To her, the name of father was another name for love.
Fanny Fern

Manfaat, Risiko, dan Kapan Harus Berhenti Memberi Dot pada si Kecil?

author
Ruth Sinambela
Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:10 WIB
Dot bayi | Shutterstock

Idealnya, setiap ibu ingin memberi yang terbaik bagi anak mereka. Maka, setiap pilihan yang diambil seorang ibu sudah sepatutnya kita dukung dan hargai. Setuju kan, Bun?

Meski begitu, tidak jarang ada hal-hal seputar parenting yang menimbulkan pro-kontra. Salah satunya adalah mengenai pilihan memberi dot atau empeng kepada bayi. Pernah kan, Bun, membaca atau bahkan terlibat dalam diskusi seputar, “team kasih empeng” atau enggak (kepada anak)?

Jika Bunda termasuk ibu yang memilih memberi dot/empeng kepada si kecil, tidak perlu berkecil hati, karena sebenarnya pemberian dot/empeng itu wajar dan tidak akan serta merta berdampak buruk. Malah, ada manfaatnya yang bisa diambil. Asal, diberikan dengan tepat. Tepat dalam arti memilih jenis yang baik, dan dalam jangka waktu yang wajar.

Baca juga : Mengisap Dot Anak Cegah Alergi, Benarkah?

Yuk kita bahas manfaat serta risiko pemberian dot/empeng pada anak.

Manfaat memberi dot/empeng pada bayi

Penelitian menyebutkan bahwa bayi umumnya memerlukan sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam mulut, meski sedang tidak merasa lapar. Banyak orang tua berpendapat dari pada si kecil memasukan benda asing yang berada di sekitarnya, dan tidak terjamin dalam hal kebersihan serta keamanan, dot/empeng jadi pilihan yang lebih baik untuk diberikan.

Namun, tidak hanya itu saja, Bun. Dot/empeng juga mampu menurunkan risiko kejadian bayi meninggal mendadak atau dikenal dengan istilah sudden infant death syndrome (SIDS) yang bisa dialami bayi di bawah usia satu tahun tanpa gejala.

Selain itu, dot/empeng juga diketahui dapat menenangkan bayi. Menghisap sesuatu memang merupakan salah satu cara bayi ‘self soothe’ yang efektif. Dengan memberinya objek untuk dihisap, bayi dapat lebih mudah tenang bahkan tidur. Mereka juga akan teralihkan perhatiannya saat perlu melakukan tindakan kesehatan seperti suntik imunisasi maupun proses pengambilan darah.

Oh ya, jangan lupa bahwa saat bepergian menggunakan pesawat, bayi juga bisa merasa kurang nyaman dengan perbedaan tekanan udara, dan lagi-lagi dot/empeng bermanfaat untuk membuatnya jadi lebih nyaman di kondisi ini.

Dot bayi | Shutterstock

Baca juga : Asal Usul Dot, Berawal Dari Bonggol Jagung

Risiko menggunakan dot/empeng pada bayi

Sebenarnya, Sebagian besar risiko akan timbul jika dot/empeng diberikan secara terus menerus dan dalam kurun waktu berkepanjangan. Risiko yang cukup umum adalah masalah gigi. Dot/empeng dapat menyebabkan struktur gigi dan atau rahang mengalami perubahan dari bentuk normalnya. Selain itu, anak atau bayi yang menggunakan dot/empeng juga memiliki risiko mengalami infeksi telinga, lebih tinggi ketimbang bayi atau anak yang tidak.

 

Kapan harus berhenti memberi dot/empeng kepada bayi?

Pakar dan dokter anak menyarankan Bunda untuk mulai melatih bayi meninggalkan kebiasaannya menggunakan dot/empeng mulai usia dua tahun. Anak-anak di usia ini seharusnya sudah memiliki kemampuan menenangkan dirinya sendiri tanpa menggunakan alat bantu berupa dot/empeng. Selain itu, di usia dua tahun, jika kebiasaan ini tidak pelan-pelan ditinggalkan, akan jadi lebih sulit untuk Bunda menghilangkannya di masa yang akan datang. 

Struktur gigi dan rahang anak juga akan semakin sempurna sehingga jika terus menerus mendapat tekanan dari penggunaan dot/empeng, bisa memicu perubahan bentuk yang mungkin sulit diperbaiki di kemudian hari.

Jadi, sudah siap untuk membantu si kecil lepas dari dot/empengnya belum, Bun?

Baca juga : Jangan Dihisap Pakai Mulut, Ini Cara Gunakan Alat Penyedot Ingus Bayi

Penulis Ruth Sinambela
Editor Marti