We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future.
Franklin D. Roosevelt

Fase-fase dalam Pernikahan dan Bagaimana Menyikapinya

author
Ruth Sinambela
Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:40 WIB
Fase-fase pernikahan | Shutterstock

Membahas soal pernikahan nggak ada habisnya, Bun. Ibarat perahu di lautan, bahtera rumah tangga mengalami pasang surut yang tiada akhir. Statement ini ini disetujui oleh Dr. Carmen Harra, Ph.D., seorang psikolog bidang relationship mengatakan “Fluktuasi dalam suatu hubungan adalah normal dan diharapkan,". Karena setidaknya ada lima tahapan komitmen yang biasa dilalui oleh pasangan menikah, dan dalam artikel ini akan dibahas bagaimana sebaiknya seseorang mempersiapkan diri untuk menyikapinya. 

Baca juga: 5 Fakta Menarik Seputar Pernikahan yang Mungkin Belum Kamu Tahu

 

Newly Weds 

Fase dimana Bunda selalu ingin dekat sama Ayah dan rasanya kangeeen banget kalau sebentar aja nggak ketemu. Tidak ketinggalan, Bunda juga jadi ingin memberikan apa pun yang dapat membahagiakan pasangan. Pada tahap ini adalah sangat wajar apabila Bunda dan Ayah sedang merasakan kebahagiaan yang meluap-luap, terlihat dari kemesraan yang tak ada habisnya.

Settling In

Selanjutnya, Bunda akan mulai memasuki fase dimana lebih mengenali dan mendalami siapakah sosok pria yang jadi pasangan Bunda sebenarnya, dan bagaimana perilakunya hari lepas hari. Di fase ini juga Bunda akan mulai merasa nyaman untuk ‘melepas topeng’ dan menjadi diri sendiri. Ini adalah waktunya bagi Bunda dan Ayah untuk mulai bertukar pikiran, memberi pendapat tentang apa yang ingin dilakukan dan bagaimana baiknya untuk kedua belah pihak. Juga bagaimana Bunda dan Ayah ingin menjalani pernikahan, membentuk pernikahan yang menyenangkan sehingga pada saat yang sama, cinta dibentuk secara emosional dan logika serta komitmen.

Namun dalam fase ini pula, mungkin saja Bunda dan Ayah akan dibawa kembali ke titik awal apabila menemukan masalah yang tak terhindarkan. Mendapati pribadi yang berbeda dari yang sebelumnya dikenal, sehingga membutuhkan waktu untuk belajar lagi tentang satu sama lain

Baca juga: Wedding Anniversary Perlu Dirayakan Meski Tidak Besar-besaran. Ini Alasannya!

 

Hubungan dalam pernikahan | Shutterstock

Disappointment and Growth

Merupakan masa yang sulit karena pada tahap inilah Bunda dan Ayah ‘dipaksa’ untuk tumbuh dalam kedewasaan mental, baik sebagai pasangan, maupun diri sendiri. Menurut dr. Margaret Paul, Ph.D., seorang psikolog spesialisasi hubungan pernikahan, "Ini adalah tahap ketika pasangan perlu mengobrol dengan batin mereka untuk belajar bertanggung jawab dan mengontrol perasaan mereka sendiri."

Dr. Margaret Paul, Ph.D juga menambahkan, “Ini adalah waktunya setiap pasangan dapat menghadapi tantangan dalam pernikahan dan bahkan menjadikannya alat untuk menyelesaikan masalah yang mungkin sebelumnya tak terselesaikan atau tidak dipedulikan, sehingga dapat memberi pelajaran untuk pengendalian diri, karena tanpa pembelajaran ini, hubungan tidak akan bertahan.”

Kita perlu mengingat bahwa pasangan adalah satu individu yang sepenuhnya berbeda dengan diri kita sendiri. Wajar jika pasangan jadi sumber kebahagiaan, namun jangan jadikan mereka sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan itu.

Baca juga: Nasihat Pernikahan

 

Masih ada dua fase dalam pernikahan yang akan kita bahas di artikel selanjutnya, yaitu fase comfortable (merasa nyaman) dan unconditional love (cinta tanpa syarat) yang merupakan fase tertinggi dalam satu hubungan komitmen. Kunjungi website Kanya.id untuk membaca artikel lanjutannya ya, Bun.

 

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ruth Sinambela