When I come home, my daughter will run to the door and give me a big hug, and everything that’s happened that day just melts away.
Hugh Jackman

Meningkatnya Kasus KDRT Selama Pandemi Covid-19

author
Ruth Sinambela
Jumat, 10 Desember 2021 | 15:47 WIB
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) | Shutterstock

Semakin banyak kasus KDRT muncul di masyarakat ya, Bun. Uniknya, ada juga laporan KDRT yang kurang berdasar, atau agak tidak masuk akal. Salah satunya, kasus KDRT yang viral akhir-akhir ini, yaitu kasus KDRT yang ditujukan kepada Ibu Valencya alias Nengcy Lim, oleh mantan suaminya, Chan Yung Ching.

Mantan suami memidanakannya karena dianggap melakukan KDRT Psikis, yaitu sering memarahinya. Sedangkan Ibu Valencya menganggap bahwa tuntutan yang diterimanya tak masuk akal, lantaran ia memarahi suaminya dalam batas kewajaran karena suaminya jarang pulang, suka berjudi, dan seringkali pulang dalam keadaan mabuk.

Baca Juga: Bukan Cuma Fisik, Ini Jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang Harus Kamu Tahu!

 Tadinya Ibu Valencya dituntut 1 tahun kurungan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Bun! Kini, kasus hukum yang menjerat Ibu Valencya sudah ditarik tuntutannya karena terbukti tidak bersalah.

Kenali Red Flag, atau Situasi yang Tak Bisa Ditolerir Saat Mengalami KDRT | Shutterstock

Peningkatan kasus KDRT selama pandemi Covid-19

Menurut catatan Komnas Perempuan, kasus KDRT terhadap perempuan naik sebesar 75% selama pandemi tahun 2020. Menurut catatan YLBH APIK, mayoritas kasus KDRT, yaitu sebanyak 90 kasus setiap bulan,  dialami oleh perempuan. Kasus ini naik dari masa sebelum pandemi yang biasanya terjadi sebanyak 30 kasus perbulan.

Cukup miris ya, Bun? Di saat-saat sulit karena pandemi covid-19, dan seluruh keluarga harus berkumpul di rumah, justru malah meningkatkan kasus kekerasan bukannya menciptakan kehangatan.

Baca Juga: 16 Fakta Kekerasan Terhadap Perempuan

Penyebab meningkatnya kasus KDRT selama pandemi

Tekanan ekonomi dan psikologis adalah penyebab utama yang mendorong naiknya angka kasus KDRT di Indonesia. Banyak hal terjadi selama pandemi covid-19, seperti PHK, bisnis merugi bahkan tutup, hingga pemotongan gaji. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan stress, temperamental, hingga kekerasan fisik.

Tak dapat dipungkiri, pandemi covid-19 memang sangat mempengaruhi ekonomi keluarga ya, Bun. Selain beban ekonomi, beban pekerjaan, pendidikan, dan lainnya juga menumpuk, hal inilah yang kemudian mengakibatkan banyak orang mengalami “masalah” mental. Hingga akhirnya terakumulasi menjadi kekerasan.

Terbuka dan Carilah Bantuan Ketika KDRT Terus Berulang | Shutterstock

Solusi yang dapat diambil ketika menghadapi KDRT

  • Masing-masing pihak dalam rumah tangga harus mau berusaha untuk lebih menahan diri dan saling mendukung, apapun kesulitan yang tengah dihadapi.
  • Apabila Bunda merupakan korban, atau ada orang terdekat yang menjadi korban KDRT, maka carilah bantuan, dengan melaporkan KDRT kepada pihak yang berwenang, misalnya kepolisian, LBH, atau dengan menghubungi Call Center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.
  • Bunda dapat juga meminta bantuan tetangga atau melaporkan KDRT yang Bunda terima melalui media sosial.

Baca Juga: Kekerasan Seksual di Tempat Kerja, Ini Cara Mengatasinya

Seberat dan sebesar apapun tekanan yang dihadapi di masa-masa sulit, seperti pandemi sekarang ini, harus disadari bahwa siapapun tidak memiliki hak untuk melakukan kekerasan kepada siapapun, terlebih lagi kepada keluarganya. Sudah seharusnya keluarga saling melindungi. Khususnya dalam hal ini, melindunginya dari kekerasan diri sendiri. Salam sehat dan tetap semangat, Bunda!

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ruth Sinambela