghasilkan belasan novel, cerpen, dan artikel. Baginya hidup terasa sempurna bila bisa menikmati teh hangat sambil ngobrol seru dengan orang-orang dekat.

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi