We’re here for a reason. I believe that reason is to throw little torches out to lead people through the dark.
Whoopi Goldberg

Mengalihkan Perhatian Anak Ternyata Tak Selalu Tepat. Kenapa?

author
Hasto Prianggoro
Rabu, 17 Juli 2019 | 12:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

 

Salah satu metode atau cara yang sering dilakukan ketika anak berperilaku negatif atau tidak adaptif adalah dengan mengalihkan perhatianya. Padahal, cara ini tak selau tepat dan bahan membuang kesepatan anak untuk belajar sesuatu yan baru.

 

Metode mengalihkan perhatian anak ketika ia berperilaku negatif atau tantrum sudah sejak lama dipercaya sebagai cara paling tepat untuk mengelola perilaku anak, begitu kata Janet Lansbury, penulis buku-buku parenting seperti dikutip newidea.com.

Namun, tahukah bahwa cara ini tak selalu ampuh untuk meredakan perilaku anak, bahkan justru membuat kesempatan anak untuk mempelajari hal-hal baru menjadi hilang. Misalnya anak mencoret-coret sofa dan kemudian orangua mengalihkannya dengan memberinya kertas untuk coret-coret. Menurut Janet, mengalihkan perhatian anak agar tidak mencoret-coret sofa justru tidak membuat anak belajar untuk tidak menggambar di sofa atau perabot lain.

Contoh lain ketika anak mencoba merebut mainan temannya dan orangtua atau orang dewasa di sekitarnya mengalihkan perhatian anak dengan memberikan mainan lain. “Ini justru akan merebut kesempatannya untuk belajar bagaimana mengelola konflik,” kata Janet.

Baca juga: Waduuh, Si Kecil Hobi Memukul Mbaknya...

Jadi, alih-alih (selalu) mengalihkan perhatian anak ketika berperilaku negatif, orangtua bisa melakukan hal-hal berikut:

1. Ambil napas baru kemudian beri respons. Jika situasinya bukan situasi darurat, orangtua tak perlu cemas dan buru-buru mengalihkan perhatian anak. Ambil napas, beri respons apakah anak butuh bantuan atau tidak, lalu biarkan saja anak menangis atau bereaksi. Peluk anak ketika terlihat ia butuh dipeluk agar merasa nyaman dan aman.

2. Kenali apa yang sesungguhnya terjadi, begitu pula pahami perasaaannya. Setelah itu, orangtua bisa mengatakan, “Kamu pengin menghias sofa ya, tapi Bunda nggak mau sofa itu kamu hias dengan lukisanmu, lho, Dek.”

3. Ketika anak “bermasalah” dengan perilakunya, jangan buru-buru mencapnya sebagai anak nakal. Di saat-saat seperti itu bisa jadi anak justru tengah mendapat pengalaman menemukan hal-hal baru yang bisa membantu meningkatkan rasa ingin tahunya.

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro