Keep your face always toward the sunshine, and shadows will fall behind you
Walt Whitman

Kisah Inspiratif Sang Juara Dunia, Lionel Messi yang Pernah Menderita Gangguan Hormon Sejak Kecil

author
Ruth Sinambela
Selasa, 20 Desember 2022 | 10:25 WIB
Lionel Messi tersenyum bahagia saat menerima trofi penghargaan pemain terbaik Piala Dunia 2022 setelah membawa Argentina menjadi juara |

Sebagian Bunda mungkin belum pernah mendengar kisah inspiratif mengenai bagaimana Lionel Messi, sang Juara Dunia, akhirnya dapat tumbuh normal setelah mengalami gangguan hormon yaitu Growth Hormone Deficiency (GHD) saat berusia 11 tahun atau ketika berusia remaja.

Kala itu Messi, begitu ia biasa disapa, bahkan hanya memiliki tinggi 127 cm di usianya yang menginjak 11 tahun. Namun hebatnya, hal ini membuatnya tidak kurang percaya diri, terutama dalam mengembangkan bakatnya di dunia sepakbola. Apalagi ia memiliki bakat cemerlang dalam olahraga sepakbola meski tubuhnya saat itu jauh lebih kecil dari teman-teman sepermainannya.

Baca Juga: Serba-Serbi Final Piala Dunia yang Bunda Perlu Tahu, Mengharukan dan Mendebarkan

Keluarga yang suportif

Meski Messi memiliki gangguan hormon pada tubuhnya, ia tetap merasakan perhatian dan dukungan dari keluarganya, Bun. 

Bahkan orang tuanya, yang berprofesi sebagai tukang cuci dan buruh pabrik, di tengah-tengah kesulitan mereka menyediakan obat yang terbilang sangat mahal setiap bulannya, yaitu sekitar 10 juta rupiah setiap kali Messi mendapat 1 kali suntikan hormon, tetap mengizinkan sang putra untuk berlatih sepakbola di tim junior Newell's Old Boys pada saat itu. Messi kecil pun tak menyadari penyakitnya dan hanya menikmati bermain sepakbola.

Tak hanya berbakat di lapangan hijau, Lionel Messi juga memiliki kemampuan akademik yang sangat baik | The Indian Express

Berprestasi di bidang akademik dan non akademik

Tak hanya di bidang olahraga, ternyata Messi kecil juga memiliki kemampuan yang sangat baik di bidang akademik lho, Bun. Selama belajar di sekolah, ia selalu mendapatkan nilai-nilai sempurna terutama untuk pelajaran matematika, IPA, dan Bahasa Spanyol. Guru Messi di sekolah juga selalu memuji Messi akan hal itu.

Namun meski memiliki otak yang cerdas, Messi sudah menetapkan hatinya pada sepakbola, Bun. Ia bahkan menorehkan prestasi yang gemilang dan menjadi pusat perhatian, hingga puncaknya seorang pelatih dari klub sepakbola Eropa, Barcelona, datang ke Argentina untuk melihat langsung kepiawaian Messi bermain di lapangan hijau.

Baca Juga: Memilih Olahraga yang Tepat untuk Anak dengan Autisme

Messi pindah ke Barcelona

Carles Rexach, yang menjabat sebagai Direktur Olahraga Barcelona pada saat itu, mendengar kehebatan Messi dan seketika terpukau oleh bocah 13 tahun tersebut hingga langsung meminta Messi untuk mengikuti trial atau masa percobaan di Klub Barcelona.

Ia bahkan terburu-buru membuat kontrak di atas sebuah serbet makan karena tak ada kertas di sekitarnya. Pada saat itu, Carles Rexach benar-benar khawatir kehilangan Messi kecil, Bun.

Seperti dilansir dari Liputan6.com, dalam kontrak tersebut disebutkan bahwa Klub Barcelona akan menanggung biaya pengobatan Messi asalkan ia pindah dan menetap di Barcelona. Keluarga Messi pun menyetujui kontrak tersebut.

Argentina menangkan Piala Dunia 2022 | FIFA World Cup 2022

"Aku membuat banyak pengorbanan saat meninggalkan Argentina, meninggalkan keluargaku untuk memulai hidup baru. Tapi semua kulakukan demi sepakbola dan demi impianku. Itu sebabnya aku tidak pergi keluar berpesta saat remaja," kenang Messi saat mengingat peristiwa tersebut, seperti dilansir dari Liputan6.com.

"Barcelona adalah satu-satunya klub yang mau membiayai pengobatanku. Aku akan selalu berhutang budi pada klub ini," ucapnya penuh haru.

Kini, Messi yang sempat khawatir karena tak ada klub yang mau mengajaknya bergabung karena masalah  hormon yang dimilikinya dahulu, telah tumbuh menjadi salah satu pemain sepakbola terbaik dunia!

Baca Juga: Manfaat Berolahraga Rutin untuk Tumbuh Kembang Anak

Apa yang bisa kita teladani dari kisah inspiratif ini adalah Lionel Messi, bahkan di masa-masa yang paling kelam pun, dahulu ketika ia menderita gangguan hormon, juga beberapa waktu yang lalu, saat ia merasa tidak mampu membawa negaranya meraih gelar Piala Dunia, pada akhirnya berhasil meraihnya dengan harapan dan kerja keras. 

Semoga Bunda dan keluarga pun selalu menemukan harapan dan semangat dalam menjalani apa pun yang mungkin terasa berat saat ini, ya. Khususnya yang berhubungan dengan si kecil, bakat, maupun pendidikannya. Percayalah kalau dengan kerja keras, dan harapan yang disertai doa, Bunda dan keluarga pasti bisa melewati setiap masalah dan meraih keberhasilan. Semangat!

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ratih Sukma Pertiwi