Too much love never spoils children. Children become spoiled when we substitute presents for presence.
Anthony Withman

Alergi Telur pada Anak, Benarkah Bisa Terpapar Lewat Asap Masakan?

author
Ratih Sukma Pertiwi
Senin, 13 Mei 2024 | 14:43 WIB
Alergi telur pada anak dapat membaik seiring bertambahnya usia. | Shutterstock

Telur merupakan salah satu alergen paling umum dalam kasus alergi pada anak. Selain lewat makanan yang dikonsumsi, anak bisa terpapar alergi telur lewat asap masakan, benarkah? Yuk, cek beberapa fakta terkait alergi telur pada anak yang sebaiknya diketahui orang tua!

Memiliki anak yang alergi telur membuat orang tua harus ekstra hati-hati memilih makanan. Bukan hanya persoalan mengonsumsi telur, tetapi juga harus menghindari segala bentuk makanan dan minuman yang mengandung telur, termasuk roti, biskuit, cake, puding, mayones, pasta, dressing salad, marsmallow, dan sebagainya. Oleh karenanya, orang tua wajib memeriksa label komposisi bahan produk sebelum memberikannya pada anak.

Gejala Ringan atau Berat?

Alergi telur adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi abnormal terhadap protein telur yang masuk ke dalam tubuh. Karena protein telur dianggap zat berbahaya, tubuh pun mengeluarkan zat histamin untuk melindungi diri. Akibatnya, muncul reaksi alergi beberapa menit hingga beberapa jam setelah anak mengonsumsi telur.

Anak yang menderita alergi telur dapat memperlihatkan reaksi gejala yang berbeda-beda, baik ringan maupun berat.

Gejala umum/ringan alergi telur meliputi:

-Gejala pada kulit, seperti ruam kemerahan, biduran, gatal, bengkak di bibir atau kelopak mata.

-Gejala kongesti nasal (hidung tersumbat), hidung meler, bersin-bersin (rinitis alergi).

-Gejala pada pencernaan, seperti mual, muntah, sakit perut, diare, kram perut.

-Gejala asma, batuk, mengi, dan sesak napas.

Gejala berat alergi (anafilaksis) yang dapat bersifat mengancam nyawa, meliputi:

-Denyut nadi cepat.

-Hambatan jalan napas, termasuk tenggorokan bengkak sehingga sulit bernapas.

-Kram atau nyeri perut hebat.

-Syok dengan tanda-tanda seperti tekanan darah turun, sakit kepala hebat, muntah-muntah, keringat dingin, dan kehilangan kesadaran.

Segera periksakan ke dokter jika anak memperlihatkan gejala-gejala ringan maupun berat ya, Bun.

Baca juga: Rekomendasi Makanan Pencegah Stunting Selain Telur yang Murah dan Mudah Didapat

Bagian putih telur lebih memicu reaksi alergi pada anak-anak. | Shutterstock

Putih atau Kuning Telur?

Selama ini banyak orang menyangka bahwa kuning telur adalah bagian dari telur yang paling sering memicu alergi. Faktanya, pada anak-anak justru bagian putih telur yang lebih sering memicu alergi. Sedangkan pada orang dewasa bagian kuning telur yang lebih sering memicu alergi. Namun, karena sulit untuk benar-benar memisahkan bagian kuning dan putih telur, sebaiknya penderita alergi telur menghindari keduanya.

Bisa Hilang Seiring Bertambahnya Usia?

Dilansir dari Mayo Clinic, alergi telur umumnya terjadi pada bayi dan anak usia dini karena sistem kekebalan tubuh dan sistem pencernaannya belum matang.

Reaksi alergi biasanya akan berkurang seiring pertambahan usia anak. American Collage of Allergy, Astma and Immunology menyebutkan bahwa toleransi alergi telur akan berkembang pada usia 5 tahun dan 70% anak dapat mengatasi alergi telur mereka pada usia 16 tahun. Jika anak Bunda sudah dinyatakan dokter bebas dari alergi telur atau batas toleransinya meningkat, Bunda perlahan-lahan bisa memperkenalkan beragam olahan telur pada anak. Tentu sebaiknya olahan telur dibuat di rumah sehingga Bunda bisa memerhatikan takaran dan kehigienisannya. Misalnya, membuatkan anak menu Scrambled Egg yang Fluffy dan Lembut, dijamin si Kecil bakal suka!

Namun alergi telur bisa juga menetap hingga usia dewasa, sehingga penderita harus tetap menghindari atau membatasi konsumsi telur, misalnya mengonsumsi protein telur dalam bentuk yang dipanggang secara ekstensif.

Baca juga: 5 Manfaat Telur Bagi Bumil dan Tips Aman Mengonsumsinya

Alergi Telur Bersifat Genetik?

Salah satu faktor risiko terkuat dalam kasus alergi adalah faktor genetik. Orang tua yang memiliki riwayat penyakit alergi pasti akan menurunkan pada anak-anaknya, baik dalam jenis alergi yang sama maupun tidak.

Anak yang mengidap alergi telur juga berisiko alergi lainnya, seperti dermatitis atopik (eksim), asma, alergi debu, alergi bulu binatang, alergi susu, dan sebagainya.

Alergi Harus Dibuktikan Lewat Tes?

Menderita ruam kemerahan belum tentu karena alergi telur, Bun. Untuk mengetahui dengan pasti apakah si Kecil menderita alergi telur atau tidak, periksakan ke dokter.

Pertama, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan keluarga. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, yaitu mengecek tanda-tanda alergi yang muncul pada tubuh anak. Setelah itu, dokter akan melakukan tes alergi yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya tes darah dan tes tusuk kulit (skin prick test).

Setelah terbukti mengidap alergi telur, dokter akan menganjurkan pola makan yang tepat untuk penderita. Bagi bayi yang masih menyusu, ibunya akan diminta untuk menghindari telur dan berbagai produk turunannya karena kandungan telur dapat masuk ke dalam ASI.

Ruam kemerahan pada kulit adalah salah satu gejala umum alergi telur. | Shutterstock

Asap Masakan Menyebabkan Alergi Telur?

Betul, Bun! Dokter spesialis anak konsultan alergi imunologi, Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K) menjelaskan bahwa anak yang alergi telur bisa terpapar alergen bukan hanya dari makanan yang dikonsumsinya, melainkan mengalami sensitisasi melalui kulit.

“Misalnya bayi digendong sambil ibunya menggoreng telur di dapur, maka asapnya akan menempel di kulit, dan justru alergennya diserap tubuh lebih banyak dibanding memakan telur langsung yang masih melalui enzim-enzim pencernaan,” terang Prof Zaki.

Alergen tersebut kemudian dibawa oleh sel-sel APC (sel penyaji antigen) ke sel T (sel yang mengontrol respons sistem imun) membentuk IgE spesifik (antibodi yang berperan dalam proses terjadinya gejala alergi).

“Maka ketika bayi pertama kali makan telur bisa timbul gejala alergi karena sudah kontak dengan asapnya sebelumnya. Jadi, hati-hati bagi orang tua yang punya riwayat alergi tinggi, anaknya jangan sering-sering dibawa ke dapur saat memasak karena bisa menimbulkan sensitisasi,” papar Prof Zaki.

Baca juga: Buat Anak, Lebih Sehat Telur Ayam atau Telur Puyuh? 

Vaksin Bisa Mengandung Protein Telur?

Selain produk makanan atau minuman, protein telur juga bisa terkandung dalam berbagai produk kosmetika, obat-obatan, dan juga vaksin. Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa vaksin yang mengandung sedikit protein telur adalah vaksin influenza, MMR (measles, mumps, rubella), dan demam kuning.

Namun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah menegaskan bahwa anak dengan alergi telur tetap bisa mendapatkan vaksin influenza karena kandungan protein telur dalam vaksin sangat sedikit.

Agar lebih aman, sebaiknya informasikan riwayat alergi anak pada tenaga kesehatan sebelum divaksin.

 

Terpenting, hindari self-diagnose ya, Bun. Apalagi sampai membatasi asupan makanan anak. Segera konsultasikan pada dokter jika ditemukan gejala-gejala alergi pada anak.

 

Sumber:

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/egg-allergy/symptoms-causes/syc-20372115

https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/food/egg/

https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/25086-egg-allergy

https://nutriciaprofessional.id/e-cme/webinar#

 

Penulis Ratih Sukma Pertiwi
Editor Ratih Sukma Pertiwi