Bekerja keras adalah bagian dari fisik, bekerja cerdas merupakan bagian dari otak, sedangkan bekerja ikhlas ialah bagian dari hati.
Susi Pudjiastuti

Memaafkan Diri Sendiri

author
Ken Terate
Sabtu, 15 Juni 2019 | 20:00 WIB
Silaturahmi Lebaran | SHUTTERSTOCK

Lebaran sudah berlalu, tetapi acara silaturahmi dan halal bihalal bakal masih terus berlangsung hingga bulan Syawal berakhir. Halal bihalal punya agenda utama yang penting banget; meminta maaf dan memaafkan.

Untuk orang yang enggak terlatih minta maaf, acara semacam ini sungguh melegakan. Kita enggak perlu malu mengakui salah, meski di saat-saat lain mengaku salah sungguh amat berat.

Tapi ada yang sama berat atau malah lebih berat lo dibanding minta maaf, yaitu memaafkan. Iya sih, di bibir kita bisa saja bilang, “Kosong-kosong ya,” yang artinya kita sudah saling mengikhlaskan, tetapi dalam hati siapa yang tahu?

Bisa saja kita tetap mendongkol pada rekan kerja yang hobi nyinyir. Atau masih mendendam pada mantan yang pergi saat kita lagi cinta-cintanya. Beberapa orang tak pernah bisa memaafkan orang tua yang berlaku kasar saat mereka masih kanak-kanak meski dua tiga dasawarsa telah berlalu.

Padahal memaafkan punya kekuatan besar untuk menyembuhkan diri kita. Pernahkah Anda disakiti orang begitu rupa sampai nyesek banget di dada?

Yang bikin makin kesel adalah meski kita sewot dan memendam dendam kesumat bertahun-tahun, si brengsek itu tetap melenggang bahagia dan tetap bisa tertawa-tawa.

Baca juga: 6 Cara Meminta Maaf Yang Efektif

Akhirnya kita sendiri yang lelah karena selalu memikul perasaan negatif. Ibarat membawa kentang busuk ke mana-mana. Sudah tahu busuk, eh tetap dibawa-bawa. Yah gimana lagi, memang melepas marah dan melupakan dendam tidak semudah mengatakannya.

Padahal saat dendam tak lagi kita simpan, langkah kita lebih ringan. Saat ketemu si ‘musuh’ kita tak lagi rusuh. Pikiran kita tak lagi dijejali hal-hal jelek tentang dia. Pendeknya kita bisa ‘move on’.

Soal apa yang terjadi pada si brengsek, ya sudah itu urusannya sendiri. Nah lo, memaafkan ternyata lebih bermanfaat buat kita ketimbang buat orang lain.

Demikian juga dengan memaafkan diri sendiri. Bagi saya ternyata ini lebih sulit ketimbang memaafkan orang lain. Kesalahan kecil maupun besar di masa lalu kadang masih menggelayuti benak.

Baca juga: Silaturahmi Asyik Tanpa Terganggu Nyinyir

Saya misalnya menyesal karena tidak bisa berbakti maksimal pada alm. bunda saat beliau masih hidup. Saya juga masih kesal pada diri sendiri karena pernah berperforma buruk saat bekerja untuk seorang klien.

Lebaran | SHUTTERSTOCK

Kesalahan-kesalahan sepele kadang bisa sangat mengganggu nurani; membentak anak saat saya sedang kesal (padahal bukan si buyung yang salah); bercanda kelewatan pada seorang teman; menolak bersedekah pada pengemis hanya karena berburuk sangka (orang badannya kelihatan tegap dan sehat gitu lho, masak mengemis); menunda-nunda menengok kerabat yang sakit keras lalu akhirnya tak sempat bertemu untuk selamanya.

Yas, penyesalan selalu datang bekangan (kalau datang duluan itu namanya pendaftaran, katanya), tetapi meski datang belakangan bukan berarti dia harus terus di belakang sebagai bayang-bayang gelap, kan?

Baca juga: Silaturahmi dengan Mantan? Ini Caranya Menurut Zodiak

Manusia mana yang tak luput dari salah? Entah disengaja atau tidak. Bahkan saat berbuat baik pun, bisa jadi ada orang tersakiti (niatnya mau berbagi kebahagiaan di medsos, eh ada yang tersinggung).

Merasa bersalah dan menyesal juga baik. Gawat dong kalau kita enggak punya perasaan pengendali semacam itu. Tetapi, bila kita bisa memaafkan orang lain sudah seharusnya kita juga bisa berbaik hati pada diri sendiri dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang kita buat. Tidak untuk membenarkan, namun untuk memperingan langkah kita.

Izinkan diri kita untuk melangkah maju dengan bahagia. Cukuplah kita menyesal sejenak, lalu mengambil pelajaran --alih-alih kesedihan berlarut yang memberatkan-- dari kesalahan-kesalahan di masa silam.

 

 

 

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi