Too much love never spoils children. Children become spoiled when we substitute presents for presence.
Anthony Withman

Hobi Traveling? Waspadai 5 Penyakit Langganan Liburan Ini

author
Hasto Prianggoro
Rabu, 3 Juli 2019 | 17:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

 

Kamu hobi traveling? Biasanya, keluhan yang mucul selama liburan paling-paling sembelit atau kulit gosong akibat berjemur. Tetapi, tahukah bahwa  ternyata ada beberapa keluhan kesehatan yang muncul selama  liburan, seperti disampaikan Dr. Richard Dawood, spesialis travel medicine dan penulis buku Travellers’ Health, How To Stay Healthy Abroadberikut.

 

1. Leisure Sickness

Menurut psikolog Belanda, Ad Vingerhoets, sekitar 3 persen dari kita pernah mengalami gangguan kesehatan yang disebut ‘leisure sickness’, yakni suatu sindroma dimana kita sakit justru saat kita rileks. Gejalanya bervariasi mulai dari sakit kepala, kelelahan, hingga demam.

Prof. Esther Stenberg, peneliti imunologi neuroendokrin di National Institute of Mental Health mengatakan bahwa ketika kita lepas dari rutinitas, surplus hormon kortisol (hormon yang melepas stres) malah bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh kita. Coba lakukan relaksasi rutin setiap hari, seperti membaca atau meditasi untuk mencegah keluhan ini muncul. Selama liburan, jangan lupa makan teratur dan cukup minum untuk mencegah sakit kepala.

2. Swimmer’s Ear

Berenang biasanya menjadi jadwal wajib ketika liburan. Jika kita berenang seharian, telinga bagian luar kita akan selalu lembab dalam waktu lama sehingga bisa memicu infeksi yang disebut ototis externa atau swimmer’s ear. Memang tak sesakit infeksi pada telinga bagian dalam, tetapi tetap saja menyebabkan perasaan tak nyaman dan ruam kulit di sekitar telinga.

Bersihkan telinga setiap kali habis berenang sekering mungkin serta gunakan cotton bud untuk membersihkan sisa-sisa air. Untuk anak, orangtua sebaiknya membantu membersihkan area telinga luarnya supaya tidak infeksi.

Baca juga: Nggak Usah ke Maldives, Ini Villa Terapung di Indonesia 

3. Airplane Trays

Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan menemukan bahwa terdapat rata-rata sekitar 2155 bakteri per inci persegi pada baki makan di pesawat terbang (bandingkan dengan 265 bakteri per inci persegi pada tombol flush di toilet pesawat). Bakteri ini dengan mudah masuk ke tubuh melalui hidung. Rambut hidung kita, yang merupakan pertahanan pertama mencegah infeksi, rusak akibat semburan udara kering hasil daur ulang selama di pesawat terbang.

Sebaiknya banyak-banyak minum air dan sering-sering basahi lubang hidung (misalnya  dengan nasal spray). Juga, cuci tangan sebelum makan di pesawat dan gunakan handuk atau tisu untuk menekan tombol flush di toilet pesawat.

4. Mallorca Acne

Selain berenang, berjemur juga menjadi jadwal wajib selama liburan. Tetapi data menunjukkan, 10-15 warga Inggris mengalami reaksi alergi akibat paparan sinar matahari ke kulit akibat berjemur yang terlalu lama. Akibatnya, muncul bengkak dan gatal-gatal. Area yang biasanya mengalami reaksi alergi yang disebut polymorphic light eruption atau ‘Mallorca acne” ini antara lain leher, muka, dan lengan.

Reaksi alergi ini diduga disebabkan paparan sinar ultraviolet yang menerpa bagian kulit yang kemudian memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi. Mallorca acne akan mereda beberapa minggu setelah liburan. Sebaiknya, jangan nekad berlama-lama berjemur di bawah sinar matahari. Tablet antihistamin cukup membantu pencegahan.

| SHUTTERSTOCK
5. Sky-high Sunburn

Studi yang dipublikasikan di Journal of The American Medical Association Dermatology melaporkan bahwa para pilot yang terbang selama paling tidak 56 menit pada ketinggian 30 ribu kaki bisa terpapar jumlah radioaktif karsinogenik UVA yang sama dengan mereka yang memakai sunbed (kasur pemanas) selama 20 menit.

British Association of Dermatologists juga menyatakan bahwa jumlah lapisan ozon yang  makin menipis akan membuat sinar matahari dipantulkan oleh awan. Ini membuat penumpang pesawat terbang menjadi lebih beresiko dibandingkan mereka yang berada di daratan.

Pakailah krim pelindung yang mengandung paling tidak SPF 30 dan juga pelindang UVA selama penerbangan. Bagi yang hobi duduk di kursi samping jendela pesawat, sebaiknya turunkan tirai jendela untuk menghindari paparan sinar matahari langsung.

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro