To her, the name of father was another name for love.
Fanny Fern

Mengapa Vaksin Covid-19 Harus DIberikan 2 Kali?

author
Ruth Sinambela
Selasa, 6 April 2021 | 12:00 WIB
Untuk mengoptimalkan manfaat vaksin Covid-19 jangan menunda vaksinasi dosis kedua. | Shutterstock

Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, SARS-CoV-2. Sebagian orang yang terpapar virus ini hanya akan mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala, namun sebagian lainnya akan mengalami gejala yang sangat serius hingga terancam nyawanya. Maka dari itu, penting untuk semua kalangan masyarakat terlibat menyukseskan berbagai program pemerintah dan lembaga kesehatan dunia untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini.

 

Salah satu yang sedang dilakukan di seluruh dunia dalam upaya melawan Covid-19 adalah pemberian vaksin. Di Indonesia sendiri, pemberian vaksin telah dilakukan sejak awal tahun 2021. Mereka yang diprioritaskan menerima vaksin tahap awal ini adalah para tenaga kesehatan, orang lanjut usia di atas 60 tahun dan petugas pelayanan publik.

 

Jenis Vaksin Covid-19

Ada beberapa jenis vaksin yang telah dikembangkan dan mulai didistribusikan di seluruh dunia, sedangkan jenis yang digunakan di Indonesia adalah Sinovac yang merupakan deactivated virus atau virus yang telah dimatikan sehingga tidak dapat membuat seseorang terinfeksi, berasal dari negara Cina.

Sedangkan jenis vaksin lainnya yang dipakai di negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris adalah vaksin jenis mRNA produksi Pfizer-BioNTech dan Moderna. Berbeda dengan Sinovac, vaksin jenis ini tidak menggunakan virus sungguhan yang telah dimatikan.

Meski berbeda jenis, ketiga vaksin ini memiliki satu kesamaan, yaitu harus disuntikkan sebanyak 2 kali atau dua dosis dalam kurun waktu atau jeda waktu tertentu.

Sebenarnya ada jenis vaksin lainnya yang hanya memerlukan satu dosis atau satu kali penyuntikan, yaitu vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan The Johnson & Johnson. 

 

Baca juga: Amankah Vaksinasi COVID-19 pada Ibu Hamil dan Menyusui?

 

Kenapa Harus 2 Kali?

| Shutterstock

Nah, tahukah Bunda apa alasannya selain vaksin The Johnson & Jhonson, vaksin lainnya harus diberikan sebanyak dua kali pada tubuh kita?

Sebenarnya, memberikan dua dosis vaksin bukanlah hal baru di dunia kesehatan. Dua dosis vaksin dinilai sebagai dosis yang wajar. Penyakit lainnya yang membutuhkan vaksin seperi cacar air, hepatitis A, herpes zoster atau cacar ular juga memerlukan dua dosis. Sedangkan DTaP (difteri, tetanus, dan pertusis) justru memerlukan lebih dari 2 dosis.

Jawabannya tentu saja untuk memastikan bahwa vaksin bekerja dengan lebih efektif. Ahli penyakit menular dari UCLA Health, Amerika Serikat, Otto Yang, menjelaskan bahwa vaksin bekerja dengan cara memaparkan bagian kecil dari virus agar sistem imun bisa mengenali sumber penyakit tertentu. 

Pemberian vaksin sebanyak 2 dosis diharapkan dapat memperbesar kemungkinan sistem imun tubuh efektif mempelajari virus dan menemukan cara melawan atau menangkal infeksi berikutnya (saat terpapar virus sungguhan).

Suntikan pertama diberikan untuk memicu respons kekebalan tahap awal terhadap vaksin yang diberikan. Sedangkan suntikan kedua berguna untuk meningkatkan kekuatan respons imun yang sebelumnya telah terbentuk.

 

Baca juga: Wajib Baca! 7 Hal Penting Seputar Vaksinasi Covid-19

 

Vaksin Tidak 100% Mencegah Penyakit

Perlu diingat bahwa pemberian vaksin tidak akan serta merta membuat seseorang yang menerimanya jadi 100% terhindar dari penyakit tertentu, termasuk Covid-19. Dengan penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa tujuan pemberian vaksin adalah untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali satu jenis penyakit yang ditimbulkan dari virus tertentu. Jadi saat terjangkit virus sungguhan, tubuh seolah-olah telah ‘mengenal’ virus tersebut dan tahu bagaimana cara mengatasinya dengan lebih efektif sehingga tidak menimbulkan gejala berat yang mengancam keselamatan nyawa.

Waktu yang dibutuhkan tiap vaksin baik dalam jeda pemberian dosis pertama dan keduanya, juga waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya bekerja dengan optimal sangatlah beragam, tergantung dari jenis dan merek. Di Indonesia sendiri, vaksin Sinovac memerlukan jeda waktu selama 14 hari dalam pemberian dosis pertama dan kedua. Dan pembentukan antibodi secara optimal membutuhkan waktu 28 hari setelah penyuntikan.

 

Baca juga: Positif Covid-19 Meski Telah Divaksinasi, Begini Penjelasannya

 

Jangan Menunda Vaksinasi Dosis Kedua

 

| Shutterstock

Dilansir dari Halodoc.com, Bambang Heriyanto yang merupakan Corporate Secretary Bio Farma menjelaskan bahwa penerima vaksin wajib mendapatkan dua dosis suntikan untuk mengoptimalkan manfaat vaksin. Namun, jika penerima vaksin sakit atau dalam kondisi yang tidak memenuhi syarat untuk penyuntikan kedua, maka penerima vaksin dapat terlebih dahulu mengunjungi dan berkonsultasi dengan dokter di klinik kesehatan dan kembali untuk menerima vaksin dosis kedua sesegera mungkin.

Artinya, memang ada toleransi keterlambatan dalam pemberian dosis kedua vaksin, namun bukan berarti seseorang dapat dengan sengaja melakukannya. Selain untuk mengoptimalkan manfaat vaksin bagi diri sendiri, hal ini juga perlu dipahami sebagai upaya mendukung kesuksesan program pemerintah dalam memberikan vaksin untuk menyudahi kondisi pandemi.

Pada akhirnya, perlu kita ingat terus menerus, bahwa saat ini pandemi belum berakhir dan pemberian vaksin belum selesai bagi seluruh warga Indonesia. Berarti, kita semua masih harus disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan air dan sabun atau menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi/interaksi.

 

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ratih Sukma Pertiwi