What it’s like to be a parent: It’s one of the hardest things you’ll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love.
Nicholas Sparks

Mengapa Si Kecil Suka Menonton Film atau Membaca Buku yang Sama Berulang Kali?

author
Ruth Sinambela
Jumat, 13 Januari 2023 | 09:58 WIB
Membacakan Buku Apapun akan Memberi Banyak Manfaat untuk Perkembangan Kognitif dan Mental Anak | Shutterstock

Bunda pasti sering berhadapan dengan situasi dimana si kecil selalu mengajak Bunda untuk menyanyikan lagu yang sama, menonton film atau kartun yang itu-itu lagi, hingga dibacakan buku yang sama berulang kali bukan?

Sabar ya, Bun. Karena ternyata repetisi atau pengulangan tersebut merupakan salah satu bagian dari proses belajar anak yang sangat penting di dalam proses tumbuh kembangnya, lho. Sehingga wajar saja apabila si kecil selalu menonton film atau kartun yang sama berulang-ulang, memainkan permainan yang sama, hingga menanyakan hal yang itu-itu lagi pada Bunda.

Baca Juga: Ingin Melatih Ketangkasan, Fokus, dan Motorik Anak? Coba 3 Kegiatan Ini, Bun

Lain kali kalau Bunda menemukan atau melihat hal ini, jangan sampai Bunda melarang atau memarahinya, ya. Selain bisa mengganggu proses belajar anak, apabila Bunda melarang si kecil mengulang-ulang sesuatu, maka berarti Bunda tak membantunya belajar dan berkembang.

Sejak kapan anak mulai menyukai repetisi?

Rupanya preferensi ini sudah mulai dikembangkan saat si kecil masih berbentuk janin di dalam rahim lho, Bun.

Melansir dari Psychology Today, kecenderungan ini memang mulai berkembang sebelum bayi lahir di trimester ketiga kehamilan. Pada awalnya janin akan mulai bisa merasakan, mencium, juga mendengar. Hingga nantinya hal ini akan terus dikembangkan oleh buah hati Bunda setelah lahir, misalnya saja saat ia mulai mencari dan menikmati ASI.

Membacakan buku atau cerita yang sama berulang kali merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi anak, Bun | Shutterstock

Kelak saat ia telah mengenal makanan pendamping ASI (mpasi) pun, kecenderungan untuk mengulang akan dilakukannya dalam memilih makanan.

Selain itu, janin juga mengembangkan preferensi untuk suara-suara yang akrab, seperti suara ibu, bahasa, atau bahkan musik juga cerita yang sudah dikenalnya sejak masih di kandungan. Kebiasaan ini pun akan berlanjut setelah ia lahir. 

Baca Juga: Rekomendasi Mainan untuk Menemani Si Kecil Mandi

Tak berhenti sampai di situ, dalam setiap tahap tumbuh kembang anak akan selalu ada hal lain lagi yang akan membuatnya ingin mengulang dan menikmatinya berulang kali, Bun.

Manfaat repetisi atau pengulangan bagi si kecil

  • Melakukan hal yang sama berulang kali akan membantu anak untuk belajar dan membantu tumbuh kembangnya 
  • Anak akan berpegang teguh pada kebiasaan yang konsisten, salah satunya dengan mengajukan pertanyaan berulang, terbukti dapat membantu si kecil merasa aman.
  • Membantu anak untuk memahami dunia.
  • Anak-anak akan mengulangi suatu hal sampai merasa cukup sebelum belajar hal baru lagi.
  • Anak akan menemukan kenyamanan dari mengulangi pertanyaan.
  • Hal ini juga dapat mengurangi kecemasan dan membantu mereka mengembangkan kepercayaan.

Jangan bosan-bosan menemani dan ikut bermain bersama si kecil ya, Bun | Shutterstock

Menimbang kecenderungan anak untuk melakukan suatu hal berulang kali, maka Bunda bisa lho menerapkannya sebagai pola asuh dalam mengajarkan kebaikan-kebaikan pada mereka. Dengan mengulangnya terus-menerus bahkan para ilmuwan setuju kalau hal tersebut akan memberi efek atau dampak yang baik bagi anak.

Baca Juga: Tertawa Ternyata Bermanfaat untuk Perkembangan Otak Bayi, Bun!

Namun sejalan dengan itu, Bunda juga harus mengawasi dan mewaspadai faktor-faktor yang dapat membuat si kecil mengalami dampak buruk, ya. Misalnya saja ketika anak tidak mendapat pengawasan dan menonton tayangan yang tidak sesuai umurnya berulang kali.

Sudah tentu hal tersebut dapat mempengaruhi karakter dan kebiasaan anak, Bun. Karena itulah, pengawasan Bunda akan tontonan dan pergaulan anak tentu masih sangat dibutuhkan hingga si kecil mampu memilah mana yang baik dan tidak bagi dirinya sendiri.

Penulis Ruth Sinambela
Editor Ratih Sukma Pertiwi