We’re here for a reason. I believe that reason is to throw little torches out to lead people through the dark.
Whoopi Goldberg

Waduh, Si Kecil Doyan Minum Kopi

author
Hasto Prianggoro
Jumat, 5 Juli 2019 | 10:00 WIB
| SHUTTERSTOCK

Minuman yang satu ini memang tengah naik daun. Dimana-mana kini bisa dengan mudah kita jumpai kedai kopi dengan menu kopi bermcam-macam. Tapi bagaimana jika justru si Kecil yang doyan ngopi?

 

Kenapa sih, ada anak yang suka minum kopi, bahkan yang masih batita sekalipun? Ada beberapa alasan untuk itu, salah satunya faktor kultural. Studi yang dilakukan Boston Medical Center tahun 2015, seperti dikutip laman verywellfamily.com, melaporkan bahwa keluarga Hispanik setiap hari memberi anak batita mereka kopi, mengikuti tradisi minum kopi keluarga.

Faktor aksesibilitas juga menjadi faktor yang membuat anak doyan kopi. Apalagi sekarang pamor kopi makin naik, termasuk di Indonesia. Anak-anak mungkin saja melihat orangtua mereka doyan ngopi, lalu mencobanya.

Baca juga: Anak Ternyata Butuh Bermain Sendiri, Ini Alasannya

Sebetulnya, bolehkah anak-anak minum kopi? American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan anak-anak di bawah 12 tahun sebaiknya tidak diberi minum kopi dalam bentuk apa pun. Rekomendasi ini muncul setelah tingkat konsumsi kopi dan minuman energi meningkat di kalangan anak-anak remaja (belum termasuk soft drink).

Padahal, menurut studi, konsumsi kopi dan kafein ditambah gaya hidup yang tak sehat bisa memicu berbagai resiko kesehatan pada anak kelak, seperti depresi, gangguan tidur, obesitas, kecemasan, masalah pencernaan, dan sebagainya.

Khusus pada batita usia 2 tahun, konsumsi kopi atau teh di antara waktu makan mereka bisa meningkatkan resiko obesitas hingga 3 kali lipat setelah mereka masuk sekolah. Anak-anak batita juga lebih beresiko mengalami gangguan kesehatan akibat kafein karena tubuh mereka belum mampu memproses kafein seperti tubuh orang dewasa.

Baca juga: 4 Hal Yang Membuat Kita Lebih Sehat

Yang belum diketahui secara pasti adalah dampak konsumsi kopi dan kafein terhadap perkembangan otak anak, khususnya di 3 tahun pertama usia mereka. Secangkir kopi memang bisa menambah energi, tetapi apa dampaknya bagi perkembangan otak anak jika itu dilakukan setiap hari terus menerus selama bertahun-tahun? Ini yang belum diketahui.

Faktanya, kafe adalah stimulan yang bisa membuat seeorang ketagihan. Konsumsi kopi setiap hari pada anak batita bisa memengaruhi kesehatannya, jadi sebaiknya dihindari. Jika anak kadung suka ngopi, katakan bahwa kopi bukan minuman yang baik baginya lalu beri alternatif minuman lain yang lebih sehat dan sesuai dengan usianya. AAP menyarankan orangtua untuk menunggu hingga anak berusia 12 tahun sebelum dibolehkan minum kopi, itupun dibatasi tak lebih dari 100mg per hari.

Penulis Hasto Prianggoro
Editor Hasto Prianggoro