Being a parent has made me more open, more connected to myself, more happy, and more creative. I’m more discerning in what I do and how I do it. It’s just made me a better person all the way around.
Alicia Keys

Mengapa Sesekali Orang Tua Perlu Berkata “Tidak” pada Anak?

author
Ruth Sinambela
Kamis, 10 Agustus 2023 | 09:52 WIB
Mengatakan | Shutterstock

Sebagai orang tua, Bunda maupun Ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anak. Bahkan terkadang, orang tua justru cenderung ingin memenuhi semua keinginan anak karena ingin membuat mereka bahagia. 

Namun sadarkah Bunda kalau ada saat-saat dimana penting bagi orang tua untuk mengatakan "tidak" pada anak? 

Faktanya mengatakan “tidak” pada si kecil tak selalu memberikan dampak yang kurang baik, Bun. Karena apabila kata “tidak” digunakan pada situasi yang tepat dan dengan ketegasan yang bernuansa positif, justru bisa memberikan manfaat yang luar biasa dalam pengembangan karakter anak, lho!

Baca Juga: Mengapa Film Barbie Tidak Direkomendasikan untuk Anak-Anak?

Mengajarkan batasan dan aturan 

Mengatakan "tidak" pada si kecil merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan atau memperkenalkan anak tentang batasan dan aturan. Ketika Bunda memberikan segala yang si kecil inginkan tanpa pertimbangan, maka anak dapat kehilangan pemahaman tentang konsep penting seperti disiplin, pengendalian diri, dan tanggung jawab. Dengan mengatakan "tidak", Bunda dan Ayah dapat membiasakan dan membantu si kecil memahami kalau tidak semua keinginannya bisa dipenuhi dan bahwa ada batasan yang harus dihormati.

Mengatakan | Shutterstock

Mengelola frustasi

Ketika anak mendapatkan apa yang mereka inginkan setiap saat, maka anak tidak akan belajar mengelola rasa frustasi atau kekecewaan, Bun. Padahal di dalam kehidupan nyata, kemampuan anak untuk mengelola frustasi dan rasa kecewa sangat dibutuhkan.

Anak harus memahami sejak dini bahwa orang tua tidak selalu mampu memenuhi semua keinginan mereka. Dengan demikianlah Bunda maupun Ayah bisa membantu mereka untuk belajar menghadapi dan mengatasi rasa frustasi juga kemampuan mengatasi tantangan di masa depan.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Orang Tua Sebaiknya Tidak Memaksa Anak Berhenti Menangis

Mengajarkan nilai dan tanggung jawab 

Ketika Bunda menolak permintaan si kecil karena alasan yang masuk akal, seperti membeli mainan baru atau permen berlebihan, artinya Bunda tengah mengajarkan mereka tentang pentingnya pengelolaan keuangan, pentingnya kesehatan dan gizi yang seimbang, dan nilai-nilai seperti kesederhanaan juga penghargaan terhadap apa yang mereka miliki. Dengan demikian, mengatakan "tidak" pada anak akan mengajarkan nilai dan tanggung jawab, Bun.

Melindungi diri sendiri

Terkadang, Bunda perlu mengatakan "tidak" pada anak untuk mengajarkannya cara melindungi diri sendiri. Misalnya, ketika mereka meminta untuk bermain di luar tanpa pengawasan, meminta untuk melakukan sesuatu yang berbahaya, atau ingin melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan usia atau tingkat kematangan mereka. 

Mengatakan |

Mengatakan "tidak" dalam hal ini adalah langkah Bunda untuk menjaga agar si kecil tetap aman, melindungi mereka dari potensi bahaya, serta mengajarkan bagaimana melindungi diri sendiri. Begitu pula dalam kaitannya dengan mengatakan “tidak” pada orang asing atau orang yang mencurigakan.

Baca Juga: Pillow Talk Tidak Hanya Baik untuk Pasangan, Tapi Si Kecil Juga!

Mengajarkan toleransi dan menghormati keputusan orang lain 

Mengatakan "tidak" juga merupakan kesempatan untuk mengajarkan pada si kecil tentang toleransi dan menghormati keputusan orang lain, Bun. Bagaimana pun anak perlu memahami bahwa tidak semua orang akan setuju dengan apa yang mereka inginkan atau lakukan. Dengan menghadapi penolakan dalam lingkungan keluarga, anak akan belajar untuk menerima keputusan orang lain dengan sikap yang baik pula.

Mengatakan "tidak" bukan berarti Bunda tidak peduli atau tidak mencintai si kecil. Sebaliknya, ini merupakan langkah penting dalam membentuk kepribadian, karakter, dan sikap yang baik. Namun, penting untuk mengingat bahwa penggunaan kata "tidak" haruslah seimbang dan disertai dengan penjelasan yang mudah dipahami agar si kecil tidak justru merasa didiskriminasi, dipaksa, atau sampai menilai kalau Bunda otoriter dan hanya memaksakan kehendak saja. 

Ingatlah kalau mengatakan “tidak” harus disertai dengan pemahaman orang tua akan situasi dan kemampuan anak untuk menerimanya. Tidak kurang tidak juga berlebihan ya, Bunda dan Ayah.

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ratih Sukma Pertiwi