I think the girl who is able to earn her own living and pay her own way should be as happy as anybody on earth. The sense of independence and security is very sweet.
Susan B. Anthony

Anak Sering Berulah, 4 Langkah Ini Bisa Membantu Orangtua

author
Hasto Prianggoro
Rabu, 15 Mei 2019 | 17:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

 

Mengatasi anak yang selalu berulah memang melelahkan. Ada-ada saja aksi si Kecil yang membuat orangtua kesal atau kewalahan, mulai dari aksi agresif, suka menggigit, mau menang sendiri, berteriak-teriak, ngambek, dan sebagainya. Butuh kesabaran dan kreativitas orangtua agar anak bisa tenang dan menunjukkan perilaku yang lebih positif. Begini caranya.

1. Tetap tenang

Orangtua harus bisa tetap menjaga emosi ketika anak berulah. Jika orangtua malah menunjukkan rasa kesal di depan mereka, anak bisa-bisa juga malah makin menjadi-jadi tantrum atau ulahnya. Mengingatkan anak sambil berteriak misalnya, malah mendorong anak untuk berteriak lebih kencang sambil tetap memukul atau melempar-lempar benda. Intinya, bentuk hukuman yang cenderung agresif akan makin mendorong perilaku agresif.

Ingat, anak usia batita belum belajar bagaimana harus berperilaku. Orangtua sebaiknya tidak terlalu mengharapkan anak untuk sempurna dan tertib di usia ini. Apa yang terlihat sebagai perilaku keliru mungkin sebetulnya hanya cara anak untuk belajar hal-hal baru. Bisa juga cara anak untuk menguji batas, sampai dimana ia boleh dan tak boleh. Lebih baik beri tahu anak terus menerus bahwa apa yang dia lakukan itu tidak baik sampai mereka mengerti.

Baca juga: Kenapa Anak Suka Nungguin Orangtua Pup? Ternyata Ini Alasannya

2. Beri pujian positif

Beri anak pujian ketika menunjukkan perilaku positif, misalnya membereskan sendiri mainan mereka, membantu orangtua di dapur, dan sebagainya. Pujian dan respons positif orangtua akan mendorong anak untuk kembali menunjukkan perilaku positifnya di lain hari sehingga lama-lama akan menjadi kebiasaan.

3. Alihkan dengan aktivitas fisik

Aktivitas fisik bisa menjadi alternatif kegiatan ketika anak marah atau frustrasi. Aktivitas fisik, misalnya bermain bola atau bermain trampolin, akan membuat energi anak terkuras sekaligus melampiaskan emosi dan frustrasinya. Hasilnya, anak tak lagi menunjukkan perilaku negatif karena teralihkan oleh aktivitas fisik.

4. Kurangi jam tidur siangnya

Tidur siang memang bagus bagi tumbuh kembang anak. Tetapi tidur siang yang terlalu lama akan membuat jam jaga anak di malam hari juga menjadi lebih lama sehingga membuat anak frustrasi. Tidur siang boleh dan bagus, tetapi sebaiknya tak lebih dari satu jam sehingga anak bisa tidur lebih awal di malam hari. Anak juga tak lagi frustrasi karena tidak bisa tidur di malam hari. 

Baca juga:  4 Bahasa Tubuh Anak Yang Wajib Diketahui Orangtua

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro