When I get up and work out, I’m working out just as much for my girls as I am for me, because I want them to see a mother who loves them dearly, who invests in them, but who also invests in herself. It’s just as much about letting them know as young women that it is OK to put yourself a little higher on your priority list.
Michelle Obama

Benarkah Stres pada Ibu Hamil Menyebabkan Anak Stunting?

author
Lizza Zaen
Selasa, 21 Mei 2024 | 11:07 WIB
Kesehatan mental ibu selama kehamilan perlu diperhatikan. | Shutterstock

Kesehatan ibu hamil, baik secara fisik maupun mental, sangat berpengaruh pada kesehatan bayi yang dikandung. Sebuah studi menunjukkan bahwa stres pada ibu hamil dapat menyebabkan anak stunting. Lalu, bagaimana stres selama kehamilan dapat berkaitan dengan anak stunting?

Pepatah mengatakan “men sana in corpore sano” yang berarti, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Pepatah ini juga berlaku pada ibu hamil, karena bayi yang sehat, terlahir dari ibu hamil bermental sehat. Sayangnya, kesehatan mental ibu hamil cenderung diabaikan.

Dilansir dari Sage Journals, pada tahun 2020, Departemen Kesehatan Jiwa, Universitas Indonesia melakukan penelitian terhadap 140 ibu dengan balita di 15 provinsi. Hasilnya terdapat 37 balita (26,4%) mengalami stunting dan 103 balita (73,6) tidak mengalami stunting, serta lebih dari 50% ibu hamil mengalami depresi. Dari jumlah tersebut, balita stunting lebih banyak ditemukan pada ibu yang mengalami stres berat pada saat hamil. Terdapat hubungan antara tingkat stres pada ibu hamil yang menyebabkan anak stunting. 

Sayangnya selama ini, penanganan dan pencegahan anak stunting lebih terfokus pada pemenuhan nutrisi saat bayi sudah dilahirkan. Padahal, menurut WHO stunting dapat dicegah mulai 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak pembuahan hingga anak berusia 2 tahun. 

Penyebab dan Gejala Stres pada Ibu Hamil

Stres merupakan hal lumrah yang terjadi pada pada setiap individu, baik hamil atau tidak. Tidak hanya stres, depresi pada ibu hamil juga dapat terjadi. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), 1 dari 10 perempuan mengalami depresi selama kehamilan. 

Walaupun stres hal yang normal, manajemen stres perlu dilakukan. Dilansir dari Healthline, terdapat stres ringan dan kronis. Stres ringan biasanya tidak menyebabkan kekhawatiran jangka panjang. Sedangkan stres kronis terjadi berkelanjutan dan sulit dihilangkan. Hormon-hormon kehamilan yang memengaruhi suasana hati memiliki kontribusi terhadap stres pada ibu hamil. 

Situs Parents menyebutkan, stres kronis dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti : 

  • Perubahan kehidupan, misalnya kehilangan pekerjaan, penyakit serius, kematian orang yang dicintai, hingga perceraian
  • Bencana alam
  • Masalah kesehatan mental. seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD) dan sejenisnya 
  • Tekanan lingkungan, seperti kemiskinan, diskriminasi, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya
  • Kekhawatiran saat kehamilan, seperti membayangkan persalinan, kesehatan bayi dan merawat bayi

Bunda dapat mengidentifikasi gejala stres kronis pada ibu hamil sebagai langkah pencegahan. Menurut Pregnancy Birth Baby, terdapat beberapa gejala stres kronis, seperti: 

  • Sering mengalami sakit kepala
  • Mengalami gangguan tidur
  • Mengalami kecemasan berlebih
  • Sulit bernapas
  • Denyut nadi berdegup kencang
  • Timbul pikiran obsesif
  • Nafsu makan berkurang
  • Mudah marah 

Baca juga: Depresi Mengintai para Bunda, Apa Saja Ciri-cirinya?

1 dari 10 perempuan mengalami depresi selama kehamilan. | Shutterstock

Dampak Stres pada Ibu Hamil terhadap Bayi 

Stres memang tidak dapat dihindari, namun perlu dikontrol sebaik mungkin, apalagi jika terjadi stres kronis. Dilansir dari What to Expect, terdapat dampak stres pada ibu hamil terhadap bayi, seperti: 

  • Gangguan emosional, psikologis dan kognitif bayi
  • Perkembangan otak dan respons stres anak
  • Keguguran
  • Persalinan prematur
  • Bayi dengan berat badan lahir rendah
  • Keterlambatan perkembangan

Hubungan Stunting dan Stres Pada Ibu Hamil

Memahami korelasi stunting dan stres pada ibu hamil mungkin cukup membingungkan. Menurut WHO, stunting merupakan kondisi tumbuh kembang anak yang terganggu akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak disebut stunting jika memiliki tinggi badan tidak sesuai standar kurva pertumbuhan WHO. Berdasarkan pengertian tersebut, masyarakat lebih familiar stunting disebabkan oleh masalah nutrisi, sehingga banyak orang terfokus pada pemenuhan nutrisi anak. 

Faktanya, hubungan stunting dan stres pada ibu hamil dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dilansir dari Riley Children Health, secara tidak langsung, stres pada ibu hamil dapat menurunkan nafsu makan sehingga berisiko nutrisi ibu hamil dan janin tidak tercukupi. Stres pada trimester akhir kehamilan juga menyebabkan energi yang diberikan kepada bayi lebih sedikit sehingga pertumbuhan bayi di dalam rahim lebih lambat. Secara langsung, stres pada ibu hamil meningkatkan hormon stres atau kortisol yang memengaruhi tumbuh kembang bayi di dalam rahim. 

Dengan demikian dapat disimpulkan, penting untuk menjaga pemenuhan nutrisi dan kesehatan mental ibu hamil untuk mencegah penyebab stunting.

Baca juga: Ini Perbedaan Baby Blues dan Postpartum Depression

Cara Mengatasi Stres Selama Kehamilan

Bunda perlu mengatasi stres agar tidak berkelanjutan dan menyebabkan anak stunting. Berikut beberapa cara mengatasi stres menurut berbagai sumber yang dapat ibu hamil praktikkan.

  • Perhatikan apa saja yang memicu stres timbul
  • Beristirahat yang cukup
  • Konsumsi makanan sehat dan gizi seimbang dan kaya protein, seperti telur, ikan, daging merah, dan daging ayam. Untuk Bunda penyuka olahan ayam yang sederhana, Kanya punya Tips Marinasi Ayam agar Bumbu Meresap dan Daging Empuk. Coba, yuk! 
  • Carilah teman yang dipercaya untuk berbagi cerita dan perasaan dengan nyaman
  • Luangkan waktu untuk relaksasi, seperti yoga, meditasi, latihan pernapasan melalui kelas, video atau podcast
  • Lakukan olahraga secara rutin minimal 30 menit per hari
  • Lakukan aktivitas menyenangkan, terutama yang menjadi hobi seperti membaca, menonton TV dan aktivitas menyenangkan lainnya
  • Habiskan waktu dengan orang-orang yang membuat Bunda merasa senang dan tenang
  • Jika butuh bantuan, mintalah pada orang yang dapat membantu atau jangan sungkan menerima tawaran bantuan dari orang lain
  • Jika masih ragu, lakukan konsultasi atau konseling dengan dokter atau psikolog, apalagi jika stres yang dirasa terus berlanjut

 

Mencegah stunting dan stres pada ibu hamil membutuhkan kerja sama dari lingkungan keluarga, terutama pasangan. Menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu hamil dapat mengurangi stres selama kehamilan. Tentunya, mencegah dan menangani stunting bukan tugas ibu semata, melainkan tanggung jawab bersama. Yuk, jaga kesehatan mental ibu hamil, agar bayi terbebas dari stunting!

 

Referensi

https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell 

https://journals.sagepub.com/doi/full/10.4081/jphr.2021.2738 

https://www.rileychildrens.org/connections/can-stress-during-pregnancy-affect-the-size-and-health-of-a-baby-one-study-says-yes-1 

https://www.pregnancybirthbaby.org.au/amp/article/stress-and-pregnancy 

https://www.acog.org/womens-health/faqs/depression-during-pregnancy 

https://www.healthline.com/health/pregnancy/stress-during-pregnancy#types 

https://www.whattoexpect.com/pregnancy/ask-heidi/stress-during-pregnancy.aspx 

https://www.parents.com/pregnancy/my-body/can-too-much-stress-during-pregnancy-be-bad-for-my-baby/ 

 

Penulis Lizza Zaen
Editor Ratih Sukma Pertiwi