A woman is like a tea bag. You never know how strong it is until it’s in hot water.
Eleanor Roosevelt

Ribetnya Parenting Zaman Now

author
Ken Terate
Senin, 7 Oktober 2019 | 10:00 WIB
| Shutterstock

“Untuk pelajaran tematik besok, tiap anak harus bawa serangga.”

Deng! Dian (35 th) sontak pusing membaca pengumuman dari wali kelas anaknya.  Bukan sekali ini anaknya disuruh membawa barang yang sulit dicari; batu apung, daun dengan tulang menjari, atau snack berbahan beras. Kalau ada waktu untuk mencarinya sih nggak masalah. Kadang instruksi itu datang begitu mendadak atau baru terbaca olehnya ketika malam tiba.

“Sekolah dulu nggak serumit ini,” keluhnya. Iya sih, anak-anak zaman dulu juga sering nggak memperhatikan atau lupa bila disuruh membawa sesuatu, tetapi karena tidak ada medsos, ortu nggak bisa ribut. Mana bila diangkat di WAG, bukannya tambah jelas, malah tambah ribet.

“Snack berbahan beras atau tepung beras?”

“Kalau arem-arem itu dari nasi, kan. Termasuk nggak?”

“Kalau beras ketan gimana, Bu? Kayak wajik gitu?”

“Kalau rice bubble gitu boleh nggak?”

Hadeh.

Di sisi lain, Ratri (45 th) yang berprofesi sebagai guru SD tak kalah rempongnya. Selain disibukkan dengan urusan pengajaran, kurikulum, dan administrasi sekolah, ia  dibuat pusing oleh ‘tuntutan’ ortu yang begitu mudah disampaikan. Mulai dari orangtua yang minta difotokan soal-soal PR hingga ortu yang meminta, “Bu, boleh minta tolong cek, apakah Tupperware anak saya ketinggalan di kelas?” Bagi Ratri, jadi guru tak pernah serumit ini.

Perkembangan teknologi informasi memang membawa disrupsi besar-besaran di segala bidang. Tak hanya perubahan dalam soal metode berkirim pesan dan berbelanja, pola pengasuhan terhadap anak-anak juga berbeda.\

Tonton Video Positive Parenting: Orang Tua, Jadilah Trainer Untuk Anak Usia 5-8 Tahun

Waktu saya sekolah dulu, orangtua nyaris tak pernah ikut campur dalam kegiatan sekolah kecuali menemani bikin PR kadang-kadang dan ambil rapor empat bulan atau enam bulan sekali. Saat itulah ortu berkomunikasi dengan wali kelas. Tidak setiap hari seperti saat ini. Begitu kelas tiga SD, sebagian besar anak-anak berangkat dan pulang sendiri. Naik sepeda atau jalan kaki.

Seharusnya kehadiran internet membuat hidup lebih mudah. Bila anak tidak masuk, ortu cukup mengirim pesan lewat WhatsApp. Untuk mendapatkan tambahan pelajaran, ada aplikasi yang menyediakan. Bila tak sempat antar anak, ada taksi online yang bisa kita andalkan.

Tetapi eh, kok pekerjaan kita sebagai ortu nggak makin ringan ya? Anak justru harus dipantau terus menerus. Bahkan saat anak sepertinya baik-baik di rumah dan bermain gawai, kita tak pernah yakin permainan itu aman untuknya. Tak cuma masalah kecanduan game, kasus anak terpapar konten pornografi atau jadi korban kejahatan cyber juga menjadi keresahan orangtua.

Yup, kemudahan yang dibawa oleh internet bukannya tanpa buntut. Benar, ada aplikasi pengantaran makanan yang sangat membantu saat kita sibuk, tetapi apa jadinya bila anak-anak jadi hobi jajan dan tak mau makan makanan rumah? Ortu tak lagi wajib mengantar jemput anak-anaknya, tetapi itu berarti waktu bersama akan berkurang. Kesempatan untuk mengenal teman-teman anak-anak kita pun tergerus.

Tonton Video Positive Parenting: 12 Kali Pelukan Sehari Optimalkan Perkembangan Anak

“Ma, ada PR nggak?” tanya Della, anak Dian yang duduk di kelas 3 SD.

“Lho, kok tanya mama. Kan kamu yang sekolah.”

“Ya siapa tahu PR-nya diumukan di WA Group.”

“Tapi kamu tetap harus memperhatikan pengumuman dari guru.”

“Ya udah, aku tanya sama temanku saja. Pinjam hapenya boleh, Ma?”

Dian jadi salah tingkah. Mau dituruti kok kesannya nggak mendidik, nggak dituruti ini menyangkut PR yang harus dikerjakan.

Keluarga-keluarga berjuang dalam kegagapan. Kalau dulu orangtua ‘hanya’ cukup melindungi anak dari jajanan tak sehar misalnya, kini ortu juga harus membentengi anak-anak dari hoaks, cyber bullying, hingga kecanduan medsos, sementara orangtua itu sendiri juga rentan pada serangan-serangan itu. Ya, kan?

Kalau Anda hidup di pinggir sungai, ajari anak berenang. Kemajuan zaman tak bisa dicegah. Dampak buruk teknologi tak bisa dinihilkan, tetapi kita bisa memberi anak bekal untuk menghadapinya.

Masalahnya, mau ngasih bekal gimana kalau kita sendiri masih gelagapan, membedakan yang hoaks dan yang valid aja masih kebingungan? Hm, mau tak mau ortu dan anak harus sama-sama belajar. Bukan perkara mudah, tetapi mari tak patah semangat.

 

 

Niken Terate

kenterate@gmail.com

Memulai debut sebagai penulis profesional sejak bangku kuliah. Telah menghasilkan belasan novel, cerpen, dan artikel. Baginya hidup terasa sempurna bila bisa menikmati teh hangat sambil ngobrol seru dengan orang-orang dekat.

 

Penulis Ken Terate
Editor Ratih Sukma Pertiwi